Meneladani Rasulullah : Merawat Tradisi Ilmu, Dakwah, dan Pendidikan Keluarga
Agama | 2026-10-14 09:07:29
SLEMAN — Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ tidak semata-mata menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga kesempatan untuk menelaah kembali sīrah nabawiyyah (sejarah perjalanan hidup Nabi) dan mengambil pelajaran darinya bagi kehidupan umat Islam. Dari perjalanan dakwah beliau, umat dapat mempelajari bagaimana ilmu ditumbuhkan, masyarakat dibangun, dan keluarga ditempatkan sebagai fondasi peradaban.
Semangat itulah yang melatarbelakangi kajian bertajuk “Telaah Siroh melalui Berbagai Tokoh” yang diselenggarakan Pondok Indonesia Quran Center (IQC) pada Sabtu, 5 September 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Serambi Peradaban Forum, Pondok IQC, dan Alfuwisdom dalam rangka memperingati bulan Maulid Rasulullah ﷺ.
Kajian tersebut menghadirkan tiga pemateri, yakni Ustaz Alvin Qodri Lazuardy, Ustaz M. Jundi Rabbani, dan Ustaz M. Fajar Nur Rachmat. Masing-masing mengangkat tema yang saling berkaitan, mulai dari sejarah tradisi keilmuan Islam, karakteristik dakwah Rasulullah ﷺ melalui pemikiran Mohammad Natsir, hingga pendidikan keluarga berdasarkan pemikiran Dr. Adian Husaini.
Melalui ketiga bahasan tersebut, kegiatan ini berupaya menghubungkan keteladanan Rasulullah ﷺ dengan kebutuhan umat Islam dalam mengembangkan pendidikan, memperkuat dakwah, dan membangun kehidupan keluarga di tengah perubahan zaman.
Menelusuri Akar Tradisi Keilmuan Islam
Materi pertama disampaikan Ustaz Alvin Qodri Lazuardy dengan tema lahirnya tradisi keilmuan Islam. Pembahasan berfokus pada bagaimana Rasulullah ﷺ membangun fondasi pendidikan dan masyarakat berilmu, terutama pada masa awal kehidupan umat Islam di Madinah.
Salah satu aspek yang disoroti ialah keberadaan Aṣḥāb al-Ṣuffah (para sahabat yang tinggal di serambi Masjid Nabawi). Kelompok sahabat ini memiliki kedekatan dengan masjid dan menjadi bagian dari kehidupan pembelajaran pada masa Rasulullah ﷺ. Keberadaan mereka memperlihatkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga menjadi ruang pembinaan, pendidikan, dan penguatan hubungan sosial.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa ilmu menempati posisi mendasar dalam pembentukan peradaban Islam. Pendidikan tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan, tetapi turut membentuk kepribadian, orientasi hidup, dan tanggung jawab sosial seorang Muslim.
Dalam kerangka itu, ‘ilm (ilmu pengetahuan) perlu berjalan beriringan dengan adab (tata perilaku dan pengenalan terhadap kedudukan sesuatu secara tepat). Penguasaan ilmu semestinya melahirkan amal, sedangkan amal yang dilandasi pemahaman yang benar diharapkan membawa kemaslahatan bagi kehidupan bersama.
Menelaah tradisi keilmuan pada masa Rasulullah ﷺ dengan demikian bukan sekadar mengenang lembaga pendidikan pada masa lalu. Lebih dari itu, umat Islam diajak memahami kembali tujuan pendidikan, yakni membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjalankan amanahnya sebagai hamba Allah sekaligus anggota masyarakat.
Dakwah yang Bertahap dan Berlandaskan Hikmah
Materi kedua disampaikan Ustaz M. Jundi Rabbani yang membahas karakteristik dakwah Rasulullah ﷺ dengan menelaah pemikiran Mohammad Natsir. Salah satu pokok bahasannya ialah pentingnya pendekatan dakwah yang bertahap, berlandaskan ilmu, dan dilaksanakan dengan keikhlasan.
Dalam tradisi Islam, prinsip bertahap dikenal dengan istilah tadarruj (proses yang berlangsung secara berangsur-angsur). Prinsip ini mengingatkan bahwa perubahan manusia tidak selalu dapat dicapai melalui pendekatan yang serba cepat. Pemahaman, penerimaan, dan pembentukan kebiasaan membutuhkan proses yang mempertimbangkan keadaan orang yang menjadi sasaran dakwah.
Karena itu, dakwah tidak cukup hanya mengandalkan semangat menyampaikan kebenaran. Seorang dai perlu memahami keadaan masyarakat, karakter pendengar, persoalan yang mereka hadapi, serta cara komunikasi yang sesuai. Di sinilah pentingnya ḥikmah (kebijaksanaan), yakni kemampuan menempatkan pesan, cara, dan waktu penyampaian secara tepat tanpa mengabaikan prinsip kebenaran.
Prinsip tersebut sejalan dengan Surah an-Naḥl ayat 125, yang memerintahkan umat Islam untuk menyeru manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Dakwah juga memerlukan ikhlāṣ (kemurnian niat karena Allah), sehingga aktivitas mengajak kepada kebaikan tidak semata-mata berorientasi pada pengakuan, popularitas, atau kemenangan dalam perdebatan.
Pembahasan ini menegaskan bahwa keberhasilan dakwah tidak selalu dapat diukur dari hasil yang segera terlihat. Perubahan cara berpikir, pembentukan karakter, dan tumbuhnya kesadaran beragama sering kali membutuhkan waktu panjang. Dakwah merupakan ikhtiar berkelanjutan yang memerlukan kesungguhan, kesabaran, dan kemampuan membaca keadaan masyarakat.
Keluarga sebagai Poros Peradaban
Materi ketiga disampaikan Ustaz M. Fajar Nur Rachmat dengan mengangkat tema pendidikan keluarga melalui pemikiran Dr. Adian Husaini. Pembahasan ini menempatkan keluarga sebagai lingkungan awal pembentukan kepribadian dan penanaman nilai-nilai kehidupan.
Sebelum seorang anak berinteraksi lebih jauh dengan sekolah, masyarakat, dan dunia digital, keluarga telah menjadi lingkungan pertama yang memperkenalkannya kepada bahasa, kebiasaan, keyakinan, dan cara memandang kehidupan. Karena itu, pendidikan keluarga bukan sekadar pelengkap pendidikan formal, melainkan bagian mendasar dari proses pembentukan manusia.
Dalam perspektif Islam, tanggung jawab tersebut berkaitan dengan amanah orang tua untuk mendidik dan membimbing anak. Surah at-Taḥrīm ayat 6 mengingatkan orang-orang beriman agar menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Ayat ini menjadi landasan penting bagi kesadaran bahwa pendidikan anak mencakup pembinaan iman, ibadah, akhlak, dan tanggung jawab moral.
Tantangan keluarga masa kini semakin kompleks seiring perkembangan teknologi informasi, perubahan gaya hidup, dan beragam nilai yang beredar melalui media digital. Dalam keadaan demikian, orang tua tidak cukup hanya memberikan larangan. Mereka perlu membangun komunikasi, menyediakan teladan, mendampingi proses belajar, dan membantu anak mengembangkan kemampuan menilai informasi secara kritis.
Upaya menjaga anak dari pengaruh yang bertentangan dengan wahyu perlu dijalankan melalui pendidikan yang bijaksana. Anak perlu dibekali pemahaman agama yang kuat sekaligus kemampuan menghadapi kenyataan kehidupan. Dengan demikian, keluarga dapat menjadi tempat tumbuhnya keyakinan yang kokoh, pikiran yang terbuka terhadap ilmu, dan akhlak yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Keluarga, dalam pengertian ini, merupakan unit terkecil yang memiliki pengaruh besar terhadap arah peradaban. Perubahan sosial yang berkelanjutan membutuhkan manusia yang dibentuk melalui pendidikan yang baik, dan pendidikan itu bermula dari rumah.
Menguatkan Ilmu, Hikmah, dan Tazkiyah
Ketiga materi dalam kajian tersebut memperlihatkan hubungan erat antara tradisi keilmuan, dakwah, dan pendidikan keluarga. Ketiganya saling menopang dalam membangun kehidupan umat. Tradisi ilmu menyediakan landasan pemahaman, dakwah menjadi jalan penyampaian dan pengamalan nilai, sedangkan keluarga menjadi ruang penting bagi penanaman nilai sejak dini.
Dalam menghadapi kehidupan modern, umat Islam perlu menghidupkan kembali ‘ilm (ilmu), ḥikmah (kebijaksanaan), dan tazkiyah (penyucian jiwa). Ilmu membantu manusia memahami persoalan secara benar. Hikmah membimbingnya menentukan sikap dan tindakan yang tepat. Sementara itu, tazkiyah mengarahkan manusia untuk memperbaiki niat, membersihkan hati, dan mengendalikan kecenderungan diri yang dapat menjauhkannya dari kebenaran.
Ketiga prinsip tersebut penting ketika kehidupan modern kerap mendorong manusia mengukur keberhasilan melalui kecepatan, capaian yang terlihat, dan pengakuan publik. Pendidikan dan dakwah justru menuntut kesabaran, konsistensi, serta kesediaan menjalani proses panjang. Tidak semua perubahan dapat segera dinilai dari hasil yang tampak, sebab sebagian pengaruh pendidikan baru terlihat ketika seseorang menghadapi persoalan nyata dalam kehidupannya.
Pada bagian akhir kajian, para pemateri menegaskan bahwa perjuangan dakwah dan pendidikan bukanlah perkara kemenangan instan. Perubahan perlu dimulai dari diri sendiri, dilanjutkan dalam keluarga, kemudian dikembangkan melalui lingkungan pendidikan dan masyarakat. Semangat ini sejalan dengan pesan Surah ar-Ra‘d ayat 11 bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.
Penutup
Kajian “Telaah Siroh melalui Berbagai Tokoh” menjadi ruang refleksi untuk memperingati Maulid Rasulullah ﷺ melalui pembacaan sejarah, pemikiran, dan tantangan pendidikan umat Islam. Kolaborasi Serambi Peradaban Forum, Pondok Indonesia Quran Center, dan Alfuwisdom mempertemukan tiga pokok bahasan yang relevan bagi pengembangan tradisi ilmu, penguatan dakwah, dan pembentukan keluarga Islami.
Peringatan Maulid Rasulullah ﷺ memperoleh makna yang lebih luas ketika diikuti usaha memahami dan menghidupkan keteladanan beliau. Mencintai Rasulullah tidak berhenti pada ungkapan lisan atau perayaan seremonial, tetapi diwujudkan melalui kesungguhan menuntut ilmu, kebijaksanaan dalam berdakwah, dan tanggung jawab mendidik keluarga.
Dari Madinah, umat belajar membangun tradisi ilmu. Dari perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, umat belajar tentang kesabaran dan hikmah. Dari keluarga, umat belajar bahwa peradaban tidak lahir dalam sekejap, melainkan tumbuh melalui pendidikan yang berkelanjutan.
Melalui semangat tersebut, kajian Maulid di Pondok IQC mengingatkan bahwa membangun peradaban Islam bukan hanya pekerjaan lembaga besar atau tokoh terkemuka. Ia juga bermula dari ruang belajar, majelis ilmu, percakapan di rumah, dan kesediaan setiap Muslim untuk memperbaiki diri serta memberikan manfaat bagi sesama. ***
Kajian Maulid Rasulullah ﷺ bertajuk “Telaah Siroh melalui Berbagai Tokoh” diselenggarakan pada Sabtu, 5 September 2026, di Pondok Indonesia Quran Center (IQC), Bendosari, Madurejo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Serambi Peradaban Forum, Pondok IQC, dan Alfuwisdom dengan menghadirkan tiga pemateri, yakni Ustaz Alvin Qodri Lazuardy yang membahas lahirnya tradisi keilmuan Islam, Ustaz M. Jundi Rabbani yang mengulas karakteristik dakwah Rasulullah ﷺ dalam pemikiran Mohammad Natsir, serta Ustaz M. Fajar Nur Rachmat yang mengangkat pendidikan keluarga berdasarkan pemikiran Dr. Adian Husaini. Kajian ini bertujuan memperdalam pemahaman tentang sīrah nabawiyyah (sejarah perjalanan hidup Nabi), menguatkan tradisi keilmuan Islam, merefleksikan prinsip dakwah, dan meneguhkan peran keluarga dalam pendidikan umat. Melalui kegiatan ini, peserta diajak menyadari pentingnya ‘ilm (ilmu), ḥikmah (kebijaksanaan), ikhlāṣ (kemurnian niat), dan tazkiyah (penyucian jiwa) sebagai landasan membangun peradaban Islam yang berakar pada keteladanan Rasulullah ﷺ.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
