Ketika Ambisi Berlari Lebih Cepat daripada Tubuh
Edukasi | 2026-08-22 22:13:31Bagaimana jika kesibukan yang selama ini kita banggakan justru perlahan menjadi salah satu alasan untuk kita mengabaikan kesehatan?
Bekerja delapan jam sehari, menatap layar laptop dalam waktu yang lama, duduk tanpa jeda, menjadikan kopi sebagai hal yang wajib ada dalam menjalani hari dan pulang ke rumah kembali menatap layar ponsel atau bahkan masih sibuk dengan pekerjaan lainnya. Rutinitas tersebut nampaknya terasa wajar bagi sebagian generasi muda yang sadar bahwa saat ini kita hidup di zaman yang serba cepat. Pendidikan, pekerjaan, karier dan berbagai target kehidupan seolah menuntut untuk terus begerak dan tidak berhenti mengejar ketertinggalan. Kita begitu sibuk menyiapkan masa depan, tetapi lupa memastikan bahwa tubuh yang akan membawa kita ke masa itu tetap sehat.
Persoalannya bukanlah tentang generasi muda sekarang malas bergerak, karena justru banyak anak muda yang saat ini bekerja keras untuk mengejar pendidikan, membangun karier, mengembangkan keahlian, membuat usaha dan mempersiapkan masa depan. Masalahnya terletak pada cara kita menjalani aktivitas sehari-hari yang perlahan berubah seiring perkembangan teknologi. Banyak hal yang sebelumnya mengharuskan seseorang berpindah tempat kini dapat dilakukan hanya melalui layar. Seseorang dapat bekerja dari rumah, memesan makanan tanpa perlu meninggalkan tempat duduk, berbelanja melalui ponsel, menghadiri rapat secara online tanpa berpindah ruangan, bahkan menikmati hiburan tanpa perlu keluar rumah. Teknologi tersebut membawa manfaat karena mempermudah kehidupan, namun pada saat yang sama membuat hidup minim gerak terasa semakin wajar dilakukan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu atau aktivitas intensitas tinggi selama 75–150 menit per minggu. WHO juga menekankan bahwa mengganti waktu sedentari dengan aktivitas fisik dalam intensitas apa pun dapat memberikan manfaat kesehatan. Artinya, hidup aktif tidak harus selalu dimulai dari olahraga berat atau keanggotaan pusat kebugaran. Berjalan kaki, bersepeda, melakukan pekerjaan rumah, menggunakan tangga, atau sekadar mengurangi waktu duduk juga merupakan bagian dari aktivitas fisik. Persoalannya, kesibukan sering membuat kita menganggap aktivitas fisik sebagai sesuatu yang dapat dilakukan nanti.
Ada kebiasaan lain yang menurut saya tidak kalah penting untuk direnungkan: kita mulai menjadikan kesibukan sebagai ukuran produktivitas. “Sedang banyak pekerjaan”, “belum tidur karena deadline pekerjaan”, atau “seharian meeting” terdengar seperti keluhan, tetapi terkadang juga menjadi simbol bahwa seseorang sedang berjuang mencapai sesuatu. Kita mengukur keberhasilan dari jumlah tugas yang selesai, target yang tercapai, pengalaman yang diperoleh, atau seberapa cepat karier berkembang. Namun, kondisi tubuh jarang dimasukkan ke dalam ukuran tersebut.
Ironisnya, kita sangat memperhatikan kesehatan perangkat yang digunakan sehari-hari. Ketika baterai telepon genggam hampir habis, kita segera mencari pengisi daya. Ketika laptop terlalu panas, kita memberinya waktu untuk beristirahat. Akan tetapi, ketika tubuh mulai lelah, kita justru memilih kopi untuk mengembalikan konsentrasi, menganggap jam tidur bisa diganti esok hari, dan memaksakan tubuh hingga deadline tugas benar-benar selesai. Tanpa sadar, tubuh diperlakukan seolah-olah selalu dapat diajak berkompromi. Padahal, tubuh bukanlah mesin yang dapat terus dipaksa bekerja hanya karena target belum selesai. Produktivitas yang dibangun dengan mengabaikan kesehatan pada akhirnya justru berisiko menjadi tidak berkelanjutan. Kita boleh memiliki ambisi sebesar apa pun, tetapi ambisi tersebut tetap membutuhkan tubuh yang mampu menjalaninya.
Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika generasi muda merasa bahwa selama masih muda, masih mampu bekerja, masih dapat beraktivitas, dan belum merasakan keluhan berarti, pemeriksaan kesehatan sering dianggap belum mendesak. Padahal, muda bukan berarti kebal. Tidak semua masalah kesehatan memberikan tanda yang mudah dikenali sejak awal. Karena itu, merasa tidak sakit tidak selalu sama dengan mengetahui bahwa tubuh benar-benar dalam kondisi baik. Pemeriksaan kesehatan memiliki peran penting karena membantu seseorang mengenali kondisi tubuh dan faktor risiko lebih awal. Bahkan, Kementerian Kesehatan pada 2026 menekankan bahwa Cek Kesehatan Gratis tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi perlu dilanjutkan dengan pencegahan dan penanganan bagi masyarakat yang ditemukan memiliki masalah kesehatan.
Namun, tidak tepat apabila kita mengatakan bahwa generasi muda sama sekali tidak memiliki akses untuk memeriksakan kesehatan. Karena sejumlah perusahaan, misalnya, pemeriksaan kesehatan karyawan sudah menjadi bagian dari perhatian terhadap kesejahteraan pekerja. Bentuknya dapat berbeda-beda, mulai dari pemeriksaan berkala hingga fasilitas kesehatan di lingkungan kerja. Akan tetapi, praktik tersebut tentu tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh perusahaan karena kemampuan dan kebijakan setiap tempat kerja berbeda.
Di luar lingkungan kerja, masyarakat juga memiliki fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat dimanfaatkan, salah satunya melalui puskesmas. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga menghadirkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Informasi resmi Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa CKG dapat diakses melalui puskesmas dan mencakup pemeriksaan yang disesuaikan dengan kelompok usia, termasuk pengukuran tekanan darah, gula darah, fungsi ginjal, pemeriksaan indera, gigi, dan aspek kesehatan lainnya.
Dengan demikian, persoalannya tidak selalu terletak pada ketiadaan fasilitas. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah fasilitas yang tersedia sudah kita manfaatkan dengan kesadaran yang cukup?
Sebab, fasilitas kesehatan dapat disediakan, informasi dapat disebarluaskan, dan biaya dapat diringankan. Namun, keputusan untuk datang dan memeriksakan diri tetap membutuhkan kesadaran individu. Seorang pekerja mungkin mendapatkan fasilitas pemeriksaan dari tempat kerjanya, tetapi memilih tidak mengikutinya karena merasa sehat. Seorang anak muda mungkin mengetahui adanya CKG, tetapi menganggap pemeriksaan belum penting karena tidak memiliki keluhan. Seseorang mungkin tinggal dekat dengan puskesmas, tetapi terus menunda karena merasa memiliki urusan yang lebih mendesak. Di sinilah persoalan kesehatan bergeser dari sekadar akses menjadi kesadaran.
CKG Bukan Sekadar Gratis
Menurut saya, kata “gratis” dalam Cek Kesehatan Gratis bukanlah satu-satunya hal yang penting. Nilai yang justru lebih besar adalah kesempatan yang diberikan kepada masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Bagi generasi muda, CKG seharusnya tidak dipandang sebagai program untuk orang yang sedang sakit. Justru, memeriksakan kesehatan ketika merasa sehat merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kesadaran ini penting menjadi penting karena Setelah mengetahui hasil pemeriksaan, seseorang dapat memahami kondisi tubuhnya, mempertahankan kebiasaan baik jika hasilnya baik, atau melakukan perubahan dan mengikuti tindak lanjut tenaga kesehatan jika ditemukan kondisi yang perlu diperhatikan.
Kementerian Kesehatan pada 2026 menegaskan bahwa keberhasilan CKG tidak hanya dilihat berdasarkan jumlah masyarakat yang diperiksa, melainkan dilihat dari tindak lanjut terhadap temuan kesehatan. Pada 2025, program tersebut disebut telah menjangkau 70 juta peserta di 10.225 puskesmas. Ini menunjukkan bahwa pemeriksaan hanyalah satu bagian dari upaya yang lebih besar: memastikan masyarakat tidak hanya mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga memperoleh penanganan yang diperlukan. Karena itu, manfaat CKG bagi masyarakat seharusnya tidak berhenti pada “sudah cek”. Idealnya, terbentuk sebuah kebiasaan sederhana: periksa, ketahui, pahami, tindak lanjuti, lalu jaga.
Melek Kesehatan di Tengah Budaya Produktivitas
Melek kesehatan bukan berarti seseorang harus menguasai seluruh istilah medis. Melek kesehatan berarti memiliki kemauan untuk mengenali kondisi tubuh, mencari informasi yang benar, menggunakan layanan kesehatan yang tersedia, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri. Karena itu, CKG seharusnya tidak hanya dilihat sebagai program pemerintah. Bagi masyarakat, terutama generasi muda, CKG dapat menjadi kesempatan untuk membangun kebiasaan baru yiatu tidak menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatan.
Jangan Sampai Ambisi Berjalan Tanpa Tubuh yang Sehat
Pada akhirnya, kita tidak perlu mengurangi ambisi generasi muda. Kita tetap perlu belajar, bekerja, membangun karier, menciptakan usaha, dan mengejar cita-cita. Yang perlu diubah adalah bagiamana cara menyeimbangkan antara produktivitas dan kesehatan. Produktivitas yang sehat adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu secara berkelanjutan, dan keberlanjutan membutuhkan manusia yang mampu menjaga dirinya sendiri.
Karena itu, hal terpenting adalah menjaga kesehatan bukan melawan bentuk dari produktivitas. Kesehatan adalah modal agar produktivitas dapat bertahan lebih lama. Menjaga kesehatan dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti banyak bergerak di sela pekerjaan, sesekali berdiri dan melakukan peregangan ketika bekerja sambil duduk, memperhatikan pola makan dan pola tidur, dan yang terpenting tidak lupa rutin melakukan cek kesehatan ketika ada kesempatan yang tersedia.
Jika perusahaan menyediakan pemeriksaan kesehatan, manfaatkan. Jika puskesmas menyediakan layanan kesehatan, gunakan sesuai kebutuhan. Jika cek kesehatan gratis tersedia, jangan hanya mengetahui informasinya dari media sosial; cari informasi resmi, ikuti prosedurnya, dan manfaatkan kesempatan tersebut.
Seseorang boleh mengejar ambisi, namun jangan sampai ambisi berlari terlalu cepat sehingga tubuh tertinggal jauh dibelakang. Masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang produktif, tetapi juga generasi yang melek kesehatan. Maka, sudah saatnya kita mengubah satu kalimat sederhana. Bukan lagi, “Nanti kalau sakit, baru periksa,” tetapi, “Karena saya masih sehat, saya ingin memastikan kesehatan saya tetap terjaga.”
Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang berhasil sampai di masa depan. Keberhasilan juga tentang masih memiliki kesehatan ketika kita tiba di masa depan yang kita usahakan.
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026
#HUT81RI
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
