Aneksasi Zionis di Tepi Barat Terus Membara
Agama | 2026-08-20 14:12:34Aneksasi Zionis di Tepi Barat Terus MembaraOleh: Dhevy Hakim Lihatlah apa yang sedang terjadi di Tepi Barat belakangan ini. Darah rakyat Palestina kembali mengalir, tanah mereka dirampas, rumah-rumah mereka dihancurkan, dan masjid-masjid tempat mereka bersujud pun dibakar serta dirusak.
Semua ini dilakukan oleh pemukim ilegal Yahudi yang bertindak di bawah perlindungan tentara Zionis Israel. Menteri Luar Negeri Palestina sendiri sudah menyatakan bahwa serangan-serangan ini bukanlah kebetulan atau tindakan perorangan. Tidak, semuanya itu dikoordinasi dan didukung langsung oleh pemerintah Israel. Setiap bulan rata-rata ada 190 serangan pemukim ilegal, dan diperkirakan hingga akhir tahun 2026 jumlahnya bisa mencapai 2.000 kasus.
Puluhan warga Palestina sudah tewas, ribuan lainnya terluka dan ditangkap. Bahkan masjid-masjid pun tidak luput. Serangan terhadap rumah Allah ini mencapai angka tertinggi dalam sejarah, terutama sejak Oktober 2023. Di samping itu, Israel juga mempercepat legalisasi ratusan pos permukiman ilegal dan berencana membangun 2.300 unit rumah baru untuk para pemukim. Semua ini jelas-jelas aneksasi, pencaplokan tanah Palestina secara terang-terangan.
PBB dan negara-negara lain sudah berkali-kali menyatakan keprihatinan, mengeluarkan pernyataan kecaman, dan menyebut permukiman itu ilegal menurut hukum internasional. Tapi apa gunanya? Israel tetap saja melanjutkan aksinya. Mereka sama sekali tidak peduli dengan protes dunia. Ini membuktikan bahwa tujuan Zionis Israel untuk membangun "Israel Raya" itu sangat serius.
Mereka ingin menguasai seluruh tanah Palestina, dari sungai Yordania hingga laut Tengah. Tepi Barat yang mencakup sekitar 21 persen wilayah Palestina historis menjadi sasaran utama. Setelah hampir menghancurkan seluruh Jalur Gaza, kini mereka mengalihkan strategi yang sama ke Tepi Barat: menyerang, mengintimidasi, memindahkan penduduk secara paksa, dan mencaplok tanah.
Semua ini dilakukan dengan satu tujuan: menghapus keberadaan rakyat Palestina dari tanah mereka sendiri.Dalam situasi seperti ini, masih ada orang yang percaya bahwa Israel akan memberikan kemerdekaan kepada Palestina. Masih ada yang berharap solusi dua negara bisa terwujud. Padahal sudah sangat jelas: kemerdekaan Palestina tidak akan pernah diberikan oleh Zionis Israel. Karena itu bertentangan langsung dengan cita-cita mereka membangun Israel Raya.
Bagi mereka, tanah ini adalah milik mereka semata, dan tidak boleh ada negara Palestina di atasnya. Jadi berharap Israel akan melepaskan tanah dan mengakui negara Palestina itu sama saja dengan menunggu buah dari pohon berduri. Tidak akan pernah terjadi. Solusi dua negara itu hanyalah mimpi yang dijual kepada dunia agar Israel punya waktu untuk terus mencaplok lebih banyak tanah.Sementara itu, di saat rakyat Palestina sedang berdarah-darah, muncul proyek yang disebut "New Gaza" melalui kesepakatan yang dibentuk oleh Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) pimpinan Amerika Serikat.
Proyek ini digembar-gemborkan sebagai solusi untuk membangun kembali Gaza dan membawa kesejahteraan. Tapi kenyataannya apa? Proyek ini justru menjadi ladang bisnis besar bagi Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan besarnya. Mereka berencana mengeruk keuntungan miliaran dolar atas nama pembangunan kembali Gaza, sementara rakyat Palestina sendiri tidak memiliki kedaulatan atas tanahnya, tidak berkuasa atas sumber daya alamnya, dan tidak diakui kemerdekaannya.
New Gaza bukanlah jalan menuju kemerdekaan, melainkan cara baru untuk menjajah Palestina secara ekonomi. Ini adalah bentuk penjajahan yang lebih halus, di mana tanah Palestina tetap dikuasai Israel, sementara Amerika Serikat mengambil untung dari penderitaan rakyatnya.Maka sudah saatnya umat Islam sadar dan tidak lagi tertipu. Zionis Israel itu mustahil berdamai. Mereka tidak akan pernah berhenti selama seluruh tanah Palestina belum mereka kuasai sepenuhnya.
Berdamai dengan mereka sama saja dengan mengkhianati darah para syuhada dan menyerahkan tanah suci tanpa perlawanan. Satu-satunya jalan untuk membebaskan Palestina adalah jihad—perjuangan yang sungguh-sungguh, baik dengan harta, tenaga, maupun jiwa. Dan jihad ini tidak akan efektif jika dilakukan secara terpisah-pisah oleh masing-masing negara.
Umat Islam harus bersatu. Negara-negara muslim harus berdiri bersama, memutus hubungan ekonomi dan diplomatik dengan musuh, dan menyiapkan kekuatan untuk melawan.Di sisi lain, kita juga harus membongkar topeng BoP dan New Gaza ini di hadapan seluruh umat. Jangan sampai penguasa-penguasa negara muslim justru ikut bergabung dalam proyek ini, karena itu adalah pengkhianatan besar.
Bergabung dengan BoP berarti ikut serta dalam penjajahan Palestina dan membantu Zionis menguasai tanah tersebut. Penguasa yang melakukan hal itu tidak boleh didukung, melainkan harus diingatkan dan dituntut untuk berpihak pada umat, bukan pada musuh-musuh Allah.Pada akhirnya, semua ini menunjukkan betapa mendesaknya umat Islam untuk kembali bersatu di bawah satu payung, yaitu sistem Khilafah.
Selama umat masih terpecah menjadi negara-negara kecil yang lemah dan saling bersaing, selama itu pula Zionis dan sekutunya akan terus menindas kita tanpa rasa takut. Melalui dakwah politik yang masif, kita harus memperjuangkan tegaknya Khilafah. Karena hanya dengan bersatu di bawah satu kepemimpinan yang melaksanakan hukum Allah, umat Islam akan menjadi kekuatan yang ditakuti musuh, mampu membebaskan Palestina, dan mengembalikan kemuliaan Baitul Maqdis.
Jangan lagi menunggu belas kasihan PBB atau janji manis Amerika Serikat. Kemenangan itu hanya datang dari Allah, dan Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubah keadaan mereka. Mari kita berubah, mari kita bersatu, dan mari kita perjuangkan pembebasan Palestina dengan jalan yang benar.
Wallahu a’lam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
