Sedentary Lifestyle: Kebiasaan Kecil yang Menjadi Pemicu Penyakit
Gaya Hidup | 2026-08-09 11:49:04
Di era digital saat ini, orang-orang lebih sering menghabiskan waktu dengan rebahan dan duduk dalam waktu lama daripada melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga. Padahal, kebiasaan kecil tersebut berbahaya bagi kesehatan dan dapat memicu berbagai penyakit. Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu sedentary lifestyle.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), sedentary lifestyle adalah kegiatan yang dilakukan di luar waktu tidur dan hanya mengeluarkan kalori dalam jumlah sedikit, yaitu kurang dari 1,5 METs. WHO menyatakan bahwa sedentary lifestyle adalah salah satu penyebab kematian yang kasusnya sering terjadi di dunia. Dari pernyataan kedua lembaga tersebut, bisa kita simpulkan bahwa sedentary lifestyle dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan tubuh.
Dampak Buruk Sedentary Lifestyle bagi Kesehatan
Sedentary lifestyle dapat memberikan banyak dampak buruk bagi kesehatan. Risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, kanker, nyeri sendi, obesitas, hingga masalah mental seperti depresi dan kecemasan, dapat meningkat apabila seseorang terus menjalani sedentary lifestyle dan kurang melakukan aktivitas fisik. Oleh karena itu, mengurangi pola hidup tidak aktif dan meningkatkan aktivitas fisik sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang lebih sehat.
Cara Mengatasi Sedentary Lifestyle
Kebanyakan orang pasti akan merasa kesulitan saat ingin mulai menerapkan pola hidup yang lebih aktif karena sudah terbiasa tidak banyak bergerak setiap hari. Namun, mengurangi sedentary lifestyle dapat dimulai dengan langkah sederhana di rumah, seperti berjalan di lingkungan sekitar rumah setiap pagi, melakukan peregangan secara rutin, atau menggerakkan tubuh saat menonton televisi. Bahkan, melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan mengepel juga termasuk aktivitas fisik yang dapat membantu mengatasi masalah sedentary lifestyle.
WHO merekomendasikan orang dewasa untuk melakukan aerobik dengan intensitas sedang selama 150-300 menit per minggu. Dengan melakukan aktivitas fisik secara rutin, kita dapat menjaga kesehatan tubuh dan mengurangi berbagai risiko penyakit.
SUMBER:
Rahma, S. I., Lukman, M., & Witdiawati. (2025). Studi deskriptif: Sedentary lifestyle pada remaja di era digital. MANUJU: Malahayati Nursing Journal, 7(5), 1951-1963. https://doi.org/10.33024/mnj.v7i5.19890
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023,16 Agustus). Mengatasi ancaman sedentary lifestyle untuk kesehatan. Ayo Sehat Kemkes. https://ayosehat.kemkes.go.id/mengatasi-ancaman-sedentary-lifestyle-untuk-kesehatan
Tim Medis Siloam Hospitals. (2025,17 November). Apa itu sedentary lifestyle? Ini dampaknya bagi tubuh. Siloam Hospitals. https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-sedentary-lifestyle
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
