Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image athaya prameswari

Ekspektasi Wisatawan terhadap Kebun Raya Mangrove Wonorejo, Surabaya

Wisata | 2026-10-06 18:04:31
bookingtogo.com" />
bookingtogo.com

Perkembangan teknologi digital membuat para wisatawan lebih mudah mencari informasi sebelum mereka melakukan perjalanan. Sebelumnya, para wisatawan lebih sering mendengar informasi tentang destinasi dari orang-orang terdekat atau media tradisional. Namun kini, mereka bisa dengan mudah memperoleh gambaran tentang tempat wisata melalui media sosial, Google Maps, video perjalanan, serta ulasan dari para pengguna. Perubahan ini membuat cara memilih tempat tujuan dimulai sejak wisatawan melihat dan mengevaluasi suatu lokasi melalui layar. Informasi digital kemudian menjadi bagian yang penting dalam membentuk gambaran pertama tentang apa saja yang akan ditemukan di tempat tujuan.

Kebun Raya Mangrove Surabaya bisa ditemukan melalui berbagai media digital. Informasi tentang tempat tujuan ini tidak hanya mencakup lokasi dan biaya tiket, tetapi juga termasuk foto, video, kegiatan yang bisa dilakukan, keunikan tempat, serta pengalaman yang pernah dialami oleh pengunjung sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Zulfa, Setyadi, dan Harya pada tahun 2026 menunjukkan bahwa vlog perjalanan di TikTok berpengaruh terhadap minat wisatawan untuk berkunjung ke Kebun Raya Mangrove Surabaya. Temuan itu menunjukkan bahwa konten digital bisa menggambarkan suatu destinasi wisata dan juga membuat orang lebih tertarik untuk berkunjung langsung. Media digital bukan hanya digunakan untuk mencari informasi, tetapi juga menjadi tempat awal bagi wisatawan dalam membentuk harapan mereka terhadap suatu destinasi.

Berdasarkan wawancara dengan lima orang yang ditemui, yaitu Alfiko, Dian, Vania, Fabyan, dan Tama, mereka semua mengatakan bahwa mereka mencari informasi tentang Kebun Raya Mangrove Surabaya melalui media digital sebelum berkunjung. Platform yang digunakan itu beragam, tapi TikTok, Instagram, dan Google Maps sering disebutkan sebagai media utamanya. Informasi yang dicari mencerminkan kebutuhan wisatawan yang beragam. Alfiko lebih suka mengikuti kegiatan belajar, menanam mangrove, dan menjaga lingkungan, sedangkan Dian lebih tertarik untuk mencoba naik perahu dan mengetahui soal sirup mangrove Wonorejo. Sementara itu, Vania mencari informasi tentang rute, harga tiket, tempat foto, kegiatan yang bisa dilakukan, dan barang yang bisa dibeli, sedangkan Fabyan dan Tama lebih fokus pada tampilan atraksi, kondisi tempat, fasilitas, serta harga tiket.

Informasi yang ditemukan secara digital membentuk harapan wisatawan sebelum mereka tiba. Alfiko berharap bisa berkeliling di area hutan bakau sekaligus mendapatkan pengalaman yang mengasah pengetahuan. Harapan mereka justru semakin meningkat karena penanaman mangrove dilakukan dengan menggunakan perahu, sehingga wisatawan bisa melihat kondisi lingkungan di sekitar area tersebut. Dian memiliki harapan yang tidak terlalu tinggi terhadap kawasan mangrove, tetapi melihat adanya sirup mangrove Wonorejo membuat destinasi itu terasa berbeda. Vania justru datang dengan harapan bahwa area itu akan terasa panas karena berada di daerah pesisir Surabaya. Fabyan ingin melihat banyak hewan dan menikmati berbagai kegiatan serta pengalaman, sedangkan Tama mengharapkan tempat yang tidak terlalu panas dan bersih. Dari jawaban itu terlihat bahwa harapan para wisatawan tidak sama, tetapi tergantung pada informasi yang mereka baca dan hal-hal yang mereka anggap penting sebelum berkunjung.

Ketika dibandingkan dengan pengalaman langsung, sebagian besar informasi yang didapatkan melalui media digital dianggap sesuai dengan kondisi di lapangan. Alfiko mengatakan bahwa kondisi sebenarnya sesuai dengan informasi yang sudah dilihat sebelumnya, bahkan pengalaman menggunakan perahu untuk sampai ke area penanaman mangrove dianggap sudah lebih dari yang dia bayangkan. Dian juga merasa pengalaman yang didapat sesuai dengan yang diharapkan, meskipun saat berkunjung kondisi air sedang surut. Vania menemukan bahwa lokasi foto dan pengalaman naik perahu sesuai dengan apa yang pernah dilihat di media sosial. Ia juga menemukan hal-hal yang lebih baik daripada yang ia kira karena daerah itu tidak terlalu panas seperti yang dibayangkan, ada angin pantai, beberapa gazebo, dan tempat-tempat yang nyaman untuk beristirahat. Sementara itu, Fabyan merasa informasi digital sudah cukup tepat dan tidak berlebihan, meskipun ada beberapa bagian yang masih sedang diperbaiki.

Meskipun secara keseluruhan sesuai, wawancara juga menemukan beberapa perbedaan antara apa yang diharapkan dan kondisi nyatanya. Tama menyebutkan bahwa dia sempat berpikir seluruh area hutan mangrove bisa dijangkau dari satu titik masuk, namun ternyata masih ada bagian yang harus dicapai dengan menyeberang. Ia juga melihat beberapa fasilitas atau tempat yang tampak baru atau sudah rusak. Perbedaan lain terasa pada pengalaman Dian yang mengalami kondisi sedang surut. Hal itu menunjukkan bahwa konten digital memiliki batasan karena foto, video, dan ulasan hanya menampilkan bagian tertentu dari sebuah tempat pada saat tertentu. Informasi digital bisa memberikan gambaran awal yang membantu, tetapi tidak selalu bisa menjelaskan semua kondisi destinasi secara lengkap dan terus berubah.

Pengaruh informasi digital terhadap keinginan untuk berkunjung terasa cukup besar. Alfiko merasa pengaruhnya sangat besar karena pengalaman yang dibagikan orang lain dan content creator bisa membuat orang ingin tahu dan ingin datang. Vania memperkirakan bahwa media digital memengaruhi keinginannya untuk berkunjung sekitar 70%, meskipun hal itu tetap tergantung pada kondisi dan motivasi setiap wisatawan masing-masing. Fabyan dan Tama juga merasa pengaruhnya sangat besar karena media digital membantu para wisatawan memahami lebih dulu kondisi tempat sebelum mereka tiba. Sementara itu, Dian merasa tertarik karena mendapat informasi tentang sirup mangrove, kegiatan berjalan-jalan, dan kemungkinan melihat hewan liar. Ini menunjukkan bahwa informasi digital bisa menjadi salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan wisatawan karena memberi gambaran awal tentang pengalaman yang mungkin mereka dapatkan.

Temuan ini sesuai dengan penelitian Salsabila dan Eprilianto (2024) yang mengeksplorasi cara meningkatkan daya tarik pengunjung dengan mengembangkan Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar. Namun, hasil wawancara menunjukkan bahwa keberhasilan informasi digital tidak hanya bergantung pada seberapa menarik isinya, tetapi juga pada sejauh mana sesuai dengan situasi yang nyata. Ketika informasi sesuai dengan pengalaman langsung, wisatawan merasa bahwa gambaran yang didapat sebelum berkunjung benar-benar bisa dipercaya. Jika perbedaan antara harapan dan realitas terlalu besar, maka penilaian wisatawan terhadap pengalaman mereka bisa terpengaruh oleh informasi yang mereka terima dari media digital sebelumnya.

Hasil wawancara dengan Alfiko, Dian, Vania, Fabyan, dan Tama menunjukkan bahwa media digital membantu dalam mencari informasi, membentuk harapan, serta memengaruhi keinginan mereka untuk mengunjungi Kebun Raya Mangrove Surabaya. Sebagian besar informasi yang mereka lihat dianggap sudah tepat sesuai dengan keadaan sebenarnya, meskipun masih terdapat beberapa perbedaan mengenai kondisi air, fasilitas, perbaikan, dan akses antardaerah. Oleh karena itu, media digital sebaiknya bukan hanya digunakan untuk membuat tempat wisata terlihat menarik, tetapi juga memberikan informasi yang jelas dan sesuai dengan kondisi terkini. Dengan cara itu, media digital bisa menjadi jembatan yang membantu wisatawan mempersiapkan kunjungan mereka, tetapi tidak menggantikan pengalaman langsung yang hanya bisa dirasakan ketika berada di lokasi tujuan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image