Bisnis Ramai Belum Tentu Sehat, Ini yang Sering Dilupakan
Bisnis | 2026-09-27 23:22:14
Melihat toko online yang setiap hari menerima banyak pesanan memang menyenangkan. Notifikasi transaksi terus masuk, jumlah pengikut bertambah, dan produk terlihat laris. Dari luar, bisnis seperti ini kelihatan sedang berkembang.
Namun, banyaknya pesanan belum otomatis berarti sebuah bisnis sudah sehat.
Ada hal yang sering tidak terlihat dari sebuah toko online, yaitu apakah pemiliknya benar-benar tahu berapa keuntungan yang diperoleh, berapa biaya yang sudah dikeluarkan, dan apakah uang usaha masih cukup untuk menjalankan bisnis pada bulan berikutnya.
Masalah ini menjadi semakin penting karena bisnis digital di Indonesia terus berkembang. Berdasarkan Statistik E-Commerce 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah usaha e-commerce pada 2024 meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. BPS juga mencatat bahwa 96,91 persen usaha e-commerce didominasi oleh UMKM.
Artinya, bisnis online bukan lagi sekadar aktivitas sampingan. Bagi banyak pelaku usaha, penjualan melalui internet sudah menjadi bagian dari kegiatan bisnis utama.
Omzet Besar Tidak Sama dengan Untung Besar
Kesalahan yang cukup sering terjadi dalam bisnis adalah menganggap omzet sebagai keuntungan.
Misalnya, sebuah toko mendapatkan penjualan Rp10 juta dalam satu bulan. Angka tersebut terlihat besar jika hanya dilihat dari total pemasukan. Padahal, dari Rp10 juta tersebut masih ada biaya bahan atau stok, kemasan, ongkos operasional, biaya platform, promosi, pengiriman yang ditanggung penjual, sampai biaya lain yang mungkin tidak langsung terlihat.
Jika seluruh biaya mencapai Rp8 juta, keuntungan yang sebenarnya hanya Rp2 juta.
Karena itu, pemilik bisnis seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa barang yang terjual?”, tetapi juga menghitung “berapa uang yang benar-benar tersisa setelah semua biaya dibayar?”.
Perbedaan sederhana antara omzet dan laba ini sangat penting. Bisnis bisa terlihat ramai di media sosial, tetapi ternyata keuntungan bersihnya kecil.
Banyak Usaha Online Belum Punya Laporan Keuangan
Masalah pencatatan keuangan ternyata bukan persoalan kecil.
Dalam Statistik E-Commerce 2024, BPS mencatat hanya 15,19 persen usaha e-commerce yang memiliki laporan keuangan, sedangkan 84,81 persen lainnya tidak memiliki laporan keuangan. BPS juga mencatat bahwa usaha e-commerce didominasi UMKM hingga 96,91 persen.
Data tersebut menunjukkan adanya jarak antara aktivitas jual beli secara digital dengan pengelolaan bisnis secara administratif.
Padahal, laporan keuangan tidak harus langsung berbentuk laporan perusahaan besar. Usaha kecil pun setidaknya perlu mengetahui pemasukan, pengeluaran, modal, utang, stok, dan keuntungan.
Pencatatan sederhana menggunakan Excel atau aplikasi keuangan sebenarnya sudah bisa membantu. Yang paling penting bukan seberapa canggih alatnya, tetapi apakah pencatatannya dilakukan secara rutin dan datanya benar-benar digunakan untuk mengambil keputusan.
Tanpa pencatatan, pemilik usaha bisa kesulitan mengetahui produk mana yang paling menguntungkan atau biaya apa yang justru terlalu besar.
Digitalisasi Bukan Berarti Sekadar Jualan di Marketplace
Banyak orang menganggap bisnis sudah “go digital” hanya karena produknya dijual melalui marketplace atau media sosial.
Padahal, digitalisasi bisnis memiliki cakupan yang lebih luas.
Data BPS menunjukkan bahwa e-commerce di Indonesia memang semakin berkembang dan surveinya mencakup berbagai aspek seperti profil usaha, tenaga kerja, aktivitas usaha, nilai transaksi, metode pembayaran, dan pengiriman.
Bagi pemilik usaha, teknologi seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengunggah foto produk.
Data penjualan bisa dimanfaatkan untuk melihat produk yang paling banyak dibeli. Data pelanggan dapat digunakan untuk memahami kebiasaan pembelian. Catatan stok dapat membantu menghindari kekurangan barang. Sementara pencatatan keuangan dapat digunakan untuk mengetahui apakah strategi penjualan benar-benar menghasilkan keuntungan.
Jadi, digitalisasi seharusnya membuat pengelolaan bisnis menjadi lebih terukur, bukan hanya membuat produk terlihat di internet.
Pembayaran Digital Mempermudah Transaksi, Tapi Tetap Harus Dicatat
Perubahan lain yang terlihat dalam bisnis adalah semakin luasnya penggunaan pembayaran digital.
Bank Indonesia mencatat hingga triwulan IV 2025 jumlah merchant QRIS mencapai 42,75 juta, dengan sebagian besar merupakan UMKM. Pada periode yang sama, jumlah pengguna QRIS mencapai 59,53 juta.
Pembayaran digital memang memberikan kemudahan. Pelanggan tidak harus membawa uang tunai dan penjual bisa menerima pembayaran secara praktis.
Namun, transaksi digital tetap perlu masuk ke pencatatan bisnis.
Jangan sampai pemilik usaha merasa uang di rekening terus bertambah, tetapi tidak mengetahui apakah pertambahan tersebut berasal dari penjualan, transfer pribadi, pembayaran utang pelanggan, atau sumber lainnya.
Pemisahan rekening pribadi dan rekening usaha juga dapat membantu. Dengan begitu, arus uang bisnis lebih mudah dilihat dan pemilik usaha tidak keliru menganggap seluruh saldo sebagai uang yang boleh digunakan untuk kebutuhan pribadi.
Bisnis Perlu Menggunakan Data, Bukan Hanya Perasaan
Dalam menjalankan bisnis, intuisi memang bisa membantu. Pemilik usaha biasanya lebih mengenal produknya dibandingkan orang lain.
Namun, keputusan bisnis akan lebih kuat jika didukung data.
Contohnya, sebuah produk mungkin terlihat paling laris. Setelah diperiksa, ternyata produk tersebut membutuhkan biaya produksi dan promosi yang jauh lebih tinggi daripada produk lain. Sementara produk yang penjualannya lebih sedikit justru memberikan keuntungan lebih besar.
Tanpa data, pemilik usaha bisa salah menentukan produk mana yang harus diprioritaskan.
Hal yang sama berlaku untuk promosi. Diskon besar memang bisa meningkatkan jumlah transaksi, tetapi belum tentu meningkatkan laba. Jika harga terlalu rendah sementara biaya tetap tinggi, penjualan justru dapat membuat keuntungan semakin tipis.
Bisnis yang Sehat Bukan Hanya yang Banyak Pembelinya
Perkembangan e-commerce memberikan peluang besar bagi UMKM. Jumlah usaha e-commerce yang meningkat dan dominasi UMKM menunjukkan bahwa bisnis skala kecil memiliki ruang yang besar dalam ekonomi digital Indonesia.
Tetapi peluang tersebut perlu diikuti kemampuan mengelola bisnis.
Bisnis yang sehat bukan hanya bisnis yang memiliki banyak pengikut, ramai saat live, atau menerima banyak pesanan. Ada hal yang lebih penting, yaitu kemampuan pemilik usaha mengetahui kondisi keuangan, mengendalikan biaya, mengelola stok, membaca data penjualan, dan memisahkan uang pribadi dari uang usaha.
Dengan pengelolaan seperti itu, pemilik bisnis tidak hanya mengejar ramai untuk hari ini, tetapi juga memiliki dasar yang lebih jelas untuk menentukan langkah berikutnya.
Pada akhirnya, perkembangan bisnis digital bukan hanya soal bagaimana mendapatkan lebih banyak pembeli. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mengubah banyaknya transaksi menjadi bisnis yang mampu bertahan, menghasilkan keuntungan, dan berkembang secara sehat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
