Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muthia Azka

Anak Lambat Memahami Pelajaran, Benarkah Karena Malas?

Edukasi | 2026-10-08 17:07:35

Mungkin banyak dari kita melihat atau menemukan anak yang membutuhkan waktu sedikit lebih dalam untuk memahami pelajaran dibandingkan teman-temannya, ketika hal itu terlihat, banyak dan tidak jarang anak langsung mendapatkan cap “malas”, “kurang fokus”, “kurang pintar”. Pada kenyataanya kita tidak tahu apakah hal tersebut membuatnya membutuhkan waktu ekstra dalam memahami pelajaran?

Anggapan tersebut perlu dipertanyakan karena sangat berbahaya, jika terus dicap demikian anak akan kehilangan percaya diri, merasa minder, dan akhirnya akan benar benar kehilangan motivasi belajar. Setiap anak memiliki kompetensi, pengalaman, minat, kognitif, dan cara belajar yang berbeda. Ada anak yang dapat memahami materi hanya dengan sekali penjelasan, ada pula anak yang memahami dengan membutuhkan pengulangan, contoh konkret, atau cara penyampaian yang berbeda. Perbedaan tersebut sangatlah wajar dalam proses belajar.

Kesulitan memahami pelajaran dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor internal, seperti konsentrasi, motivasi, kondisi emosional, dan kemampuan awal yang dimiliki anak. Misalnya, seorang siswa yang belum memahami konsep dasar perkalian akan lebih kesulitan ketika harus mempelajari pembagian atau pecahan. Dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan semata-mata karena anak malas, tetapi karena terdapat konsep sebelumnya yang belum dikuasai.

Selain faktor internal, lingkungan belajar juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam memahami pelajaran. Suasana kelas yang terlalu ramai, metode pembelajaran yang monoton, hubungan dengan guru, hingga dukungan dari keluarga dapat memberikan pengaruh terhadap proses belajar. Anak mungkin terlihat tidak memperhatikan pelajaran, tetapi sebenarnya ia sedang mengalami kesulitan mengikuti penjelasan yang diberikan.

Cara guru menyampaikan materi juga menjadi bagian penting. Satu metode pembelajaran belum tentu cocok untuk semua siswa. Anak yang kesulitan memahami penjelasan secara lisan mungkin akan lebih terbantu melalui gambar, video, permainan edukatif, praktik langsung, atau contoh yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, guru perlu mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa sebelum memberikan penilaian terhadap kemampuan mereka.

Contohnya, ketika mengajarkan konsep pecahan kepada siswa sekolah dasar, guru tidak hanya menjelaskan bahwa ½ berarti satu per dua. Guru dapat menggunakan benda konkret seperti kertas yang dibagi menjadi beberapa bagian atau potongan buah. Dengan melihat dan mencoba secara langsung, konsep yang sebelumnya terasa abstrak dapat menjadi lebih mudah dipahami.

Peran orang tua juga tidak kalah penting. Ketika anak membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi, orang tua sebaiknya tidak langsung membandingkannya dengan saudara atau teman. Kalimat seperti “Masa begitu saja tidak bisa?” justru dapat membuat anak merasa dirinya tidak mampu. Sebaliknya, orang tua dapat memberikan dukungan, menanyakan bagian mana yang belum dipahami, kemudian membantu anak belajar secara bertahap.

Hal yang perlu diingat adalah lambat memahami bukan berarti malas dan bukan pula berarti tidak cerdas. Anak membutuhkan kesempatan untuk belajar sesuai dengan kebutuhannya. Tugas guru dan orang tua bukan sekadar menilai seberapa cepat anak memperoleh jawaban, tetapi juga mencari tahu proses dan hambatan yang dialaminya.

Pada akhirnya, pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses perkembangan setiap anak. Daripada terburu-buru memberikan label “malas”, akan lebih baik jika kita bertanya, “Apa yang membuat anak ini kesulitan memahami pelajaran?” Pertanyaan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menemukan solusi pembelajaran yang lebih tepat, sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang dan mencapai potensinya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image