Mengenal Seni Bertutur Kalimantan Timur
Guru Menulis | 2026-08-19 15:44:08AKU ANAK KALIMANTAN
Mengenalkan Tarsul kepada Anak Usia 5–6 Tahun melalui Pembelajaran Berbasis Aktivitas
Artikel pembelajaran berbasis praktik • Tema: Diriku | Subtema: Aku Istimewa
Widiawati Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, UPI Serang
Dosen Pengampu: Dr. Yulianti Fitriani, S.Pd, M. Sn.
Gagasan Utama
Budaya lokal dikenalkan bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai pengalaman belajar yang memungkinkan anak menyimak, berbicara, bermain peran, berkarya, dan merefleksikan pengalaman budayanya.
Abstrak
Pembelajaran anak usia dini perlu memberi ruang bagi anak untuk belajar melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka. Artikel ini mendeskripsikan rancangan pembelajaran bertema “Diriku” dengan subtema “Aku Istimewa” melalui konteks “Aku Anak Kalimantan”, dengan Tarsul sebagai salah satu budaya/sastra lisan Kutai Timur yang diperkenalkan kepada anak usia 5–6 tahun. Pembelajaran dirancang menggunakan pendekatan berbasis aktivitas melalui tahapan memahami, mengaplikasi, berkarya, dan merefleksi.
Anak terlibat dalam kegiatan mengamati gambar, menyimak Tarsul, mengenal kosakata budaya, menirukan bagian sederhana, bercerita, bermain peran, dan membuat karya. Asesmen dilakukan melalui observasi dan checklist yang memantau kemampuan menyimak, mengenal Tarsul, berbicara, berpartisipasi, serta menunjukkan ketertarikan dan penghargaan terhadap budaya daerah. Rancangan ini menempatkan budaya lokal sebagai sumber belajar yang kontekstual sekaligus memberi ruang bagi perkembangan komunikasi, kreativitas, gotong royong, dan rasa bangga terhadap lingkungan budaya anak.
Kata kunci: anak usia dini; budaya lokal; Tarsul; pembelajaran berbasis aktivitas; komunikasi; identitas budaya.
1. Mengapa Budaya Lokal Perlu Hadir dalam Pembelajaran Anak?
Pembelajaran pada anak usia dini menjadi lebih bermakna ketika materi berhubungan dengan pengalaman dan lingkungan anak. Modul ini berangkat dari kondisi bahwa anak telah mengenal identitas dirinya, seperti nama, jenis kelamin, anggota keluarga, dan lingkungan tempat tinggal. Namun, sebagian besar anak belum mengenal Tarsul sebagai salah satu kearifan lokal Kutai Timur. Karena itu, budaya lokal diposisikan sebagai sumber pengalaman belajar yang dapat diamati, didengar, dibicarakan, dimainkan, dan diekspresikan melalui karya.
Poin Penting
Fokus pembelajaran bukan membuat anak menghafal informasi tentang Tarsul. Fokusnya adalah memberi pengalaman agar anak mengenal, menyimak, mengungkapkan kembali, dan menunjukkan penghargaan terhadap budaya daerah.
2. Tujuan Pembelajaran
Rancangan pembelajaran diarahkan agar anak mampu:
· mensyukuri keberagaman budaya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa;
· mengenal identitas dirinya sebagai anak Kalimantan Timur;
· mengenal Tarsul sebagai salah satu budaya lisan Kutai Timur;
· menyimak cerita Tarsul dengan penuh perhatian;
· menceritakan kembali pengalaman atau informasi sederhana dengan bahasa sendiri; dan
· menunjukkan sikap bangga terhadap budaya daerah.
3. Desain Pembelajaran: Anak sebagai Pelaku Pengalaman
Tahap
Aktivitas anak
Peran guru
Makna belajar
Memahami
Mengamati gambar, menyimak Tarsul, memperhatikan suara dan irama, mengenal kosakata.
Memantik rasa ingin tahu dan memberi penjelasan sederhana.
Anak membangun pemahaman awal dari pengalaman langsung.
Mengaplikasi
Menirukan bagian sederhana, memilih gambar, bercerita, dan bermain peran.
Memberi contoh, pertanyaan terbuka, bantuan, dan apresiasi.
Anak menggunakan pengalaman untuk berkomunikasi.
Berkarya
Menggambar atau menghias karya bertema budaya Kutai.
Menyiapkan bahan dan memberi ruang ekspresi.
Anak mengekspresikan pengalaman melalui karya.
Merefleksi
Mengingat kegiatan, menyampaikan bagian yang disukai, dan mengungkapkan perasaan.
Mengajukan pertanyaan reflektif dan memberi penguatan.
Anak menyadari kembali apa yang telah dialami.
4. Dari Mendengar Tarsul menuju Keberanian Berbicara
Salah satu kekuatan rancangan ini terletak pada urutan pengalaman belajarnya. Anak terlebih dahulu memperoleh stimulus melalui gambar dan rekaman Tarsul. Setelah itu, anak diberi kesempatan untuk mengungkapkan apa yang didengar, menirukan bagian sederhana, memilih gambar, dan menceritakan kembali menggunakan bahasanya sendiri. Urutan tersebut membuat kegiatan komunikasi tidak berdiri sendiri, tetapi tumbuh dari pengalaman yang baru saja dialami anak.
Contoh Pertanyaan Pemantik
“Apa yang kalian dengar?” • “Bagaimana bunyi atau iramanya?” • “Apa yang kalian ingat?” • “Bagaimana perasaan kalian setelah mengenal budaya Kutai?”
5. Bermain Peran: Membawa Budaya ke Dunia Anak
Budaya menjadi lebih dekat dengan dunia anak ketika dikenalkan melalui bermain. Dalam kegiatan bermain peran, anak bergantian menjadi “pencerita” dan “pendengar”. Anak menggunakan bahasa sederhana untuk memperkenalkan Tarsul kepada temannya. Kegiatan ini sekaligus memberi ruang bagi anak untuk berkomunikasi, menunggu giliran, mendengarkan teman, dan berpartisipasi dalam aktivitas bersama.
6. Karya sebagai Bentuk Ekspresi
Pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan menggambar atau menghias gambar bertema budaya Kutai. Anak dapat menggambarkan pengalaman ketika mendengarkan Tarsul dan kemudian menunjukkan hasil karyanya kepada teman. Pada tahap ini, guru tidak menempatkan keseragaman produk sebagai tujuan utama. Karya menjadi media untuk melihat bagaimana anak mengekspresikan pengalaman belajarnya.
7. Asesmen yang Mengikuti Proses Perkembangan Anak
Asesmen dalam rancangan ini menggunakan observasi pada tahap awal serta checklist pada tahap formatif dan sumatif. Hal yang diamati meliputi kemampuan memperhatikan ketika Tarsul diperdengarkan, mengenal Tarsul, menyebutkan informasi sederhana, menirukan bagian sederhana, menceritakan pengalaman, menunjukkan ketertarikan terhadap budaya Kutai, keberanian berbicara, dan rasa bangga terhadap budaya daerah.
Aspek
Contoh perilaku yang diamati
Metode
Skala
Menyimak
Memperhatikan ketika Tarsul diperdengarkan
Observasi/checklist
BB–MB–BSH–BSB
Komunikasi
Menceritakan pengalaman dengan bahasa sendiri
Observasi/checklist
BB–MB–BSH–BSB
Partisipasi
Mengikuti bermain peran dan kegiatan kelompok
Observasi/checklist
BB–MB–BSH–BSB
Budaya
Menunjukkan ketertarikan dan penghargaan terhadap budaya daerah
Observasi/hasil karya
BB–MB–BSH–BSB
8. Peran Guru dan Orang Tua
Guru berperan sebagai fasilitator yang menyiapkan lingkungan, media, pertanyaan pemantik, dan dukungan sesuai kebutuhan anak. Orang tua dapat dilibatkan dengan mengenalkan cerita rakyat daerah di rumah, mengajak anak berdiskusi tentang budaya Kutai, serta membantu mengumpulkan gambar atau benda khas Kalimantan. Dengan demikian, pengalaman belajar dapat terhubung antara sekolah dan rumah.
9. Catatan Implementasi
Siapkan
Gambar Kalimantan/Kutai Timur, gambar atau ilustrasi Tarsul, rekaman/video Tarsul, speaker, laptop/LCD/televisi, kartu gambar, kertas, dan alat menggambar.
Perhatikan
Durasi kegiatan, keterdengaran audio, kebutuhan dukungan individual, kesempatan berbicara setiap anak, dan suasana kelas yang aman serta menyenangkan.
Prinsip
Apresiasi proses anak dalam menyimak, mencoba, berbicara, bermain, dan berkarya. Anak tidak perlu dituntut menghasilkan respons yang seragam.
10. Penutup
Rancangan “Aku Anak Kalimantan” memperlihatkan bahwa pengenalan budaya lokal dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran anak usia dini tanpa menjadikannya materi yang berat. Tarsul digunakan sebagai pintu masuk untuk menghadirkan pengalaman menyimak, berbicara, bermain, berkarya, dan berefleksi. Pendekatan berbasis aktivitas membuat anak tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi terlibat sebagai pelaku pengalaman belajar. Pada akhirnya, pembelajaran budaya diharapkan menjadi pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak: mengenal daerah tempat tinggal, mengenal budayanya, dan tumbuh rasa menghargai terhadap budaya tersebut.
“Aku mengenal budayaku, aku menceritak
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
