Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shanti Rahmawati

Majapahit: Kerajaan Nusantara yang Pernah Menyatukan Asia Tenggara

Sejarah | 2026-09-16 12:17:15

Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293 Masehi, tak lama setelah runtuhnya Kerajaan Singasari akibat pemberontakan Jayakatwang. Raden Wijaya, seorang menantu raja terakhir Singasari, awalnya melarikan diri dan berlindung di wilayah hutan Tarik. Ia kemudian memanfaatkan momentum kedatangan pasukan ekspedisi Kubilai Khan dari Dinasti Yuan (Mongol) — yang sejatinya datang untuk menghukum Jayakatwang — untuk membalikkan keadaan dan menyingkirkan pasukan Mongol tersebut setelah tujuannya tercapai. Dari peristiwa inilah cikal bakal Kerajaan Majapahit lahir, dengan pusat pemerintahan di daerah yang kini masuk wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Puncak Kejayaan: Era Hayam Wuruk dan Gajah Mada

Majapahit mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350–1389), yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada. Gajah Mada dikenal luas lewat Sumpah Palapa, ikrar yang menyatakan dirinya tidak akan menikmati kesenangan duniawi sebelum berhasil menyatukan Nusantara di bawah panji Majapahit.

Kitab Nagarakretagama, karya Mpu Prapanca yang ditulis pada masa itu, mencatat luasnya wilayah pengaruh Majapahit — meliputi sebagian besar Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah timur Nusantara. Perlu dicatat, para sejarawan modern tetap memperdebatkan sejauh mana klaim wilayah tersebut mencerminkan kekuasaan administratif langsung dibandingkan sekadar hubungan pengaruh, persekutuan, atau jalur perdagangan dan diplomasi.

Warisan Budaya

Beberapa peninggalan penting dari era Majapahit masih dapat ditelusuri hingga kini, di antaranya:

  • Candi Penataran di Blitar, salah satu kompleks candi terbesar peninggalan era Majapahit.
  • Kitab Nagarakretagama dan Kitab Pararaton, dua sumber sejarah utama yang menjadi rujukan banyak penelitian tentang Majapahit.
  • Sutasoma, sumber semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
  • Berbagai arca, prasasti, dan situs purbakala yang tersebar di wilayah Jawa Timur.

Kemunduran dan Keruntuhan

Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada 1389, Majapahit mulai memasuki masa kemunduran. Salah satu pemicu utamanya adalah Perang Paregreg, perang saudara yang terjadi pada awal abad ke-15 memperebutkan takhta kerajaan, yang menguras kekuatan politik dan militer Majapahit. Di saat bersamaan, pengaruh kerajaan-kerajaan bercorak Islam di kawasan pesisir utara Jawa — seperti Demak — mulai tumbuh dan perlahan menggeser dominasi Majapahit. Kerajaan ini diperkirakan benar-benar runtuh pada awal abad ke-16, menandai berakhirnya era kerajaan Hindu-Buddha besar terakhir di tanah Jawa.

Warisan Majapahit bagi Indonesia Modern

Meski telah runtuh lebih dari lima abad lalu, gagasan tentang persatuan wilayah yang diwariskan Majapahit tetap hidup dalam ingatan sejarah Indonesia modern. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari kitab Sutasoma kini menjadi semboyan resmi negara, tercantum dalam lambang Garuda Pancasila. Nama Majapahit dan tokoh-tokohnya, seperti Gajah Mada, juga banyak diabadikan dalam penamaan universitas, jalan, hingga institusi publik di berbagai daerah di Indonesia — sebuah pengingat bahwa cita-cita persatuan Nusantara bukanlah gagasan baru, melainkan warisan yang telah dirintis berabad-abad sebelumnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image