Satu Abad Gontor: Mendidik, Membangun Peradaban, dan Menyatukan Bangsa
Alkisah | 2026-09-21 00:28:26
PONOROGO — Satu abad bukanlah sekadar deretan angka dalam perjalanan sebuah lembaga pendidikan. Bagi Pondok Modern Darussalam Gontor, genapnya usia 100 tahun (1926–2026) menjadi titik refleksi sejarah atas kontribusi besar pesantren ini terhadap pembangunan sumber daya manusia dan peradaban di Indonesia maupun mancanegara.
Berdiri sejak tahun 1926 atas gagasan mulia Trimurti (KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi), Gontor bertransformasi dari sekadar pondok di pelosok Ponorogo menjadi pilar pendidikan Islam modern yang menginspirasi lahirnya ratusan pesantren alumni di seluruh penjuru Tanah Air.
Menyatukan Tanpa Menyamakan
Salah satu nilai universal terkuat yang terus dirawat oleh Gontor selama satu abad adalah posisinya sebagai rumah bersama bagi seluruh elemen umat. Di tengah keberagaman latar belakang santrinya—baik dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, maupun organisasi keagamaan lainnya—Gontor berdiri di atas semua golongan.
Pimpinan Gontor senantiasa menegaskan prinsip inklusif ini: anak NU yang masuk Gontor tetap keluar sebagai warga NU, dan anak Muhammadiyah tetap keluar sebagai warga Muhammadiyah. Gontor tidak menghapus identitas, melainkan mengajarkan toleransi dan persatuan (ukhuwah islamiyah) sejak dini dalam satu lingkungan hidup bersama.
Puncak Kesyukuran Satu Abad
Rangkaian peringatan 100 tahun Gontor mencapai puncaknya pada pertengahan September 2026 di Ponorogo. Momen sejarah ini diwarnai dengan kehadiran puluhan ribu alumni dari dalam dan luar negeri yang pulang kampung untuk mempererat kembali tali silaturahmi.
- Sujud Syukur dan Khataman Al-Qur'an: Puluhan ribu santri dan alumni memadati Masjid Jami' untuk melantunkan doa dan sujud syukur atas keberkahan perjalanan satu abad almamater.
- Kehadiran Tokoh Bangsa: Puncak syukuran turut dihadiri oleh Presiden RI Prabowo Subianto, pimpinan ormas Islam nasional, hingga jajaran diplomatik negara sahabat sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Gontor bagi bangsa.
- Integrasi Keilmuan dan Seni: Kemeriahan 100 tahun ditandai dengan berbagai ajang internasional, mulai dari Festival Kaligrafi Internasional, kompetisi bahasa, sains, hingga pembukaan pilar-pilar akademik modern seperti Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor.
Menatap Abad Kedua
Mewakafkan seluruh aset dan jiwa raganya demi kemajuan umat, Pondok Modern Darussalam Gontor memasuki abad kedua dengan prinsip yang teguh: berubah dalam hal yang boleh berubah, namun tetap kokoh pada nilai-nilai dasar yang tak boleh tergerus zaman.
Di era transformasi digital dan modernisasi global, Gontor membuktikan bahwa pesantren mampu melahirkan kader ulama yang intelek dan intelek yang ulama—siap memimpin bangsa tanpa kehilangan pijakan moral keislaman.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
