Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image jamus anisa

Aku Juga Manusia Biasa

Curhat | 2026-09-20 11:53:57
ilustrasi oleh AI

"Kenapa sih susah sekali mengarahkan orang ini?" Kalimat itu berkelebat penuh kejengkelan di dalam hati saya suatu sore. Rasa frustasi dan amarah yang membuncah saat mendampingi klien membuat saya uring-uringan sepanjang hari. Namun juga disaat yang sama, gelombang penyesalan dan rasa bersalah menghantam hati saya. "Seharusnya aku nggak boleh begini," batin saya bergejolak. Sebagai seorang pekerja sosial, bukankah saya seharusnya menjadi tempat yang sabar dan aman bagi mereka? Pengalaman batin ini menyadarkan saya pada sebuah ironi: betapa mudahnya kita menuntut kesempurnaan perubahan dari orang lain, sementara di dalam diri sendiri, kita kerap gagal menjinakkan amarah.

Dalam dunia pekerjaan sosial, kita kerap mendengar prinsip bahwa seorang praktisi harus menggunakan dirinya sendiri sebagai alat. Alat utama seorang pekerja sosial bukanlah sekadar lembar asesmen, modul intervensi, atau deretan teori ilmiah, melainkan kepribadian, empati, dan kehadiran mental kita sendiri. Namun, ironisnya, "alat" ini terbuat dari daging, darah, dan jiwa manusia yang rentan lelah, kehabisan energi, dan kehilangan kendali. Di sinilah batasan antara emosi diri sendiri dan emosi klien sering kali kabur, membuat kita lupa bahwa pekerja sosial juga manusia.

Ketika kita menyelami dinamika ini melalui kacamata teori Person-in-Environment (PIE) dan perspektif biopsikososiospiritual, kita diingatkan bahwa proses pertolongan bukanlah sekadar pertemuan dua pihak yang steril, melainkan perjumpaan dua riwayat hidup yang sama-sama kompleks. Klien datang membawa pola perilaku, mekanisme pertahanan diri, trauma masa lalu, hingga keterbatasan kognitif yang terbentuk sepanjang sejarah hidupnya. Di sisi lain, pekerja sosial juga bukanlah lembaran kertas kosong (tabula rasa). Kita hadir dengan membawa sisa-sisa kelelahan pribadi, ekspektasi idealis, dan sistem nilai yang kadang berbenturan dengan realitas di lapangan.

Untuk menjembatani kompleksitas ini, seorang pekerja sosial perlu memperluas wawasan melalui sintesis berbagai mazhab filsafat, baik Barat maupun Timur. Dari khazanah psikologi Barat (seperti psikoanalisis Freud atau Erikson), kita belajar mengenali mekanisme pertahanan diri dan fenomena countertransference—yakni ketika emosi atau frustrasi pribadi pekerja sosial terpancing oleh dinamika psikologis klien. Sementara itu, dari kearifan filsafat Timur dan Islam (seperti kerangka berpikir Ibrahim Ragab tentang orientasi hidup sebagai ibadah dan khalifah), kita disadarkan bahwa intervensi sosial bukanlah ajang untuk memuaskan ego atau ambisi agar klien tunduk pada perintah kita. Esensi pertolongan adalah sebuah pengabdian transendental yang menuntut kesabaran mutlak dan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan.

Lantas, bagaimana cara mencapai titik penguasaan diri (mastering yourself) setelah insiden penuh sesal seperti itu? Menguasai diri bukan berarti meniadakan emosi manusiawi seperti rasa marah atau lelah, karena itu adalah respons yang wajar. Penguasaan diri adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, mengenali pemicu emosi tersebut, lalu melakukan refleksi berkala (self-awareness). Ketika kita menyadari bahwa kapasitas klien memiliki batas, dan batas kesabaran kita pun sedang diuji, di situlah ruang refleksi bekerja.

Pada akhirnya, tulisan refleksi ini adalah sebuah pengingat bagi diri saya sendiri dan siapa pun di luar sana yang bergiat di dunia kemanusiaan. Menjadi pekerja sosial adalah sebuah proses belajar tanpa henti untuk memanusiakan manusia, yang selalu harus dimulai dari satu titik terdekat: memanusiakan, memahami, dan berdamai dengan kerapuhan diri sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image