Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jilanw adhi

7 Tips Agar E-Commerce Milik UMKM Bisa Bertahan di Tengah Persaingan Marketplace

Bisnis | 2026-08-11 14:37:17

Membuat e-commerce sendiri sekarang bukan lagi sesuatu yang hanya bisa dilakukan perusahaan besar. UMKM pun bisa memiliki toko online dengan biaya dan teknologi yang semakin terjangkau.

Namun, tantangan sebenarnya bukan membuat website. Setelah website selesai, pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana mendatangkan pengunjung, membangun kepercayaan, dan membuat pelanggan kembali

berbelanja.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar e-commerce UMKM bisa bertahan.

1. Jangan Bergantung pada Satu Sumber Traffic

E-commerce sendiri tidak memiliki jutaan pengguna seperti marketplace. Karena itu, UMKM harus membangun traffic dari berbagai sumber.

Media sosial, Google, marketplace, WhatsApp, komunitas, hingga iklan bisa digunakan secara bersamaan. Dengan begitu, bisnis tidak terlalu bergantung pada satu platform.

2. Buat Website yang Benar-Benar Berguna

Jangan menjadikan e-commerce hanya sebagai katalog produk.

Informasi produk harus lengkap, foto jelas, harga mudah ditemukan, cara pemesanan sederhana, dan konsumen dapat menghubungi penjual dengan mudah.

Semakin mudah pelanggan mendapatkan informasi, semakin besar kemungkinan mereka menyelesaikan transaksi.

3. Bangun Kepercayaan

Berbelanja langsung melalui website membutuhkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan marketplace yang sudah dikenal.

Karena itu, UMKM perlu menampilkan identitas usaha, kontak, testimoni, informasi pengiriman, metode pembayaran, serta kebijakan pengembalian barang.

Hal-hal sederhana seperti ini sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

4. Gunakan SEO dan Konten

Salah satu kelebihan e-commerce sendiri adalah UMKM bisa membangun aset konten dalam jangka panjang.

Jangan hanya membuat halaman produk. Buat juga artikel yang menjawab pertanyaan calon pelanggan.

Misalnya, penjual lanyard bisa membuat konten mengenai cara memilih lanyard untuk perusahaan, ukuran tali ID card, jenis bahan lanyard, hingga tips memilih lanyard untuk acara.

Konten tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi calon pelanggan dari mesin pencari.

5. Marketplace Tetap Dipakai

Memiliki e-commerce sendiri bukan berarti UMKM harus meninggalkan marketplace.

Marketplace tetap memiliki fungsi penting untuk mendapatkan pelanggan baru. Bedanya, UMKM sekarang memiliki channel tambahan yang benar-benar menjadi aset bisnis sendiri.

Strateginya bisa dibuat sederhana: marketplace untuk menjangkau pelanggan, e-commerce sendiri untuk membangun brand dan hubungan jangka panjang.

6. Contohnya Bisa Dilihat dari Talitali

Salah satu contoh penerapan konsep ini adalah Talitali, bisnis yang menyediakan berbagai kebutuhan lanyard dan aksesori ID card. Di situs ini kita bisa menemukan lanyard ready stock, lanyard retail atau lanyard satuan.

Talitali dapat memanfaatkan marketplace untuk menjangkau konsumen yang memang sudah terbiasa berbelanja melalui platform tersebut. Di saat yang sama, e-commerce milik Talitali dapat menjadi pusat informasi dan penjualan yang membangun identitas brand sendiri.

Misalnya, seseorang mencari informasi tentang lanyard custom melalui Google. Dari artikel atau halaman produk, calon pelanggan kemudian mengenal Talitali, melihat katalog, memahami spesifikasi produk, dan akhirnya melakukan pemesanan.

Model seperti ini menunjukkan bahwa e-commerce sendiri tidak harus menjadi pengganti marketplace.

Justru keduanya dapat saling melengkapi.

Marketplace membantu mendatangkan pembeli, sementara website sendiri perlahan menjadi aset digital milik brand.

7. Jangan Berhenti Setelah Website Online

Kesalahan yang sering dilakukan UMKM adalah menganggap pekerjaan selesai ketika website sudah jadi.

Padahal setelah online, pekerjaan baru dimulai.

Traffic harus dibangun, konten harus diperbarui, produk harus ditambahkan, performa penjualan harus dianalisis, dan pengalaman pelanggan harus terus diperbaiki.

Pada akhirnya, e-commerce UMKM tidak harus mengalahkan marketplace untuk bisa bertahan.

Yang penting adalah memiliki strategi agar bisnis tidak sepenuhnya bergantung pada satu platform.

Marketplace, media sosial, Google, WhatsApp, dan e-commerce sendiri dapat digunakan bersama-sama.

Website adalah infrastrukturnya, tetapi pemasaranlah yang membuat e-commerce UMKM tetap hidup.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image