Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Gus Angga

Subak di Tengah Derasnya Arus Pariwisata Bali

Eduaksi | 2026-10-01 11:11:22

Bali sering kali diperkenalkan kepada dunia melalui pantai, pura, tari tradisional, dan hamparan sawah yang menghijau. Namun, di balik pemandangan sawah yang tampak indah itu terdapat sebuah sistem yang jauh lebih penting daripada sekadar lanskap: subak. Ia bukan hanya saluran irigasi yang mengalirkan air dari hulu ke sawah. Subak adalah sistem sosial, ekonomi, budaya, dan ekologis yang selama berabad-abad menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.

Sayangnya, ketika Bali semakin berkembang sebagai destinasi wisata dunia, keberadaan subak menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Sawah berubah menjadi vila, restoran, perumahan, dan berbagai fasilitas pariwisata. Harga tanah yang meningkat membuat lahan pertanian semakin sulit dipertahankan. Pada saat yang sama, profesi petani tidak selalu memberikan pendapatan yang sebanding dengan pekerjaan di sektor pariwisata. Di sinilah pertanyaan penting muncul: apakah subak akan tetap menjadi bagian dari masa depan Bali, atau hanya akan menjadi pemandangan untuk difoto wisatawan?

Subak sebenarnya menunjukkan bahwa masyarakat Bali sejak dahulu telah memiliki cara tersendiri dalam mengelola sumber daya alam. Air yang digunakan untuk pertanian tidak sekadar dipandang sebagai sumber daya ekonomi, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya. Para petani bekerja secara bersama-sama dalam mengatur pembagian air, menentukan waktu kegiatan pertanian, menjaga saluran irigasi, dan menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam kegiatan pertanian.

Sistem tersebut menunjukkan bahwa pertanian tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan kepentingan individu. Ketika satu petani mengambil air secara berlebihan, petani lain dapat mengalami kekurangan. Karena itu, subak mengajarkan prinsip yang sebenarnya sangat relevan dengan kehidupan modern: sumber daya yang terbatas harus dikelola secara bersama-sama dan adil.

Nilai tersebut sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan. Dalam konteks subak, filosofi tersebut bukan sekadar konsep budaya yang dipajang dalam buku atau dipromosikan kepada wisatawan. Ia diwujudkan melalui praktik sehari-hari dalam pengelolaan pertanian dan air.

Persoalannya, dunia telah berubah. Bali tidak lagi hanya bergantung pada pertanian. Pariwisata menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah. Hotel, restoran, transportasi, perdagangan, dan berbagai usaha yang berkaitan dengan wisata memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Tidak adil jika petani diminta mempertahankan sawah hanya demi menjaga citra budaya Bali, sementara kebutuhan ekonomi mereka sendiri tidak mendapatkan perhatian yang memadai.

Karena itu, mempertahankan subak tidak berarti menolak pembangunan dan pariwisata. Yang perlu dipertanyakan adalah model pembangunan seperti apa yang ingin dibangun Bali.

Jika pembangunan dilakukan dengan mengorbankan lahan pertanian secara terus-menerus, Bali pada akhirnya akan kehilangan salah satu identitas pentingnya. Ironisnya, pariwisata yang datang karena tertarik pada keunikan budaya dan alam Bali justru dapat menjadi salah satu faktor yang menghilangkan keunikan tersebut.

Bayangkan jika hamparan sawah semakin sedikit. Jalan semakin padat, bangunan semakin rapat, dan ruang terbuka semakin terbatas. Bali mungkin masih memiliki hotel, restoran, dan tempat hiburan yang ramai, tetapi apakah Bali masih menawarkan pengalaman yang sama? Wisatawan tidak datang ke Bali hanya untuk melihat bangunan modern. Mereka datang karena Bali memiliki sesuatu yang berbeda.

Di sinilah subak memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, bukan hanya dilindungi.

Salah satu caranya adalah melalui agrowisata berbasis subak. Sawah tidak harus dipandang hanya sebagai lahan produksi padi. Sawah juga dapat menjadi ruang edukasi dan wisata. Wisatawan dapat diajak mengenal proses penanaman padi, sistem irigasi, kehidupan petani, hingga filosofi yang melatarbelakangi pengelolaan subak.

Namun, konsep agrowisata jangan sampai berhenti pada kegiatan berfoto di tengah sawah. Jika hanya demikian, petani berisiko menjadi sekadar pelengkap industri pariwisata. Agrowisata seharusnya memberikan manfaat ekonomi nyata kepada masyarakat pertanian.

Wisatawan misalnya dapat mengikuti kegiatan menanam atau memanen padi, belajar membuat pupuk organik, mengenal berbagai jenis tanaman pertanian, menikmati produk pangan lokal, hingga membeli hasil pertanian langsung dari petani. Dengan demikian, rantai ekonomi tidak berhenti di tangan pengelola wisata, tetapi juga mengalir kepada masyarakat yang menjaga lahan tersebut.

Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat keberadaan subak. Generasi muda yang selama ini dianggap semakin jauh dari pertanian justru dapat dilibatkan dalam transformasi tersebut. Penggunaan sensor kelembapan tanah, sistem informasi cuaca, pemetaan lahan, teknologi irigasi, hingga pemasaran digital dapat membantu meningkatkan efisiensi pertanian.

Dengan cara ini, subak tidak perlu diposisikan sebagai sesuatu yang kuno. Sebaliknya, subak dapat menjadi contoh bagaimana kearifan lokal bertemu dengan teknologi modern.

Tantangan berikutnya adalah regenerasi petani. Tidak sedikit generasi muda yang memandang pertanian sebagai pekerjaan yang berat dengan pendapatan yang tidak pasti. Jika kondisi ini terus

berlangsung, siapa yang akan mengelola sawah ketika generasi petani saat ini tidak lagi mampu bekerja?

Jawabannya bukan sekadar meminta anak muda kembali ke sawah. Pertanian harus dibuat lebih menarik dan memiliki prospek ekonomi yang jelas. Anak muda perlu melihat bahwa menjadi petani tidak harus identik dengan pekerjaan manual sepanjang hari. Pertanian modern dapat melibatkan teknologi, bisnis, pengolahan hasil, pemasaran digital, hingga pengembangan wisata.

Pemerintah juga memiliki peran penting. Perlindungan terhadap lahan pertanian tidak cukup hanya melalui aturan di atas kertas. Tata ruang harus benar-benar dijalankan. Petani yang mempertahankan lahan pertanian juga perlu mendapatkan insentif dan dukungan agar tidak berada dalam posisi ekonomi yang selalu kalah dibandingkan pemilik modal yang ingin mengubah sawah menjadi kawasan komersial.

Sebab, pada akhirnya, mempertahankan sawah adalah keputusan ekonomi sekaligus keputusan budaya. Jika menjadi petani terus dianggap tidak menguntungkan, sulit berharap masyarakat akan mempertahankan profesi tersebut hanya karena alasan tradisi.

Subak juga perlu dilihat dalam konteks ketahanan pangan. Bali memang dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi masyarakat Bali tetap membutuhkan pangan. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap pasokan pangan dari luar daerah dapat menjadi persoalan ketika terjadi gangguan distribusi, bencana, atau perubahan kondisi ekonomi.

Sawah bukan sekadar ruang hijau yang mempercantik pemandangan. Ia adalah tempat produksi pangan. Karena itu, kehilangan sawah berarti kehilangan kapasitas produksi pangan. Ketika lahan pertanian hilang, mengembalikannya bukan perkara mudah. Bangunan dapat didirikan dalam waktu singkat, tetapi mengembalikan ekosistem pertanian yang telah berubah membutuhkan waktu dan biaya yang jauh lebih besar.

Pada titik ini, subak sebenarnya memberikan pelajaran penting tentang pembangunan. Kemajuan tidak selalu berarti semakin banyak bangunan, semakin luas jalan, atau semakin tinggi gedung. Kemajuan seharusnya juga berarti kemampuan untuk menjaga sesuatu yang bernilai sambil menyesuaikannya dengan kebutuhan zaman.

Bali tidak harus memilih antara pertanian dan pariwisata. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan jika direncanakan dengan baik. Pariwisata dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani, sementara pertanian memberikan pengalaman dan identitas yang memperkuat daya tarik Bali.

Karena itu, mempertahankan subak bukan berarti mempertahankan Bali dalam keadaan masa lalu. Justru sebaliknya, subak perlu dibawa menuju masa depan dengan pendekatan yang lebih modern, produktif, dan menguntungkan bagi generasi penerus.

Pada akhirnya, masa depan subak tidak hanya ditentukan oleh petani. Ia juga ditentukan oleh pemerintah, pelaku pariwisata, masyarakat, akademisi, dan generasi muda. Semua pihak perlu menyadari bahwa ketika satu petak sawah hilang, yang hilang bukan hanya tanah. Di dalamnya terdapat sistem pengelolaan air, budaya gotong royong, pengetahuan pertanian, sumber pangan, dan bagian dari identitas Bali.

Jika suatu hari nanti sawah hanya tersisa sebagai dekorasi di belakang hotel atau gambar dalam brosur wisata, mungkin saat itu kita baru menyadari betapa mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah pembangunan yang tidak terkendali.

Subak seharusnya bukan sekadar warisan masa lalu yang kita banggakan. Subak harus menjadi warisan hidup yang mampu bertahan dan berkembang bersama Bali di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image