Gengsi dalam Gaya Hidup: Mengapa Kita Ingin Terlihat Lebih dari Orang Lain?
Gaya Hidup | 2026-08-23 11:52:08Harga barang tidak selalu berhenti pada angka yang tertera di label. Bagi sebagian orang, sebuah ponsel mahal, pakaian bermerek, kendaraan baru, atau makan di restoran tertentu memiliki nilai lain: kesan yang muncul ketika orang lain melihatnya.
Fenomena tersebut semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin mengganti telepon genggam meskipun perangkat lamanya masih berfungsi baik. Ada pula yang memilih kendaraan berdasarkan merek dan tampilannya, bukan semata-mata kebutuhan transportasi. Sebagian lainnya rela mengeluarkan uang lebih besar untuk berlibur atau makan di tempat tertentu karena pengalaman tersebut dapat ditampilkan di media sosial.
Persoalannya bukan terletak pada membeli barang mahal. Memiliki kemampuan finansial dan memilih produk berkualitas merupakan hal yang wajar. Masalah muncul ketika keputusan konsumsi lebih banyak ditentukan oleh keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial daripada kebutuhan sebenarnya.
Dalam ilmu ekonomi dan perilaku konsumen, fenomena semacam ini dapat dikaitkan dengan conspicuous consumption, yaitu konsumsi yang dilakukan untuk menunjukkan kekayaan, status, atau posisi sosial. Konsep tersebut diperkenalkan oleh ekonom Thorstein Veblen melalui bukunya The Theory of the Leisure Class pada 1899.
Dengan demikian, gengsi bukan sekadar persoalan “suka pamer”. Di belakangnya terdapat mekanisme psikologis dan sosial yang membuat manusia ingin terlihat berhasil di mata orang lain.
Gengsi dan Keinginan Mendapatkan Pengakuan
Manusia pada dasarnya hidup dalam lingkungan sosial. Penilaian orang lain dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Psikolog Abraham Maslow dalam teori hierarki kebutuhan menempatkan kebutuhan akan penghargaan (esteem needs) sebagai salah satu kebutuhan manusia. Penghargaan tersebut mencakup rasa kompeten, percaya diri, pencapaian, status, dan pengakuan dari orang lain.
Keinginan memperoleh pengakuan sebenarnya tidak selalu buruk. Seorang mahasiswa ingin mendapatkan nilai bagus, misalnya, dapat terdorong oleh keinginan untuk membuktikan kemampuan dirinya. Seorang pekerja ingin mendapatkan promosi karena ingin berkembang sekaligus memperoleh penghargaan atas pekerjaannya.
Masalahnya muncul ketika pengakuan sosial menjadi ukuran utama harga diri.
Seseorang kemudian mulai membandingkan dirinya dengan lingkungan. Ketika teman membeli telepon genggam terbaru, muncul keinginan untuk memiliki produk yang sama. Ketika orang lain mengunggah liburan ke luar negeri, muncul perasaan bahwa dirinya tertinggal. Ketika lingkungan menganggap kendaraan tertentu sebagai simbol keberhasilan, seseorang dapat merasa perlu memilikinya agar tidak dianggap kurang mampu.
Di sinilah gengsi bekerja.
Penelitian mengenai social comparison menunjukkan bahwa manusia cenderung mengevaluasi dirinya dengan membandingkan kemampuan, pencapaian, dan kondisi dirinya dengan orang lain. Teori perbandingan sosial yang diperkenalkan Leon Festinger pada 1954 menjelaskan bahwa individu memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya melalui perbandingan dengan orang lain.
Dalam kondisi tertentu, perbandingan tersebut dapat menjadi motivasi. Namun, jika dilakukan secara terus-menerus dan berorientasi pada status, seseorang dapat terjebak dalam perlombaan sosial yang tidak memiliki garis akhir.
Selalu ada orang yang memiliki barang lebih mahal, rumah lebih besar, kendaraan lebih mewah, atau pengalaman lebih eksklusif.
Akibatnya, standar “cukup” menjadi semakin sulit ditemukan.
Media Sosial Membuat Gengsi Semakin Mudah Dipertontonkan
Media sosial mengubah cara seseorang menunjukkan gaya hidup.
Dahulu, orang mungkin hanya bisa memperlihatkan barang baru kepada lingkungan terdekat. Sekarang, satu unggahan dapat dilihat oleh ratusan bahkan ribuan orang.
Instagram, TikTok, dan platform lainnya memungkinkan seseorang menampilkan bagian tertentu dari kehidupannya kepada publik. Masalahnya, apa yang terlihat di media sosial sering kali hanyalah potongan kehidupan yang telah dipilih.
Seseorang dapat mengunggah foto makan di restoran mahal tanpa menunjukkan kondisi keuangannya secara keseluruhan. Seseorang dapat menampilkan kendaraan baru tanpa memperlihatkan cicilan yang harus dibayar setiap bulan.
Inilah yang membuat media sosial berpotensi memperkuat budaya perbandingan.
Laporan Digital 2025 dari DataReportal menunjukkan bahwa penggunaan media sosial di Indonesia berada pada skala yang sangat besar, dengan ratusan juta identitas pengguna media sosial tercatat pada awal 2025. Kondisi tersebut menunjukkan betapa luasnya ruang digital tempat masyarakat menampilkan dan mengamati kehidupan orang lain. (datareportal.com)
Algoritma platform juga dapat memperkuat fenomena tersebut. Konten mengenai kemewahan, perjalanan, fesyen, kendaraan, makanan, dan gaya hidup memiliki daya tarik visual yang tinggi sehingga mudah dikonsumsi berulang kali.
Akibatnya, seseorang dapat terus-menerus melihat kehidupan yang tampak lebih menarik daripada kehidupannya sendiri.
Dalam konteks ini, muncul FOMO (fear of missing out), yaitu kekhawatiran bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman yang lebih baik sementara dirinya tertinggal.
Gengsi akhirnya bukan hanya tentang memiliki sesuatu.
Ia berubah menjadi kebutuhan untuk terlihat memiliki sesuatu.
Perbedaan tersebut sangat penting.
Seseorang mungkin membeli sepatu mahal karena kualitas, kenyamanan, dan daya tahannya. Itu merupakan keputusan konsumsi yang rasional jika sesuai dengan kemampuan finansial.
Namun, jika sepatu tersebut dibeli terutama karena takut dianggap tidak mengikuti tren, keputusan tersebut lebih dekat dengan konsumsi berbasis status.
Ketika Gengsi Mengalahkan Kemampuan Finansial
Dampak paling serius dari gengsi muncul ketika keinginan mempertahankan citra melebihi kemampuan ekonomi.
Seseorang dapat membeli barang menggunakan utang, cicilan, atau layanan paylater hanya agar dapat mengikuti gaya hidup lingkungan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri terus mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya kemampuan membayar dalam menggunakan produk kredit dan pembiayaan. Dalam konteks konsumsi, kemudahan mendapatkan fasilitas pembiayaan dapat menjadi masalah apabila digunakan tanpa mempertimbangkan pendapatan dan kemampuan pembayaran. (ojk.go.id)
Bahaya lainnya adalah munculnya lifestyle inflation atau peningkatan gaya hidup ketika pendapatan meningkat.
Ketika pendapatan bertambah, seseorang seharusnya memiliki kesempatan untuk meningkatkan tabungan dan investasi. Namun, jika setiap kenaikan pendapatan langsung diikuti peningkatan pengeluaran untuk mempertahankan status sosial, kondisi keuangan belum tentu menjadi lebih sehat.
Contohnya sederhana.
Seseorang mendapatkan kenaikan pendapatan Rp2 juta per bulan. Alih-alih menambah dana darurat atau investasi, ia langsung mengganti telepon genggam, meningkatkan tempat nongkrong, membeli pakaian bermerek, dan mengambil cicilan kendaraan baru.
Secara pendapatan ia memang lebih tinggi.
Tetapi secara finansial, belum tentu lebih aman.
Gengsi juga dapat menimbulkan tekanan psikologis. Ketika harga diri bergantung pada penilaian orang lain, seseorang akan terus merasa perlu mempertahankan citra tertentu.
Hari ini harus menggunakan barang terbaru.
Besok harus mengikuti tren terbaru.
Bulan depan harus memiliki pengalaman yang tidak kalah dari orang lain.
Perlombaan tersebut tidak pernah benar-benar selesai.
Karena itu, solusi terhadap budaya gengsi bukan berarti mengajak masyarakat hidup miskin atau melarang seseorang menikmati hasil kerja kerasnya. Yang diperlukan adalah kemampuan membedakan kebutuhan, keinginan, dan kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan.
Sebelum membeli sesuatu, seseorang dapat bertanya:
“Kalau tidak ada seorang pun yang melihat barang ini, apakah saya masih ingin membelinya?”
Jika jawabannya tetap ya karena kualitas, manfaat, atau kebutuhan, keputusan tersebut kemungkinan lebih rasional.
Namun, jika jawabannya berubah menjadi tidak, mungkin yang sedang dibeli bukan sekadar barang, melainkan pengakuan dari orang lain.
Penutup
Gengsi merupakan bagian dari perilaku sosial manusia yang sulit sepenuhnya dihilangkan. Keinginan untuk dihargai, diakui, dan dianggap berhasil merupakan bagian dari kebutuhan psikologis manusia.
Yang perlu dikendalikan bukan keinginan untuk tampil baik, melainkan ketika penilaian orang lain menjadi fondasi utama dalam menentukan nilai diri.
Barang bermerek tidak otomatis berarti pamer. Kendaraan mahal tidak otomatis menunjukkan gengsi. Begitu pula liburan atau makan di restoran mahal tidak selalu berarti seseorang ingin mendapatkan pengakuan.
Konteks dan motivasinya yang menentukan.
Seseorang yang membeli barang mahal karena mampu dan memang membutuhkannya berbeda dengan seseorang yang memaksakan diri membeli barang yang sama hanya karena takut dianggap tertinggal.
Pada akhirnya, kehidupan tidak seharusnya menjadi perlombaan untuk terlihat lebih hebat daripada orang lain.
Sebab ketika standar kebahagiaan ditentukan oleh pandangan orang lain, seseorang akan selalu menemukan alasan untuk merasa kurang.
Gaya hidup seharusnya menjadi cerminan kemampuan dan pilihan pribadi, bukan panggung untuk membuktikan nilai diri kepada orang lain.
Referensi
- Veblen, Thorstein. The Theory of the Leisure Class. Macmillan, 1899.
- Festinger, Leon. “A Theory of Social Comparison Processes.” Human Relations, Vol. 7, 1954.
- Maslow, Abraham H. “A Theory of Human Motivation.” Psychological Review, Vol. 50, No. 4, 1943.
- DataReportal. Digital 2025: Indonesia. 2025. (datareportal.com)
- Otoritas Jasa Keuangan. Edukasi dan Perlindungan Konsumen. (ojk.go.id)
- Otoritas Jasa Keuangan. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan. (ojk.go.id)
- OECD. Consumer Policy Toolkit. OECD Publishing.
- World Bank. Indonesia Economic Prospects. World Bank.
- Dittmar, Helga. Consumer Culture, Identity and Well-Being. Psychology Press, 2008.
- Belk, Russell W. “Possessions and the Extended Self.” Journal of Consumer Research, Vol. 15, No. 2, 1988.
- Kasser, Tim. The High Price of Materialism. MIT Press, 2002.
- McKinsey & Company. The State of Fashion. McKinsey & Company.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
