Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Maratus Sholikah

Kita Merayakan UMKM, Tetapi Lupa Bertanya Mengapa Semua Orang Harus Berdagang

Bisnis | 2026-11-05 16:00:31
Menjamurnya usaha kuliner seperti seblak, cilok, dan gorengan mencerminkan semangat kewirausahaan masyarakat sekaligus memunculkan pertanyaan tentang keterbatasan lapangan kerja dan tantangan ekonomi. (Ilustrasi: AI)

Indonesia tampaknya sedang memasuki zaman ketika hampir semua orang memiliki usaha. Tetangga membuka warung seblak, teman sekolah menjual dimsum, mantan rekan kerja menawarkan frozen food, sementara grup WhatsApp keluarga berubah menjadi etalase dagangan. Dari cilok hingga gorengan, dari minuman kekinian hingga makanan pedas berlevel, kreativitas masyarakat seolah tidak pernah kehabisan ide.

Kita menyebut fenomena ini sebagai kebangkitan UMKM. Pemerintah mendorong kewirausahaan, media sosial mempromosikan kisah sukses pengusaha kecil, dan masyarakat semakin akrab dengan slogan bahwa siapa pun bisa menjadi bos bagi dirinya sendiri.

Tentu tidak ada yang salah dengan semangat tersebut. Usaha mikro, kecil, dan menengah merupakan bagian penting dari perekonomian Indonesia. Sektor ini menyediakan lapangan pekerjaan, menggerakkan perdagangan lokal, dan membantu banyak keluarga mempertahankan penghasilan.

Namun, di tengah perayaan itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: apakah semakin banyak orang berdagang karena peluang usaha semakin menjanjikan, atau karena pilihan pekerjaan yang layak semakin terbatas?

Sebab, tidak semua orang membuka usaha karena bercita-cita menjadi pengusaha. Sebagian mungkin hanya sedang berusaha agar dapurnya tetap mengepul.

Ketika Menjadi Pengusaha Bukan Lagi Pilihan

Dalam bayangan ideal, seseorang memulai usaha karena melihat peluang pasar, memiliki inovasi, atau ingin mengembangkan kemampuan bisnis. Ia menyusun rencana, menghitung modal, mempelajari konsumen, lalu membangun usaha secara bertahap.

Namun, kenyataan tidak selalu berjalan demikian.

Ada pekerja yang kehilangan pekerjaan lalu mencoba berjualan makanan. Ada lulusan perguruan tinggi yang belum memperoleh pekerjaan sesuai keahliannya dan akhirnya membuka usaha kecil. Ada pula orang tua yang memulai bisnis rumahan karena penghasilan keluarga tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Bagi kelompok tersebut, berwirausaha bukan semata-mata pilihan karier, melainkan strategi bertahan hidup.

Dalam kajian kewirausahaan, fenomena ini dikenal sebagai necessity entrepreneurship, yaitu kegiatan usaha yang muncul karena keterbatasan alternatif pekerjaan atau sumber pendapatan.

Berbeda dengan opportunity entrepreneurship, yang lahir karena seseorang melihat peluang bisnis, kewirausahaan karena kebutuhan sering dimulai dengan modal terbatas, persiapan sederhana, dan risiko yang relatif besar bagi kondisi keuangan keluarga.

Keduanya sama-sama layak mendapat penghargaan. Namun, menyamakan seluruh kegiatan usaha sebagai bukti keberhasilan ekonomi dapat membuat kita mengabaikan persoalan yang melatarbelakanginya.

Republik Tepung dan Persaingan yang Semakin Padat

Cobalah berjalan menyusuri kawasan permukiman atau jalan dekat sekolah. Kita mungkin menemukan beberapa penjual seblak, cilok, cireng, bakso aci, dan aneka gorengan dalam jarak yang tidak terlalu jauh.

Fenomena ini menarik karena banyak usaha makanan tersebut memiliki hambatan masuk yang relatif rendah. Bahan bakunya mudah diperoleh, proses pembuatannya dapat dipelajari, dan modal awalnya tidak selalu membutuhkan investasi besar.

Bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan modal, usaha kuliner sederhana menjadi salah satu pilihan yang masuk akal.

Namun, kemudahan memulai usaha tidak selalu berarti kemudahan memperoleh keuntungan.

Ketika semakin banyak pedagang menawarkan produk serupa kepada kelompok konsumen yang sama, persaingan menjadi semakin ketat. Pedagang harus berhadapan dengan harga bahan baku, biaya kemasan, sewa tempat, dan perubahan selera pembeli.

Belum lagi tekanan untuk menjual dengan harga murah agar pelanggan tidak berpindah ke lapak sebelah.

Seblak yang dijual Rp10.000 bukan berarti menghasilkan keuntungan Rp10.000. Ada biaya bahan, energi, kemasan, tenaga, dan waktu yang harus diperhitungkan.

Sayangnya, tidak semua pelaku usaha mikro memiliki kesempatan untuk menghitung seluruh biaya tersebut secara terperinci.

Akibatnya, seseorang bisa merasa telah menjalankan usaha sepanjang hari, tetapi memperoleh penghasilan bersih yang jauh lebih kecil daripada perkiraannya.

Di sinilah kita perlu membedakan antara banyaknya orang yang berdagang dan meningkatnya kesejahteraan para pedagang.

Kalau Semua Orang Berjualan, Siapa yang Membeli?

Pertanyaan ini terdengar seperti lelucon, tetapi menyimpan persoalan ekonomi yang serius.

Bayangkan sebuah lingkungan yang sebagian besar penduduknya membuka usaha makanan kecil. Satu rumah menjual gorengan, rumah lainnya menjual seblak, sementara beberapa rumah berikutnya menawarkan jajanan serupa.

Selama masyarakat memiliki pendapatan yang memadai, kegiatan perdagangan tersebut dapat saling mendukung.

Namun, apabila daya beli melemah, para pedagang justru harus memperebutkan konsumen dengan kemampuan belanja yang terbatas.

Meningkatnya jumlah penjual tidak otomatis menciptakan peningkatan permintaan.

Dalam kondisi tertentu, persaingan bahkan dapat mendorong penurunan harga hingga keuntungan usaha semakin tipis.

Karena itu, pertumbuhan jumlah UMKM perlu dibaca bersama indikator lainnya, seperti produktivitas, pendapatan bersih, keberlangsungan usaha, serta kemampuan masyarakat memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak.

Tanpa memperhatikan indikator tersebut, kita berisiko terlalu cepat menyimpulkan bahwa banyaknya usaha baru selalu mencerminkan perekonomian yang semakin sehat.

UMKM Tidak Seharusnya Menjadi Jawaban untuk Semua Persoalan

Dukungan terhadap UMKM tentu penting. Pelatihan kewirausahaan, akses pembiayaan, digitalisasi pemasaran, dan pendampingan usaha dapat membantu pelaku usaha meningkatkan daya saing.

Namun, kebijakan ekonomi tidak seharusnya berhenti pada ajakan agar masyarakat terus membuka usaha.

Tidak semua orang memiliki minat, kemampuan, atau kondisi yang memungkinkan mereka menjadi pengusaha. Sebagian orang lebih cocok bekerja sebagai teknisi, peneliti, guru, tenaga kesehatan, pekerja industri, atau profesional di bidang lainnya.

Masyarakat membutuhkan pilihan pekerjaan yang beragam, bukan sekadar dorongan untuk berdagang ketika kesempatan kerja formal sulit diperoleh.

Pemerintah dan ranah usaha perlu terus memperluas kesempatan kerja produktif, meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan, serta mendorong pertumbuhan industri yang mampu menyerap tenaga kerja dengan penghasilan layak.

Pada saat yang sama, pelaku UMKM membutuhkan dukungan agar usahanya tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Keberhasilan program kewirausahaan seharusnya tidak cukup diukur dari berapa banyak usaha baru yang lahir. Kita juga perlu mengetahui berapa banyak yang mampu bertahan, meningkatkan keuntungan, dan memberikan kehidupan lebih baik bagi pemilik maupun pekerjanya.

Jangan Sampai Kita Merayakan Keterpaksaan sebagai Keberhasilan

Kita patut menghargai siapa pun yang berusaha mencari nafkah secara mandiri. Pedagang seblak, penjual cilok, pemilik warung kecil, dan pelaku usaha rumahan menunjukkan ketekunan yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Namun, menghargai perjuangan mereka tidak berarti kita harus mengabaikan kesulitan ekonomi yang mungkin mendorong mereka memulai usaha.

Ada perbedaan besar antara seseorang yang memilih menjadi pengusaha karena memiliki peluang dan seseorang yang harus berdagang karena tidak menemukan pilihan pekerjaan lain.

Keduanya sama-sama bekerja keras, tetapi menghadapi keadaan yang berbeda.

Maka, ketika kita melihat semakin banyak masyarakat membuka usaha, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai tanda bahwa semangat kewirausahaan telah menyelesaikan persoalan ekonomi.

Tanyakan juga apakah mereka memperoleh keuntungan yang layak, memiliki perlindungan sosial, dan dapat merencanakan masa depan dengan lebih pasti.

Sebab, keberhasilan ekonomi bukanlah ketika semua orang terpaksa menjadi pengusaha, melainkan ketika setiap orang memiliki kesempatan yang layak untuk memilih bagaimana mereka ingin bekerja dan mencari penghidupan.

Kita boleh terus merayakan UMKM sebagai kekuatan ekonomi bangsa. Namun, jangan sampai tepuk tangan kita terlalu riuh hingga menenggelamkan suara mereka yang sebenarnya hanya ingin mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan cukup.

Indonesia tidak cukup hanya menjadi negeri dengan jutaan pedagang yang gigih bertahan hidup.

Indonesia juga perlu menjadi negeri yang memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk hidup lebih sejahtera, tanpa harus selalu membuka lapak baru demi menyambung hari esok.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image