Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rosi Risalah

Bukan Hamba Paruh Waktu

Kolom | 2026-10-12 15:37:12

Apakah kita hanya merasa terkoneksi ketika shalat saja? Atau ketika kita pergi haji dan melakukan amalan-amalan yang dianggap ‘ritual’ saja? Padahal, tentu menjadi hamba bukanlah pekerjaan paruh waktu kita, melainkan adalah identitas yang terus melekat kepada kita sebagai manusia.

sumber foto pexels dan canva

Menjadi tamparan buatku, ketika setelah shalat, aku pikir aku sudah bebas dan segera dapat melakukan hal-hal lainnya yang kuanggap tak begitu penting. Padahal, setiap perbuatanku, tentu akan dipertanggungjawabkan nantinya. Apapun perbuatanku pasti akan dihisab. Aku adalah hambaNya Allah, baik saat shalat dan setelah shalat.

Aku pernah dengar kalau kata ‘hamba’ itu benar-benar menjalankan apapun yang diperintah oleh Masternya. Dia tidak punya kewenangan untuk melakukan apapun yang dikehendakinya. Memang, mungkin kita punya ‘free will’ tetapi setiap perilaku kita nantinya pasti akan ditanya, ‘kenapa kamu ngelakuin itu?’

Makin ngeri karena kita sama sekali tidak pernah tahu bagaimana akhir kita. Sebaik apa amal kita sehingga kita bisa percaya diri akan masuk surga? Bahkan bagaimana caranya kita merasa aman dari api neraka dari perbuatan-perbuatan kita? Sungguh aku juga tidak tahu. Kita bahkan tidak tahu amal mana yang Allah rida dan terima, serta perbuatan mana yang membuat Allah murka sampai tidak meridai kita. Sungguh, memang takut tetapi kita selalu harus berharap dan memperjuangkan tempat tinggal terakhir yang nyaman itu.

Sebagai hamba Allah, justru kita sedang membebaskan diri dari belenggu penghambaan terhadap hal-hal lain. Iya, pada nyatanya kita semua memang hamba. Namun, menghamba kepada apa? Menghamba kepada siapa? Dengan memposisikan diri kita sebagai Hamba Allah, kita hanya akan mencari kehendakNya saja. Tidak akan peduli kepada trend atau hal-hal yang sekiranya tidak sesuai dengan keinginanNya. Kita tidak akan menghamba kepada standar yang tidak masuk akal yang diciptakan oleh sesama manusia yang belum tentu aman ini, dan tidak akan menghamba kepada keinginan diri sendiri yang terkadang terbelenggu hawa nafsu. Tidak akan terbelenggu pada validasi orang lain dan mayoritas pendapat orang yang belum tentu sesuai dengan aturanNya.

Memang sejatinya kita semua menghamba terhadap sesuatu. Mengikuti apa dan siapa yang memberikan arahan. Namun, sebaik-baiknya penghambaan yang membebaskan memang hanya aktivitas penghambaan kepada Allah saja. Sebab Allah yang tahu bagaimananya kita, dan Ia lah yang memerintahkan hamba-hambaNya untuk beribadah kepadaNya.

Jangan membiasakan penghambaan yang setengah-setengah, misalkan menutup aurat hanya di pengajian atau saat mau umrah saja. Padahal identitas sebagai muslimah adalah menutup aurat di semua lini (bukan saat acara seremoni keagamaan saja). Ini tamparan buatku, sebagaimana kita harus terbiasa khusyuk dan berpikir positif saat kita shalat dan puasa, saat kehidupan sehari-hari juga kita harus bisa mengamalkan kekhusyukan dan prasangka baik di dalam kehidupan.

Jika kita sangat menentang untuk tidak makan babi, seharusnya itu juga yang kita lakukan kepada zina, judi online dan miras yang memabukkan. Atau tidak mungkin menjalani ibadah haji dari uang hasil korupsi karena seperti membersihkan diri dengan air yang kotor. Sehingga kita mencoba menjalankan apa yang diperintahkan Allah kepada hambaNya dalam masa 24 jam/7 hari. Bukan paruh waktu. Bukan setengah-setengah. Ini adalah peran yang tidak akan terganti disaat peran-peran kita yang lainnya bisa saja sudah berhenti.

Aku tahu itu sulit—aku juga merasakannya betapa perjuangannya untuk bisa terus menjalankan agama kita yang Rahmat ini di zaman ini, tetapi tentu akan Allah mudahkan dan akan Allah balas apa yang kita perjuangkan. Tentu tidak mustahil, ada salah dan khilaf bukan berarti kita tidak bisa meneruskannya. Sebab Allah tidak menilai sekadar hasil tetapi proses kita dalam berjuang menjalani ini.

Semoga Allah terima setiap niat dan amal kita, semoga menjadi ikhtiar yang membuka jalan kita untuk terus mendekat sebagai hamba yang berbakti kepadaNya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image