Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ari Ridho Susanto

Menakar Jangkar Indonesia Emas Poros Maritim Dunia

Pendidikan | 2026-09-16 05:50:11

Pencapaian peradaban Indonesia Emas sudah sepatutnya berjangkar pada penetapan bangsa ini sebagai Poros Maritim Dunia. Keberadaan maritim bagi Indonesia bukanlah sebatas kondisi fisik atau letak geografis di atas peta, melainkan karakteristik mendasar dan identitas nasional yang tertanam melalui aktivitas kolektif lintas generasi. Aktivitas kolektif masyarakat bahari masa lalu tersebut pada prosesnya melahirkan dimensi spiritualitas yang bersifat kosmosentris. Pandangan hidup yang menyatu dengan alam ini kemudian memicu lahirnya pertanyaan-pertanyaan epistemologis mendasar, yang dalam jejak sejarahnya turut membidani kemunculan ilmu pengetahuan modern sebelum akhirnya mendominasi dunia Barat.

Namun, kesadaran sejarah dan identitas maritim tersebut belakangan ini kian terkikis oleh arus pemikiran hegemonik. Muncul paradigma umum yang menganggap bahwa tolok ukur tunggal atas kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan modern sepenuhnya berasal dari Barat. Dampak dari konstruksi berpikir tersebut membuat generasi muda cenderung memandang bahwa modernisasi dan kemajuan sebuah bangsa harus selalu berkaca ke dunia Barat. Hal ini menciptakan inferioritas budaya dan pengabaian terhadap akar pengetahuan lokal yang pernah berjaya di wilayah perairan nusantara.

Dalam konteks ketimpangan pemahaman inilah posisi pekerja sosial menjadi sangat krusial saat bertindak sebagai pendidik publik. Pekerja sosial mengemban misi untuk mengajak masyarakat merefleksikan kembali hakikat dasar serta identitas sejati bangsa yang telah lama terasingkan. Melalui kerja penyadaran tersebut, pemahaman mendalam tentang identitas maritim dapat digunakan untuk menyingkap realitas yang ada di balik keragaman masyarakat. Pekerja sosial bertugas mengikis pemaknaan keliru yang mengaitkan kemajuan semata-mata dengan paradigma Barat secara bertahap.

Upaya reflektif ini juga mengembalikan nilai spiritualitas pada tempatnya yang utuh. Spiritualitas tidak lagi dipersempit sebagai formalitas administratif semata, melainkan dihayati sebagai etika penuntun dan fondasi identitas dalam mendesain masa depan peradaban Indonesia Emas. Di sisi lain, tata kelola maritim modern merupakan ranah yang sangat luas serta diwarnai oleh kompetisi global yang ketat. Oleh sebab itu, pengelolaannya tetap menuntut penguasaan atas standar-standar internasional agar mampu bersaing secara adil di panggung dunia.

Kendati wajib mengacu pada standar global, penerapan kebijakan maritim di Indonesia tidak boleh melepaskan fitrah kebudayaannya sendiri. Unsur spiritualitas lokal terbukti mampu melahirkan gagasan ontologis yang relevan untuk memecahkan masalah kompleks, sebagaimana ritual penolak bala suku Laut yang secara substantif sejalan dengan prinsip mitigasi bencana modern. Sebagai penutup, pekerja sosial yang diamanahkan untuk membangun keberfungsian masyarakat demi kesejahteraan yang berkelanjutan harus menghargai keragaman sudut pandang tersebut. Memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk menentukan arah hidupnya berdasarkan nilai lokal adalah bentuk intervensi sosial yang nyata dan mendalam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image