Financial Insecurity: Mengapa Kita tak Kunjung Merasa Cukup?
Gaya Hidup | 2026-08-21 16:01:17
Bekerja dan memperoleh penghasilan seharusnya membuat seseorang semakin aman secara finansial. Namun, bagi banyak generasi muda, memiliki pekerjaan dan menerima gaji tidak serta merta menghadirkan kenyamanan finansial. Biaya hidup yang terus meningkat serta ketidakpastian masa depan memunculkan istilah financial insecurity di kalangan Gen Z.
Financial insecurity bukan hanya persoalan apakah seseorang memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Lebih jauh, kondisi ini berkaitan dengan ketidakmampuan atau ketidakpercayaan diri dalam menjamin kebutuhan di masa depan. Keinginan memiliki rumah, memiliki tabungan, membangun keluarga, atau mencapai kestabilan ekonomi terasa semakin jauh ketika pertumbuhan pendapatan tidak sebanding dengan peningkatan biaya hidup.
Ketidakpastian tersebut pada akhirnya tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi, tetapi juga membentuk cara seseorang mengambil keputusan. Ketika masa depan terasa sulit diprediksi, manfaat yang dapat dinikmati saat ini menjadi lebih menarik daripada manfaat yang baru dirasakan bertahun-tahun kemudian. Inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai present bias, kecenderungan untuk lebih memilih kepuasan saat ini dibandingkan manfaat jangka panjang.
Gambaran serupa dapat ditemukan dalam kehidupan Gen Z saat ini. Menurut laporan Kompas.com (12/08/2026), sebagian generasi muda mengalokasikan penghasilannya untuk self reward setelah kebutuhan primer terpenuhi. Di tengah tekanan ekonomi, pengeluaran untuk self reward, healing, dan gaya hidup justru dapat semakin menarik karena dipandang sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Pilihan ini menunjukkan bahwa ketika masa depan terasa penuh ketidakpastian, kepuasan yang dapat diperoleh hari ini sering kali terasa lebih nyata dibandingkan manfaat finansial yang baru dirasakan di kemudian hari.
Bukan Sekadar Salah Mengatur Keuangan
Jika persoalan ini hanya dilihat sebagai masalah cara Gen Z mengatur uang, kita akan melewatkan persoalan yang lebih besar. Financial insecurity tidak muncul begitu saja dari keputusan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem ekonomi kapitalisme yang membuat kebutuhan hidup semakin mahal, sementara pendapatan tidak selalu bertumbuh sebanding. Ketika negara lepas tangan dari kewajibannya dalam menjamin kebutuhan dasar, beban pemenuhan hidup semakin banyak ditanggung oleh individu. Bekerja pun belum tentu membuat seseorang merasa aman. Generasi muda akhirnya berada dalam situasi serba tertekan, ingin memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga dituntut mempersiapkan masa depan dengan kemampuan sendiri.
Di tengah tekanan itu, budaya hidup sekuler liberal menjadikan self reward dan healing sebagai jalan keluar yang terasa mudah. Setelah bekerja dan menghadapi berbagai tuntutan, seseorang merasa berhak menikmati hasil jerih payahnya. Media sosial kemudian memperkuat dorongan tersebut dengan menghadirkan berbagai tren dan gaya hidup yang tampak menyenangkan. Keinginan untuk tidak tertinggal dari orang lain atau fear of missing out (FOMO) membuat konsumsi semakin sulit dibedakan dari kebutuhan. Akibatnya, konsumsi tidak lagi sekadar menjadi aktivitas memenuhi kebutuhan, tetapi juga diposisikan sebagai cara memperoleh kebahagiaan dan melarikan diri sejenak dari tekanan hidup.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam. Ketika kebahagiaan semakin sering dikaitkan dengan apa yang dapat dibeli dan dinikmati, manusia akan mudah mencari rasa cukup melalui materi. Lelah diselesaikan dengan belanja, stres diatasi dengan hiburan, dan pencapaian dirayakan dengan konsumsi. Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja. Namun, jika kesenangan sesaat terus dijadikan cara utama untuk menghadapi tekanan hidup, seseorang justru dapat terjebak dalam siklus bekerja untuk mendapatkan uang, menggunakan uang untuk memperoleh kesenangan, lalu kembali bekerja untuk mengulanginya.
Islam Menjamin, Bukan Membiarkan
Lantas, bagaimana Islam memandang persoalan ini? Islam tidak membebankan seluruh persoalan ekonomi kepada individu. Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat. Pengelolaan sumber daya alam dilakukan untuk kemaslahatan rakyat, bukan semata-mata diserahkan kepada kepentingan individu atau korporasi. Negara juga berkewajiban menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap laki-laki memperoleh pekerjaan yang layak sehingga mampu memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.
Dengan mekanisme ini, generasi muda, termasuk Gen Z, tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi.
Islam juga tidak membiarkan generasi muda terus-menerus dibentuk oleh budaya konsumtif. Negara memiliki peran dalam menjaga masyarakat dari berbagai konten dan pemikiran yang merusak, termasuk gaya hidup hedonis yang menjadikan kesenangan materi sebagai ukuran kebahagiaan. Media tidak semestinya hanya menjadi mesin penyebar tren dan konsumsi, tetapi diarahkan untuk memberikan edukasi, membangun kesadaran, dan memperkuat ketakwaan masyarakat. Dengan lingkungan yang mendukung nilai-nilai Islam, generasi muda tidak terus didorong untuk membeli demi mengikuti tren atau mencari kebahagiaan sesaat.
Mengembalikan Makna Kebahagiaan
Lebih dari sekadar menyelesaikan persoalan ekonomi dan membatasi budaya konsumtif, Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat kehidupan manusia. Allah SWT. berfirman:“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan hidup manusia bukan sekadar mengejar harta, kenyamanan, atau kesenangan duniawi. Harta dan pekerjaan tetap penting, tetapi keduanya ditempatkan sebagai sarana untuk menjalankan kehidupan sesuai syariat.
Dengan akidah yang kokoh, generasi muda akan memiliki visi hidup yang jelas. Mereka tidak menjadikan materi dan tren sebagai tujuan, tetapi mengarahkan potensi dan kehidupannya untuk meraih keridhoan Allah swt, serta berkontribusi dalam membangun peradaban Islam.Wallahua'lam Bishawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
