Selepas Tawang
Sastra | 2026-09-20 19:47:49
Sebagai pertanda temaram datang
Kutitipkan surat pada yang tak sempat tersampaikan
Suara alam mendayu,
bertemu di satu titik,
dengan ia menari di atasnya
Suraloka menilik senyum bibirnya
Buana termenung menatap indah tenangnya
Saat ia menatapku,
tak ada kata yang bisa terucap
Terbenam dalam dasar tatapnya
Namun kala takdir meminta ia pergi,
apa yang mampu kutahan?
Sihir pada Suraloka menghilang saat ia pergi
Daksa kini perlahan lupa,
atau mungkin terpaksa
Biarlah nestapa ini menjelma menjadi aksara atas namamu
Selamat menjalin kasihmu, Tawang
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
