Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image rainbow ice

Niat Memperbaiki atau Puaskan Ego? Menakar Adab Kritik di Media Sosial

Agama | 2026-09-20 12:33:49

Jujur aja, jempol kita sekarang jauh lebih lincah daripada mulut sendiri. Cuma butuh waktu hitungan detik buat ngetik respon, klik kirim, lalu tunggu balasan balasan orang lain. Masalahnya, batas antara “sekadar ngasih pendapat” sama “ikutan ngerujak orang” di media sosial itu tipis banget. Apalagi kalau sudah ada drama viral yang kena tren cancel culture, bawaannya pengin langsung nimbrung biar nggak dikira ketinggalan zaman.

Fenomena ini sebenarnya ironis. Di satu sisi, kita sering banget menyuarakan pentingnya menjaga kesehatan mental dan empati. Tapi di sisi lain, kolom komentar yang kami singgahi sering jadi tempat paling beracun. Niat awalnya mungkin cuma mau jujur atau ngasih kritik. Tapi begitu dikemas pakai bahasa sarkas, mempermalukan, atau menyebarkan asumsi yang belum pasti, tujuannya sudah berubah. Itu bukan lagi soal mencari kebenaran, melainkan hanya memuaskan ego pribadi biar kelihatan paling benar.

Di titik inilah ajaran Islam hadir bukan sebagai dogma yang mengekang, namun sebagai pedoman logistik yang sangat relevan. Islam mempunyai prinsip berkomunikasi bernama Qaulan Sadida, yaitu menyampaikan sesuatu dengan jujur, benar, dan tepat sasaran. Namun, menyampaikan kebenaran pun adabnya. Dalam tradisi Islam, pemberian nasihat itu idealnya dilakukan secara tertutup (satr) demi menjaga kehormatan orang lain. Ketika kritik kita ubah jadi tontonan massal di kolom komentar, tujuannya berubah dari merangkul menjadi memalukan.

Sebelum buru-buru ngetik komentar pedas atau ikut gelombang menghujat, coba berhenti sejenak dan gunakan filter ini: Apakah ucapan kita benar-benar membawa manfaat? Apakah kita sudah melakukan tabayyun atau hanya kemakan potongan video tanpa tahu konteks utamanya?

Menahan diri di dunia digital bukan berarti kita tertidur atau tidak peduli. Justru, memilih diam dan berpikir dingin ketika suasana sedang panas adalah bentuk kedewasaan mental dan spiritual yang paling nyata saat ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image