Menerobos Burnout: Mengapa Generasi Muda Membutuhkan Ruang Kerja yang Lebih Manusiawi?
Gaya Hidup | 2026-10-14 12:49:25
Pukul sebelas malam, layar laptop masih menyala, tugas kuliah menumpuk, dan ponsel terus bergetar oleh notifikasi grup kerja. Pemandangan ini akrab bagi mahasiswa yang bekerja, juga bagi banyak pekerja muda lain. Ini bukan sekadar kisah perorangan. Riset Jobstreet by SEEK mencatat 43 persen pekerja Indonesia mengalami burnout, dengan Gen Z termasuk kelompok paling rentan. Burnout bukan tanda lemahnya mental individu, melainkan bukti bahwa budaya kerja kita telah lama gagal dirancang dengan benar.
Kegagalan itu terlihat pertama pada batas kerja yang kabur. Jam kerja di kontrak berakhir sore hari, tetapi jam kerja yang sebenarnya berlanjut lewat ponsel. Work-life balance tercatat sebagai salah satu dari dua pendorong kebahagiaan kerja yang paling tidak memuaskan bagi Gen Z. Tidak ada yang memerintahkan karyawan membalas pesan larut malam, cukup ekspektasi yang tak pernah diucapkan. Akibatnya, istirahat berubah menjadi jeda antartugas, bukan waktu pemulihan yang utuh.
Hustle culture memperparahnya karena bekerja sebagai indikator kinerja tak tertulis. Tidak ada perusahaan yang menulis “lembur adalah ukuran prestasi” di pedomannya, tetapi peluang promosi kerap jatuh pada mereka yang tampak paling sibuk. Dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026, 35 persen responden merasa ditekan untuk terus meningkatkan keterampilan, dan 30 persen menyebut ketidakpastian pekerjaan sebagai alasan burnout. Dalam sistem seperti itu, pekerja yang meniru budaya sibuk sedang bersikap rasional. Burnout dengan demikian lahir dari insentif yang keliru, bukan dari karakter yang rapuh.
Posisi tawar yang lemah menjaga lingkaran ini tetap berputar. Kebahagiaan kerja Gen Z hanya 76 persen, di bawah milenial (84 persen) dan Gen X (85 persen). Namun, jumlah pencari kerja jauh melampaui lapangan kerja, sehingga banyak pekerja muda memilih bertahan walau tidak sepenuhnya bahagia. Bertahan tidak sama dengan sejahtera. Perusahaan yang membaca tingginya retensi sebagai tanda budaya kerja yang sehat bisa salah menilai, sebab sebagian karyawan bertahan hanya karena tidak punya pilihan.
Sebagian pihak mungkin menilai persoalan ini sebagai kemanjaan generasi muda. Argumen itu mengabaikan sisi biayanya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan pada 2022 bahwa depresi dan kecemasan menghilangkan sekitar 12 miliar hari kerja per tahun secara global, dengan kerugian sekitar satu triliun dolar AS. Saya belum menemukan angka khusus Indonesia, jadi data ini hanya menggambarkan besarnya persoalan. Logikanya tetap jelas: karyawan yang kelelahan bekerja kurang efektif, lebih sering absen, dan lebih mudah pergi. Perusahaan yang membiarkan burnout sebenarnya sedang membuang anggaran secara diam-diam.
Solusi pertama adalah batas kerja yang tegas lewat prinsip right to disconnect. Pesan yang tidak mendesak cukup dijadwalkan terkirim pada jam kerja, sedangkan urusan darurat memakai jalur khusus yang disepakati. Aturan ini hanya efektif jika pimpinan memberi contoh. Larangan akan sia-sia bila atasan sendiri mengirim pesan tengah malam.
Solusi kedua adalah menilai hasil, bukan jam duduk. Atasan menetapkan target yang terukur, lalu memberi kebebasan memilih cara mencapainya. Cara ini juga menjawab temuan Jobstreet bahwa Gen Z sering tidak melihat dampak tugas hariannya terhadap tujuan perusahaan. Pemimpin perlu menjelaskan kaitannya dan menghargai capaian kecil, bukan hanya hasil besar.
Solusi ketiga adalah dukungan kesehatan mental yang bisa diukur, bukan sekadar imbauan “jaga kesehatan” di grup obrolan. Atasan perlu dilatih mengenali tanda kelelahan, jadwal dibuat lebih fleksibel, dan karyawan diberi ruang aman untuk bicara tanpa dicap lemah. Keberhasilannya dapat dipantau lewat angka turnover, absensi, dan survei kepuasan karyawan secara berkala. Prinsip serupa layak diterapkan di kampus bagi mahasiswa yang bekerja, misalnya lewat tenggat yang lebih lentur.
Memanusiakan pekerja bukan kemanjaan, melainkan investasi dengan hitungan yang masuk akal. Perusahaan yang melakukannya menukar kelelahan sesaat dengan produktivitas yang bertahan lama. Bagi manajer, ini berarti berhenti memuji kelelahan sebagai dedikasi. Bagi pekerja, ini berarti berani menyebut batas diri sebelum tubuh yang menyebutnya lebih dulu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
