Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image kkn desa tarikan gel 2

Belajar Mengatur Uang Jajan Bersam Mahasiswa KKN di Desa Tarikan

Eduaksi | 2026-09-03 13:56:53
Anak-anak mempraktikkan pengenalan dan penggunaan uang dalam kegiatan edukasi literasi keuangan di Desa Tarikan. Sumber: Dokumentasi pribadi KKN UIN Jambi.

Pernahkah kita bertanya kepada seorang anak, “Uang jajannya tadi digunakan untuk apa?”

Jawabannya terkadang sederhana. “Buat beli jajan.” Ketika ditanya lagi, “Jajannya apa saja?” tidak sedikit anak yang mulai lupa. Uang yang pagi tadi masih ada di tangan, beberapa jam kemudian sudah habis tanpa mereka benar-benar menyadari ke mana perginya.

Bagi orang dewasa, menghabiskan uang dalam jumlah kecil mungkin terlihat sebagai hal biasa. Namun, bagi seorang anak, pengalaman sederhana seperti membeli jajanan, menyimpan uang, atau meminta tambahan uang kepada orang tua sebenarnya merupakan proses belajar yang penting. Dari uang jajan itulah anak dapat mulai mengenal arti memilih, menentukan prioritas, menahan keinginan, dan menerima akibat dari keputusan yang dibuat.

Hal inilah yang menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi di Desa Tarikan, Kecamatan Kumpeh Ulu. Melalui kegiatan edukasi sederhana, anak-anak diajak memahami bahwa uang yang mereka pegang bukan sekadar alat untuk membeli jajanan, tetapi juga amanah yang perlu digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Ketika Uang Jajan Cepat Habis

Di Desa Tarikan, anak-anak usia sekolah dasar sudah mulai terbiasa memegang uang sendiri. Ada yang mendapat uang jajan setiap hari dari orang tua. Ada pula yang memiliki uang sisa belanja dan kemudian menyimpannya.

Namun, memiliki uang belum tentu berarti mampu mengelolanya.

Sebagian anak masih mudah tergoda untuk membeli sesuatu hanya karena melihat jajanan yang menarik. Ketika ada makanan atau mainan yang disukai, keinginan untuk membeli sering kali lebih kuat daripada pertimbangan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Akibatnya, uang jajan bisa habis lebih cepat dari yang diperkirakan.

Ada anak yang menghabiskan seluruh uangnya di awal hari. Setelah uang habis, mereka kemudian meminjam kepada teman atau meminta tambahan uang kepada orang tua. Ketika ditanya mengapa uangnya cepat habis, jawabannya sering kali sederhana, seperti “lupa” atau “tidak sengaja”.

Padahal, dari kebiasaan kecil tersebut terdapat pelajaran besar. Anak perlu memahami bahwa setiap uang yang diterima memiliki batas. Jika uang digunakan untuk membeli sesuatu, maka jumlah uang yang tersisa akan berkurang. Jika semuanya digunakan untuk jajan, maka tidak ada lagi yang bisa disimpan.

Dengan kata lain, setiap pilihan mempunyai konsekuensi.

Anak-anak mempraktikkan pengenalan dan penggunaan uang dalam kegiatan edukasi literasi keuangan di Desa Tarikan. Sumber: Dokumentasi pribadi KKN UIN Jambi.

Uang Jajan Bukan Sekadar untuk Jajan

Selama ini, uang jajan mungkin dianggap sebagai uang yang memang disediakan untuk membeli makanan atau minuman. Padahal, uang jajan dapat menjadi media pembelajaran keuangan yang sangat sederhana bagi anak.

Melalui uang jajan, anak dapat belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.

Misalnya, seorang anak memiliki uang Rp10.000. Ia ingin membeli minuman seharga Rp5.000 dan makanan ringan seharga Rp3.000. Setelah itu, ia masih memiliki Rp2.000. Uang tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan lain atau disimpan.

Contoh sederhana seperti ini dapat membantu anak memahami bahwa uang tidak harus selalu dihabiskan.

Menabung juga tidak harus dimulai dari jumlah besar. Anak dapat belajar menyisihkan sebagian kecil uang yang dimiliki. Yang terpenting bukan berapa banyak uang yang berhasil ditabung, tetapi kebiasaan untuk menyisihkan dan mengatur uang tersebut.

Penelitian tentang perilaku konsumtif menunjukkan bahwa besarnya uang saku dapat memengaruhi pola konsumsi seseorang. Semakin besar uang saku yang diterima, semakin besar pula kemungkinan seseorang berperilaku konsumtif apabila tidak mendapatkan pendampingan yang tepat. Karena itu, pemberian uang kepada anak sebaiknya juga diikuti dengan pendidikan mengenai cara menggunakannya.

Mengajarkan anak tentang uang sejak dini juga bukan berarti membuat mereka terlalu memikirkan masalah keuangan seperti orang dewasa. Justru sebaliknya, anak sedang dikenalkan pada kebiasaan sederhana yang nantinya dapat menjadi bekal ketika mereka tumbuh dewasa.

Anak yang sejak kecil terbiasa mencatat pengeluaran, menyisihkan uang, dan mempertimbangkan sebelum membeli sesuatu akan memiliki pengalaman dalam mengambil keputusan keuangan.

Belajar dari Hal-Hal yang Dekat dengan Anak

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN UIN Jambi mencoba memberikan edukasi dengan cara yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Kegiatan tidak hanya dilakukan dalam bentuk penyampaian materi, tetapi juga melalui diskusi dan praktik sederhana.

Anak-anak diajak bercerita mengenai kebiasaan mereka menggunakan uang jajan. Mereka ditanya apa yang biasanya dibeli, kapan uang mereka habis, apakah pernah meminjam uang kepada teman, dan apakah pernah meminta tambahan uang kepada orang tua.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, dari sanalah anak mulai diajak berpikir tentang kebiasaan mereka sendiri.

Mereka tidak hanya diberi tahu bahwa boros itu tidak baik. Mereka diajak menemukan sendiri mengapa uang bisa cepat habis dan apa yang dapat dilakukan agar hal tersebut tidak terus terjadi.

Mahasiswa KKN kemudian memperkenalkan latihan mencatat uang jajan menggunakan buku kecil. Anak-anak diminta menuliskan berapa uang yang mereka terima, apa yang mereka beli, dan berapa sisa uang pada akhir hari.

Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki manfaat besar. Dengan mencatat, anak dapat melihat kembali ke mana uang mereka digunakan.

Misalnya, pagi hari mereka menerima Rp10.000. Setelah membeli makanan Rp4.000 dan minuman Rp3.000, mereka mengetahui bahwa masih ada Rp3.000. Dari catatan itu, anak dapat mulai bertanya kepada dirinya sendiri: apakah sisa uang tersebut akan digunakan untuk membeli sesuatu lagi atau disimpan?

Di sinilah proses belajar bertanggung jawab mulai tumbuh.

Memilih, Bukan Sekadar Membeli

Selain mencatat uang jajan, mahasiswa KKN juga mengadakan simulasi pengambilan keputusan menggunakan uang mainan.

Anak-anak diberikan sejumlah uang mainan. Mereka kemudian diminta memilih apakah uang tersebut akan digunakan untuk membeli jajanan, ditabung, atau disisihkan untuk berbagi.

Menariknya, tidak ada pilihan yang langsung dianggap paling benar.

Anak yang memilih membeli jajanan tidak berarti salah. Anak yang memilih menabung juga bukan berarti paling baik. Yang terpenting adalah mereka mampu menjelaskan alasan di balik pilihannya dan memahami akibat dari keputusan tersebut.

Jika seluruh uang digunakan untuk membeli jajanan, misalnya, maka uang yang tersisa untuk ditabung tentu lebih sedikit. Sebaliknya, jika sebagian uang ditabung, anak mungkin harus menunda keinginan membeli sesuatu.

Dari permainan sederhana itu, anak belajar bahwa mengatur uang sebenarnya adalah kegiatan memilih.

Kita tidak selalu bisa mendapatkan semua yang kita inginkan pada saat yang sama. Ada kalanya kita harus menentukan mana yang lebih penting dan mana yang bisa ditunda.

Pelajaran seperti ini sangat penting karena kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan merupakan salah satu dasar dalam mengambil keputusan keuangan secara bertanggung jawab.

Perubahan Kecil yang Mulai Terlihat

Setelah mengikuti kegiatan, beberapa anak mulai menunjukkan perubahan kecil. Ada yang mulai berpikir lebih lama sebelum membeli sesuatu. Ada pula yang mulai terbuka menceritakan kepada orang tua tentang penggunaan uang jajannya.

Beberapa anak juga mulai mencoba mencatat pengeluaran harian mereka menggunakan buku kecil yang dibuat sendiri.

Perubahan tersebut memang belum besar. Namun, justru perubahan kecil seperti itulah yang menjadi tanda bahwa anak mulai memahami hubungan antara uang, pilihan, dan tanggung jawab.

Anak mulai mengetahui bahwa ketika uang habis, ada alasan di baliknya. Mereka mulai menyadari bahwa uang tidak hilang begitu saja, tetapi telah digunakan untuk berbagai kebutuhan atau keinginan.

Kesadaran semacam ini tidak dapat muncul hanya dalam satu kali kegiatan. Anak membutuhkan latihan yang dilakukan berulang-ulang.

Karena itu, pendidikan tentang pengelolaan uang sebaiknya tidak berhenti ketika kegiatan KKN selesai.

Peran Orang Tua Sangat Penting

Mahasiswa KKN dapat memberikan edukasi, tetapi kebiasaan anak sehari-hari tetap banyak dipengaruhi oleh lingkungan terdekat, terutama keluarga.

Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak ketika menggunakan uang.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mengatur sebagian uang jajannya sendiri. Anak dapat diberi kebebasan memilih, tetapi tetap diarahkan untuk memahami konsekuensi dari pilihan tersebut.

Jika uang jajannya habis karena digunakan untuk membeli terlalu banyak jajanan, misalnya, anak tidak selalu harus langsung diberi tambahan uang. Dalam batas yang wajar, membiarkan anak merasakan akibat dari keputusannya dapat menjadi pengalaman belajar.

Dengan begitu, anak perlahan memahami bahwa uang yang dimiliki perlu direncanakan penggunaannya.

Orang tua juga dapat menjadi contoh. Anak sering kali belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang tua terbiasa membuat perencanaan, tidak membeli sesuatu secara berlebihan, dan membiasakan menabung, anak dapat melihat langsung bagaimana uang dikelola.

Pendidikan literasi keuangan sejak usia dini memang penting agar anak terbiasa hidup hemat, tidak boros, dan tidak mudah terbawa pola hidup konsumtif.

Dari Uang Jajan Menuju Kebiasaan di Masa Depan

Mengajarkan anak bertanggung jawab terhadap uang bukan berarti mengajarkan mereka menjadi pelit. Menabung bukan berarti anak tidak boleh membeli sesuatu yang mereka sukai. Begitu pula menggunakan uang untuk bersenang-senang bukan berarti selalu salah.

Yang perlu ditanamkan adalah keseimbangan.

Anak perlu memahami bahwa ada saatnya menggunakan uang untuk kebutuhan, ada saatnya menyimpan, dan ada pula saatnya berbagi.

Dari uang jajan yang jumlahnya mungkin hanya beberapa ribu rupiah, sebenarnya anak sedang belajar mengambil keputusan. Mereka sedang belajar bahwa keinginan tidak harus selalu dipenuhi, bahwa uang memiliki batas, dan bahwa setiap pilihan memiliki akibat.

Pelajaran tersebut mungkin terlihat kecil ketika dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar. Namun, kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali dapat menjadi bekal ketika mereka dewasa.

Seperti halnya kemampuan membaca dan berhitung yang perlu dilatih sejak kecil, kemampuan mengelola uang juga membutuhkan pembiasaan.

KKN sebagai Awal dari Kebiasaan Baik

Kehadiran mahasiswa KKN UIN Jambi di Desa Tarikan memberikan warna tersendiri dalam proses pembelajaran anak-anak. Melalui kegiatan sederhana, mahasiswa tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga mengajak anak-anak belajar dari pengalaman sehari-hari mereka sendiri.

Kegiatan mencatat uang jajan, berdiskusi, dan melakukan simulasi memilih penggunaan uang mungkin terlihat sederhana. Namun, kegiatan tersebut memberikan ruang kepada anak untuk belajar mengambil keputusan.

Lebih dari sekadar mengenalkan uang, kegiatan ini mengajarkan sebuah sikap: bertanggung jawab terhadap apa yang dimiliki.

Tentu, kebiasaan tersebut tidak dapat terbentuk dalam satu hari. Dibutuhkan kerja sama antara anak, orang tua, guru, dan lingkungan sekitar agar pembelajaran yang telah dimulai dapat terus berjalan.

Sekolah dapat membantu dengan membiasakan anak mencatat uang saku. Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mengatur uang. Sementara itu, anak dapat terus berlatih membedakan kebutuhan dan keinginan.

Pada akhirnya, mengajarkan anak bertanggung jawab atas uang yang dimilikinya bukan hanya tentang bagaimana mereka menggunakan uang hari ini. Lebih dari itu, ini adalah tentang membangun kebiasaan untuk berpikir sebelum bertindak.

Uang jajan yang sederhana ternyata bisa menjadi guru yang baik.

Dari uang beberapa ribu rupiah, anak belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi. Dari sisa uang yang disimpan, mereka belajar tentang kesabaran. Dari uang yang dibagikan, mereka belajar tentang kepedulian. Dan dari uang yang habis karena salah memilih, mereka belajar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.

Mahasiswa KKN UIN Jambi di Desa Tarikan mungkin hanya memulai sebuah langkah kecil. Namun, langkah kecil tersebut dapat menjadi awal bagi tumbuhnya generasi yang lebih bijak dalam menggunakan uang, mampu menentukan prioritas, berani mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas apa yang mereka miliki.

Sebab, belajar mengelola uang tidak harus menunggu dewasa.

Anak-anak dapat mulai belajar dari uang jajannya hari ini.

Penulis: Rahma Munawaroh. Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam,Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image