Anak yang Tidak Pernah Bertanya, Apakah Berarti la Sudah Paham?
Eduaksi | 2026-10-08 15:00:19
“Sudah paham?” Pertanyaan seperti ini hampir selalu muncul di akhir penjelasan guru. Biasanya kelas akan menjadi hening, lalu beberapa siswa mengangguk. Tidak ada yang bertanya. Guru pun melanjutkan pembelajaran karena menganggap materi sudah dimengerti. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa anak yang diam belum tentu benar-benar memahami apa yang baru saja dijelaskan?
Di sekolah dasar, bertanya sebenarnya merupakan bagian penting dari proses belajar. Ketika seorang anak mengajukan pertanyaan, ia sedang menunjukkan rasa ingin tahu sekaligus berusaha menghubungkan informasi baru dengan apa yang sudah diketahuinya. Penelitian tentang pembelajaran di sekolah dasar juga menunjukkan bahwa kemampuan bertanya dapat membantu guru melihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi. Dalam sebuah penelitian pada pembelajaran matematika di sekolah dasar, rendahnya kemampuan bertanya ditemukan bersamaan dengan kecenderungan siswa menjadi pasif dalam pembelajaran.
Sayangnya, tidak semua anak merasa nyaman untuk bertanya. Ada anak yang takut pertanyaannya dianggap terlalu mudah, takut salah, malu ditertawakan teman, atau memang belum terbiasa menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Akibatnya, diam sering kali menjadi pilihan yang paling aman. Padahal, ketika anak menyimpan kebingungannya, guru juga menjadi lebih sulit mengetahui bagian mana dari materi yang belum dipahami.
Menurut saya, persoalannya bukan hanya terletak pada keberanian anak, tetapi juga pada suasana belajar yang dibangun di kelas. Jika sejak awal anak terbiasa merasa bahwa jawaban salah adalah sesuatu yang memalukan, mereka tentu akan berpikir berkali-kali sebelum mengangkat tangan. Sebaliknya, ketika guru menunjukkan bahwa pertanyaan yang sederhana sekalipun tetap dihargai, anak akan memiliki ruang untuk belajar tanpa terlalu takut melakukan kesalahan.
Hal ini sejalan dengan kajian tentang kemampuan bertanya pada pendidikan dasar yang menekankan pentingnya budaya kelas yang mendukung siswa untuk menghasilkan pertanyaan. Guru tidak hanya perlu meminta siswa bertanya, tetapi juga memberikan bimbingan agar mereka mampu mengembangkan pertanyaan yang bermakna.
Karena itu, menurut saya, guru tidak seharusnya hanya bertanya, “Siapa yang belum paham?” Pertanyaan tersebut terkadang justru membuat anak yang bingung semakin memilih diam. Guru dapat menggantinya dengan pertanyaan yang lebih terbuka, seperti “Bagian mana yang menurut kalian masih membingungkan?” atau “Kalau ada yang ingin kalian ketahui lebih lanjut, apa yang ingin kalian tanyakan?” Cara sederhana seperti ini dapat memberikan kesempatan kepada lebih banyak anak untuk menyampaikan pikirannya.
Guru juga dapat membiasakan kegiatan “satu pertanyaan sebelum pulang”. Setiap siswa menuliskan satu hal yang masih ingin diketahui setelah pembelajaran selesai. Pertanyaan tersebut tidak harus selalu sulit. Dari pertanyaan sederhana sekalipun, guru dapat mengetahui apa yang menarik perhatian siswa dan bagian mana yang masih membutuhkan penjelasan.
Pembiasaan bertanya juga penting karena pendidikan tidak seharusnya hanya melatih anak menemukan jawaban yang benar. Anak perlu belajar memiliki rasa ingin tahu, mengemukakan pendapat, dan berani mencari penjelasan ketika menemukan sesuatu yang belum dipahami. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bahkan menempatkan aktivitas mengamati, bertanya, bereksplorasi, dan berkolaborasi sebagai bagian dari pembelajaran yang bermakna.
Pada akhirnya, kelas yang baik bukanlah kelas yang selalu sunyi karena semua anak dianggap sudah paham. Kelas yang baik justru memberikan ruang bagi anak untuk bertanya, termasuk ketika pertanyaannya sederhana atau jawabannya belum sempurna. Sebab, anak yang bertanya sedang menunjukkan bahwa ia ingin memahami. Dan anak yang tidak pernah bertanya belum tentu sudah paham—mungkin saja ia hanya belum menemukan ruang yang membuatnya berani untuk bertanya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
