Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rut Sri Wahyuningsih

Tak Cukup Empati, Saatnya Ganti Sistem

Politik | 2026-10-14 08:06:11

Setelah artis Maudy Maudy meminta maaf atas kontennya yang menjelaskan bagaimana cara mengelola kecemasan di tengah derasnya berita buruk, netizen justru menganggap sarannya dengan terlalu menyederhanakan masalah struktural menjadi sekadar urusan stres personal.
Konten penyanyi “perahu kertas” ini dinilai tone-deaf (kurang peka) karena bagi banyak masyarakat terhadap masalah seperti kenaikan harga, bencana, atau krisis lingkungan. Semua bukanlah berita yang bisa dihindari, melainkan realitas hidup yang harus dihadapi setiap hari oleh masyarakat kita.

Seolah tidak belajar dari apa yang menimpa Maudy, Maia mantan istri Ahmad Dani juga mendapatkan kritikan akibat unggahannya. Maia menggunakan perumpamaan kerja keras seseorang dengan seekor burung liar, ia meyakini semua mahluk hidup rejekinya ditanggung Allah itu benar, tapi jika burung itu malas terbang tentu tidak dapat makanan juga.

Maia menegaskan, jika kita hidupnya kurang banyak uang, artinya harus lebih ikhtiar lagi bekerja seperti burung yang terbang sana sini mencari makanan, jika malas maka rejeki seret, lebih seret jika tidak pernah bersedekah baik dengan uang atau tenaga. Inilah edisi tone-deaf kedua, sama-sama menunjukkan ketidakpekaan terhadap persoalan sesungguhnya masyarakat di sekitarnya.

Konten kreator Jerome Polin justru membalik pernyataan itu dengan mendorong semua lebih berempati terhadap orang yang hingga kini meski sudah bekerja keras namun tetap miskin. Karena ia banyak melihat orang bekerja sedemikian keras, serabutan tapi kondisi ekonominya tetap tak ada perubahan (Gedflip,13-10-2026).

Kapitalisme Lahirkan Manusia Individualis


Sebetulnya bukan hanya publik figur yang tone-deaf, tidak peka bahkan menjustifikasi kemiskinan dan kebodohan berawal dari kemalasan. Semakin susah ekonomi ini justru jumlah mereka bertambah, entah sebagai konten maupun luapan kegelisahan karena merasa terancam.

Tak heran, karena para pejabat di negeri ini juga telah kehilangan kepekaannya, mereka flexing kekayaan, korupsi di saat jabatan ada di tangan, lambatnya penanganan berbagai bencana di negeri ini, hingga menghambur-hamburkan anggaran APBN untuk program yang tak guna, sebut saja MBG.

Rakyat terus dipungut pajak, namun hak-haknya perlahan tapi pasti terus diberangus atas nama efisiensi dan yang terbaru itungan desil. Mereka yang kaya dari kalangan parlemen masuk desil 1-5 yang wajib mendapatkan bansos, sedangkan seorang ibu yang hidup di kontrakan sehari Rp20.000, didata memiliki aset senilai 1 miliar otomatis tidak berhak mendapat bansos.

Memang benar, rezeki dijamin Allah SWT. Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”(TQS Adz-Dzariyat:58). Namun manusia tetap diminta berusaha sebagaimana hukum sebab akibat. Bahkan Allah melapangkan rezeki atau menyempitkan kepada siapa saja sebagaimana firman Allah yang artinya, “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki) baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(TQS Al-Ankabut:62). Tetap saja hukum sebab akibat berlaku, walaupun adakalanya tanpa berusaha pun rezeki tetap mendatanginya. Masalahnya, fakta hari ini miskin bukan lagi sekadar miskin. Karena dengan pinjaman riba setiap orang bisa memiliki rumah, mobil, handphone dan lainnya. Tak sedikit pula yang meski sudah bekerja di lebih dari satu bidang namun penghasilannya tetap tak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Artinya faktor penentu mereka miskin bukan sekedar “Rizki milik Allah” tapi ada sistem aturan yang membuat setiap orang tidak memiliki akses samasekali terhadap faktor-faktor ekonomi, bisa karena tarif pajak yang dipungut dari apapun, harga BBM yang mengikuti harga dunia padahal kita kaya, sistem perekrutan kerja yang menggunakan sistem kontrak dengan gaji kecil, mahalnya berbagai kebutuhan pokok dan lainnya.

Artinya, ada sistem yang mengatur semua pemenuhan kebutuhan dasar manusia agar berfokus pada satu atau dua orang saja. Mereka berkuasa, bahkan bisa mempengaruhi regulasi negara jauh sebelum disahkan menjadi undang-undang. Orang-orang inilah yang dekat dengan pemerintahan, mengatur urusan negara hanya demi kepentingan pribadi mereka terlindungi. Mereka memiliki jaringan luas, terkoneksi dengan banyak komunitas dan lembaga.

Yang jelas, makna sejahtera bukan semata dari banyaknya materi yang dimiliki, tapi kemudahan berbagai akses kebutuhan dasar manusia dan sekaligus kemudahan beribadah. Sistem hari ini jelas tidak bisa karena kapitalisme asasnya sekuler atau memisahkan agama dari kehidupan. Kapitalisme juga membatasi peran negara hanya sekadar regulator kebijakan. Seringkali mengatakan negara rugi ketika melayani rakyatnya, sementara kepada para oligarki dan investor begitu takzim.

Pengaturan Islam Untuk Kemaslahatan dan Keadilan

Sepanjang sejarah peradaban Islam yang terbentang dari Spanyol (Andalusia) di Eropa Barat serta Maroko di Afrika Utara sampai ke perbatasan Tiongkok di Asia Timur selama 1300 tahun adalah peradaban cemerlang tiada banding hingga hari ini. Kekayaan alam yang berlimpah dari setiap wilayahnya memberikan kesejahteraan luar biasa, negara amanah mengelola, menyimpannya di baitul mal untuk dibagikan sesuai kebutuhan rakyatnya.

Will Durant adalah seorang sejarahwan barat memuji kesejahteraan negara Khilafah. Dalam buku yang ia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, ia mengatakan:“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”.

Jelaslah, persoalannya ada pada sistem aturan apa yang diterapkan sehingga kesejahteraan itu bisa benar-benar terwujud. Allah SWT. berfirman yang artinya,” Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(TQS Al Madinah:50). Wallahualam bissawab.


Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image