Dari Pemesanan Hotel ke Tren Wisata: Peran Data Warehouse dalam Industri Pariwisata
Teknologi | 2026-10-13 12:51:02
Kamu pasti pernah memesan hotel lewat aplikasi bukan?, nah sebenarnya kamu sudah meninggalkan jejak data, mulai dari tanggal menginap, kota tujuan, jenis kamar, harga yang dipilih, sampai metode pembayaran. Satu pemesanan memang terlihat kecil, tapi kalau jutaan pemesanan dari banyak hotel dan banyak platform dikumpulkan, hasilnya bisa menunjukkan pola yang berguna bagi industri pariwisata loh. Sehingga, untuk mengelola data sebanyak itu, dibutuhkan yang namanya data warehouse.
Data di Industri Pariwisata Itu Tersebar
Satu perjalanan wisata melibatkan banyak pihak. Ada hotel, maskapai, agen perjalanan online, tempat wisata, restoran, hingga layanan transportasi. Masing-masing mempunyai sistem sendiri dan mencatat data dengan format yang berbeda. Sistem reservasi hotel menyimpan data kamar dan tamu. Platform tiket mencatat penjualan tiket pesawat atau atraksi. Media sosial dan situs ulasan menyimpan opini wisatawan. Data ini sering tidak saling terhubung, sehingga sulit menjawab pertanyaan sederhana seperti "Wisatawan dari mana yang paling sering menginap di Bali pada bulan Agustus, dan apa saja yang biasanya mereka beli selama di sana?"
Apa itu Data Warehouse?
Data warehouse adalah tempat penyimpanan data terpusat yang mengumpulkan data dari banyak sumber, merapikannya, lalu menyimpannya dalam struktur yang konsisten supaya mudah dianalisis. Fungsinya berbeda dari database operasional. Database operasional dipakai untuk mencatat transaksi sehari-hari, misalnya menyimpan pesanan kamar yang baru masuk. Data warehouse dipakai untuk melihat gambaran yang lebih besar, termasuk perbandingan antarperiode.
Proses pengisiannya biasanya disebut ETL, yaitu (1) Extract: data diambil dari berbagai sistem, seperti aplikasi reservasi, sistem kasir, dan survei kepuasan tamu. (2) Transform: data dibersihkan dan diseragamkan, misalnya, format tanggal disamakan, mata uang dikonversi, dan data ganda dihapus. (3) Load: data yang sudah rapi kemudian dimasukkan ke data warehouse. Setelah itu, data bisa dianalisis lewat laporan atau dasbor tanpa harus membuka satu per satu sistem asalnya.
Implementasi
Pertama, mengatur harga kamar, sehingga hotel bisa melihat data okupansi beberapa tahun terakhir untuk menentukan kapan permintaan tinggi dan kapan sepi. Dari situ, harga bisa disesuaikan, naik saat musim liburan dan diberi promo saat permintaan rendah.
Kedua, memahami profil wisatawan dengan menggabungkan data pemesanan dan data pelanggan, pengelola bisa tahu kelompok mana yang paling sering datang, berapa lama mereka tinggal, dan apa yang mereka cari. Informasi ini membantu dalam menyusun paket wisata atau strategi promosi yang lebih tepat sasaran.
Ketiga, melihat tren wisata. Data pencarian dan pemesanan bisa menunjukkan destinasi yang mulai naik daun. Pemerintah daerah atau pelaku usaha bisa memakainya untuk menyiapkan fasilitas dan transportasi sebelum kunjungan benar-benar melonjak.
Keempat, meningkatkan layanan. Ulasan tamu yang dikumpulkan dan dianalisis bisa menunjukkan keluhan yang berulang, misalnya soal kebersihan atau waktu check-in, sehingga perbaikan bisa difokuskan pada hal yang paling sering dikeluhkan.
Kelima, perencanaan operasional dengan prediksi jumlah tamu, hotel bisa mengatur jumlah staf, stok makanan, dan jadwal perawatan fasilitas agar tidak kekurangan atau berlebihan.
Tantangan yang Perlu Diperhatikan
Menerapkan data warehouse tidak selalu mudah. Hal ini dikarenakan kalau data dari sumber awal tidak akurat, maka hasil analisisnya juga akan menyesatkan. Kemudian, biaya dan sumber daya manusia, karena dibutuhkan orang yang paham cara membangun dan mengelola sistemnya. Selanjutnya, mengenai privasi. Data pelanggan seperti identitas dan riwayat perjalanan bersifat sensitif, jadi perusahaan wajib menjaganya sesuai aturan perlindungan data pribadi. Bagi usaha kecil seperti penginapan keluarga atau agen wisata lokal, layanan cloud bisa menjadi pilihan karena tidak perlu membeli server sendiri dan biayanya mengikuti pemakaian.
Industri pariwisata menghasilkan data dalam jumlah besar setiap hari, mulai dari pemesanan hotel sampai ulasan wisatawan. Data warehouse membantu menyatukan data itu supaya bisa dipakai untuk mengambil keputusan, baik untuk menentukan harga, memahami wisatawan, maupun membaca tren. Tanpa pengelolaan yang baik, data hanya akan menumpuk. Dengan pengelolaan yang baik, data bisa membantu pelaku wisata bekerja lebih efisien dan memberi pengalaman yang lebih sesuai bagi wisatawan.
References
Hutagaol, A. S., Beng, J. T., Wasino, W., Tiatri, S., Lunzaga, E., Salsabila, T. M., & Nurkholiza, R. (2025). Designing a data warehouse to optimize the hotel booking monitoring dashboard. INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science, 8(5), 1491-1497. https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/INTECOM/article/view/16754
Ramos, C. M. Q., Martins, D. J., Serra, F., Lam, R., Cardoso, P. J. S., Correia, M. B., & Rodrigues, J. M. F. (2017). Framework for a hospitality big data warehouse: The implementation of an efficient hospitality business intelligence system. International Journal of Information Systems in the Service Sector. https://doi.org/10.4018/IJISSS.2017040102
Penulis: Shahnaz Fatharani Azhima
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
