Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Bintang Putra Rachmad

Mempublikan Sejarah

Sejarah | 2026-09-24 14:25:46

Dunia kesejarahan mendapat angin segar di tahun 2026. Kesadaran sejarah telah terlihat lebih hidup dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hadirnya Kementerian Budaya kurang lebih telah berusaha untuk peduli terhadap sejarah. Fadli Zon yang menjabat sebagai menteri tengah bersemangat melakukan safari kesejarahannya. Bukan hanya di tingkat pemerintahan. Di masyarakat, sejarah mulai hidup di sudut-sudut kota-kota besar hingga kabupaten. Perkembangan semakin meriah apabila kita melihat menjamurnya konten sejarah di media sosial.

Penggunaan AI, infografis yang menarik, dan video-video dengan kemasan yang menarik, tak kurang membuat sejarah semakin masuk di relung individu masyarakat. Kita juga tidak melewatkan peran museum-museum yang telah merevitalisasi agar bertranformasi lebih menarik. Berbagai program yang menarik seperti Museum Stamp Hunter juga telah digalakan untuk menarik animo masyarakat.

Jejalan#2 Komunitas Get Historized di Surakarta (Sumber: Dokumentasi Komunitas)

Perkembangan kegiatan bersejarah oleh lapisan pemerintah, pelaksana, dan masyarakat perlu digalakan agar sejarah dapat hidup dan dekat di masyarakat. Sehingga tidak dianggap hantu masa lalu saja. Dalam usaha untuk memperdekatkan masyarakat kepada sejarah, ada satu gerakan yang perlu diapresiasi, yaitu munculnya komunitas sejarah yang menggalakan acara “jelajah sejarah”. Jelajah sejarah yang dilakukan oleh komunitas sejarah mulai marak muncul di kota-kota. Hal ini menjadi salah satu jawaban gairah generasi muda untuk lebih mengenalkan sejarah ke ruang publik.

Komunitas-Komunitas Sejarah

Kesadaran komunitas sejarah untuk menjaga ingatan kolektif kepada masyarakat terjadi secara sporadis. Kebangkitan kesadaran sejarah yang digalakan oleh para komunitas dapat ditelusuri di berbagai daerah. Sebut saja di Surakarta terdapat tiga komunitas yang rutin menggelar acara jelajah sejarah dan diskusi sejarah yaitu: @soerakartawalkingtour, @solosocietieit, dan @gethistorized. Di kota tetangga tepatnya Klaten hadir komunitas @klatenlampau yang gencar mengadakan jelajah sejarah di Klaten. Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Jakarta sebagai kota besar menjadi ladang subur munculnya komunitas sejarah, apalagi ditunjang dengan kawasan sejarah dan cerita sejarah nasional yang melimpah.

Panorama komunitas sejarah di kota-kota besar nyatanya juga menjamah berbagai kota yang mungkin terlewatkan dalam narasi sejarah nasional. Sebut saja kota Bojonegoro, Samarinda, Cepu, Temanggung, Madiun, dan Ngawi. Pasti masih banyak komunitas di kota-kota yang lain. Yang jelas, kebangkitan komunitas sejarah di masyarakat menandakan adanya suatu rasa penasaran terhadap cerita masa lalu yang ada di sekitar wilayah tersebut. Bahkan di kota-kota kecil sekalipun.

Komunitas sejarah yang melakukan program jelajah sejarah seakan mengakomodasi masyarakat untuk lebih dekat dengan kisah masa lampau di kawasan sekitarnya. Jelajah sejarah tentu memberikan pengalaman berbeda dibandingkan belajar sejarah melalui buku-buku ataupun melihat di media sosial. Acara jelajah sejarah dapat membuat peserta secara langsung merasakan pengalaman melihat, meraba, dan mendatangi lokasi-lokasi yang menyimpan cerita masa lalu.

Kehadiran komunitas sejarah dapat menjadi salah satu alternatif masyarakat untuk belajar tentang sejarah yang tidak membosankan. Tetapi dengan munculnya gerakan ini, ada yang perlu diingat oleh para anggota komunitas. Bahwa sejarah yang dijelaskan harus dapat dipertanggung jawabkan, tidak terbatas hanya di lingkup lokal, dan tetap menghargai para pelaku sejarah atau keluarga yang terkait apabila memang masih ada. Sehingga tidak ada eksploitasi informasi yang berlebihan untuk mendatangkan keuntungan.

Mengembangkan Sejarah Lokal

Tantangan komunitas sejarah di tingkat kota tentunya adalah bagaimana mengemas sejarah yang ada di sekitarnya dapat disampaikan semenarik mungkin. Seperti yang dituliskan oleh Faye Sayer (2019) bahwa sejarah publik merupakan usaha untuk membawa sejarah keluar dari ruang akademik kepada masyarakat, yang salah satunya menggunakan keterlibatan komunitas. Sehingga masyarakat yang menerima informasi tidak hanya sekedar mengunjungi lokasi tetapi, mendapatkan informasi sejarah yang diusahakan seobjektif mungkin. Hal ini tentunya membuat tantangan tersendiri bagi pelaku komunitas sejarah, yang mana acara jelajah sejarah pesertanya dapat berasal dari berbagai latar belakang dan kelompok masyarakat.

Tantangan lainnya selain untuk mengemas sejarah yang menarik adalah bagaimana mengembangkan sejarah di sekitar kita dapat direfleksikan oleh masyarakat. Karena selain hanya menceritakan bagaimana sejarahnya, komunitas perlu memiliki kemampuan untuk mengkaitkan bagaimana sejarah lokal terhadap sejarah nasional yang lebih umum diketahui. Selain itu, komunitas sejarah juga perlu berusaha agar informasi sejarah dapat dimaknai, direlevansikan, dan bermanfaat untuk kehidupan masyarakat di era sekarang. Sehingga sejarah lokal yang diangkat oleh berbagai komunitas dapat tumbuh sebagai identitas budaya, pengetahuan, dan memori kolektif masyarakat.

Kehadiran komunitas sejarah di berbagai kota tentunya merupakan sebuah pertanda bahwa “sejarah” ternyata masih dibutuhkan. Dari setiap sudut-sudut kota besar hingga kota yang jarang terjamah sejarah nasional yang ternyata mempunyai potensi ceritanya sendiri. Hal ini tentunya meninggalkan misi untuk kita yang hidup di era sekarang, bagaimana peradaban kita nantinya akan menjaga warisan masa lalu untuk dipertahankan di era-era yang akan datang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image