Nagari Minangkabau
Sastra | 2026-08-28 20:11:57
Puisi by Tonny Rivani
Ranah Nan Tertanam di Dalam Diri
Di kaki gunung yang menjulang,
di antara lembah dan kabut pagi,
terbentang Ranah Minang yang tenang,
tempat hati belajar arti kembali.
Nagari Minangkabau nian indah,
bukan sekadar elok dipandang mata,
tetapi menyimpan hikayat yang panjang,
adat, budaya, dan marwah manusia.
Di sana rumah gadang berdiri,
atap gonjong menembus langit,
seakan berkata kepada anak negeri,
“Jangan lupakan dari mana engkau berangkat.”
Sawah menghampar menghijau,
air mengalir membelah pematang,
alam bukan sekadar tempat berpijak,
tetapi sahabat dalam perjalanan panjang.
Di surau terdengar suara mengaji,
malam bertabur cahaya dan doa, anak-anak belajar mengenal Ilahi,
sebelum melangkah menjemput dunia.
Minangkabau mengajarkan kehidupan,
adat dijunjung, agama menjadi pedoman,
sebagaimana falsafah yang diwariskan:
“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”
Di ranah ini, merantau bukan berarti melupakan,
jauh langkah boleh meninggalkan nagari,
tetapi hati tetap membawa kenangan.
Ke mana pun kaki pergi,
gunung Singgalang, Merapi, dan Sago seakan menjadi kompas dalam diri,
mengingatkan: pulang bukan sekadar kembali ke tempat,
melainkan kembali kepada akar jati diri.
Ranah Minang adalah bahasa ibu,
yang berbicara melalui dendang dan saluang,
melalui pepatah yang penuh makna,
melalui adat yang menjaga keseimbangan.
Di pasar, di surau, di lapau,
orang berbincang tentang hidup dan masa depan,
kata-kata menjadi jembatan persaudaraan,
dan perbedaan bukan alasan untuk berpisah.
Namun keindahan bukan hanya pada alam,
bukan hanya pada rumah gadang dan pakaian,
keindahan terbesar sebuah nagari adalah manusia yang menjaga kehormatan.
Wahai anak Minangkabau,
jangan biarkan zaman menghapus jejak,
modernlah dalam pikiran dan langkah,
tetapi jangan tercerabut dari adat dan sejarah.
Sebab nagari bukan sekadar tanah kelahiran,
ia adalah rumah bagi ingatan,
tempat nilai diwariskan dari generasi ke generasi,
tempat identitas menemukan maknanya.
Jika suatu hari aku jauh,
dan dunia membawa langkahku berkelana,
akan selalu ada satu suara di dalam kalbu:
“Pulanglah ke Ranah Minang,
ke nagari tempat akar kehidupan tertanam,
ke tanah yang mengajarkan bahwa manusia boleh tinggi bermimpi,
tetapi jangan lupa tanah tempat ia berpijak.”
Nagari Minangkabau nian indah,
indah alamnya, indah budayanya,
indah adatnya, indah persaudaraannya.
Dan bila waktu terus berjalan,
generasi berganti, zaman berubah,
semoga Ranah Minang tetap menjadi cahaya
— bukan hanya karena keindahan alamnya,
tetapi karena manusia-manusianya tetap menjaga adat, ilmu, agama, dan marwah nagari.
Sebab sejauh apa pun merantau,
sejauh apa pun dunia memanggil,
ada sebuah ranah yang tak pernah benar-benar ditinggalkan:
Minangkabau— nagari nian indah, ranah nan tak hilang dari hati.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
