Ledakan AI: Antara Harapan dan Ancaman
Teknologi | 2026-10-07 08:28:50
Ketika Para Pakar AI Ikut Cemas
Dulu, kecerdasan artifisial hanya hidup di film fiksi ilmiah. Kini ia ikut bekerja bersama kita, mencari informasi, membuat tulisan dan gambar, menganalisis data. Di bidang medis, AI mulai dipakai untuk mendukung layanan kesehatan dan menemukan obat. Di bidang keuangan, AI membaca risiko dan mengolah data dalam jumlah raksasa.
Namun, kabar baik itu datang bersama peringatan keras. Para peneliti AI, termasuk tokoh yang dijuluki "Bapak AI" dunia, kembali mewanti-wanti pemerintah agar bersiap menghadapi "ledakan kecerdasan". Riset berjudul How could AI R&D automation trigger an intelligence explosion? melibatkan 22 peneliti, di antaranya Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton. Skenarionya, AI mulai mengotomatisasi riset dan pengembangan AI itu sendiri (recursive self-improvement). AI yang canggih melahirkan generasi AI berikutnya, begitu terus berulang, hingga lajunya sulit dikejar kendali manusia.
Tiga Risiko yang Disorot
Para pakar menyebut ada tiga risiko AI, meliputi ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia, serta ancaman perang antarnegara. Dari tiga risiko ini, ancaman siber yang paling mudah dibayangkan.
Bayangkan suatu saat di masa depan, kawanan agen AI menyerang secara masif untuk mencuri uang, meretas identitas, memanipulasi pasar keuangan, bahkan mengganggu jaringan listrik dan komunikasi. Nah, kalau manusia butuh istirahat maka agen AI tidak.
Mesin kecerdasan artifisial ini dapat bekerja nonstop dan berkoordinasi dalam jumlah besar. AI juga bisa menjadi senjata manipulasi informasi. Sementara itu, pemerintah di banyak negara masih tertinggal dalam menyusun aturan yang sepadan dengan laju teknologinya.
Pisau Bermata Dua dalam Genggaman Kapitalisme
Satu teknologi, dua wajah. Kecerdasan artifisial (AI) dapat membantu dokter membaca data pasien. Namun, AI ini bisa juga dipakai merancang serangan siber, penipuan, pengawasan yang zalim, dan kepentingan perang. Pembedanya adalah siapa yang menguasainya dan nilai apa yang melandasinya.
Maka, membicarakan AI tidak cukup hanya dengan pertanyaan, “Seberapa canggih teknologi ini?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Nilai apa yang akan mengarahkan kecanggihan tersebut?”
Dalam kapitalisme sekuler, nilai itu bernama keuntungan, persaingan, dan kepentingan negara. Rivalitas Amerika Serikat dan Cina dalam pengembangan AI memperlihatkannya. Pertumbuhan ekonomi dikejar. Risikonya cukup ditakuti.
Nah, regulasi penggunaan kecerdasan artifisial ini lahir dari paradigma yang sama. Oleh sebab itu, wajar bila tidak menyentuh akar masalah. Ledakan kecerdasan AI tanpa kendali akidah dan syariat Islam berisiko membawa kehancuran bagi kehidupan manusia.
Akal Itu Karunia, Amanahnya Menjadi Khalifah
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang dimuliakan. Allah Swt. berfirman, "Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam..." (QS. Al-Isra: 70). Kemuliaan itu terwujud dalam akal. Dengan akal ini kita memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjalankan amanah sebagai khalifah fil ardh sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah: 30. Akal bertugas memahami realitas, sedangkan penentu halal dan haram tetap wahyu.
Dari ayat ini, kita tahu bahwa Islam tidak menghalangi manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk menguasai ilmu dan memanfaatkan berbagai sarana yang dapat memberikan kemaslahatan.
Namun, Islam memberikan batas yang jelas. Akal manusia tidak boleh ditempatkan sebagai pembuat hukum yang menentukan sendiri mana yang halal dan haram. Akal digunakan untuk memahami realitas dan menerapkan hukum Allah, sementara standar benar dan salah tetap berasal dari wahyu.
Di sinilah perbedaan mendasar antara pandangan Islam dengan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.
AI dan Nilai Pembentuknya
Dalam perspektif Islam, hasil pemikiran manusia dapat dilihat dari sisi hadharah dan madaniyah. Hadharah berkaitan dengan konsep atau pandangan hidup yang dipengaruhi oleh ideologi tertentu.
Adapun madaniyah merupakan bentuk-bentuk material yang dihasilkan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pada dasarnya dapat bersifat netral.
AI buatan manusia, maka wujudnya termasuk madaniyah. Namun, AI dilatih dengan beragam informasi, pemikiran, dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan. Jejak hadharah para pembuat dan penggunanya ikut tercetak dalam keluarannya.
Karena itu, AI di tangan manusia yang berakidah kokoh dan tunduk pada syariat akan mendatangkan kemaslahatan. Ia tidak akan memakai kecerdasannya untuk menzalimi sesama. Sebaliknya, AI di tangan orang-orang yang menafikan adanya Allah Swt. sehingga tidak terikat halal dan haram akan mendatangkan bahaya dan kerusakan.
Maka, sistem kehidupan manusia harus diatur dengan syariat Islam agar selamat. Penguasaan sains dan teknologi didorong sebagai kekuatan umat. Teknologi dipagari halal dan haram sehingga keberadaannya tidak menjadi ancaman bagi masyarakat. Dengan akidah sebagai landasan dan syariat sebagai pengatur, kecanggihan AI menjadi sarana kemaslahatan, bukan jalan menuju kehancuran.[]
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
