Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Belajar dari Rayap: Ketika Mentalitas Manusia Indonesia Menggerogoti Bangsanya Sendiri

Gaya Hidup | 2026-08-05 11:35:10
Gambar Ilustrasi Al dan Mentalitas manusia Indonesia.

Opini - Ada makhluk kecil yang sering tidak kita takuti, namanya tidak asing sehari hari bagi kita: Rayap atau Latinnya termes

Ia tidak mengaum seperti harimau. Tidak menyerang seperti singa. Tidak pula menghancurkan sesuatu dalam satu malam. Rayap bekerja dalam diam, perlahan, nyaris tidak terlihat. Namun ketika aktivitasnya berlangsung terus-menerus, kayu yang tampak kokoh dapat kehilangan kekuatannya dari dalam.

Rumah masih berdiri, tetapi fondasinya telah rapuh.

Rayap karena itu dapat menjadi metafora yang kuat untuk memahami sebuah paradoks kehidupan sosial manusia: keruntuhan besar terkadang bukan dimulai oleh serangan besar dari luar, melainkan oleh kerusakan kecil yang terus-menerus dibiarkan dari dalam.

Dalam konteks Indonesia, metafora ini tentu bukan untuk menyebut manusia Indonesia sebagai “rayap”. Sebaliknya, ia adalah sebuah cermin: apakah ada perilaku sosial yang secara perlahan menggerogoti bangunan bangsa?

Korupsi kecil yang dianggap biasa. Nepotisme yang dianggap lumrah. Penyalahgunaan jabatan yang dibungkus kepentingan kelompok. Manipulasi aturan demi keuntungan pribadi. Ketidakjujuran yang dimaafkan karena pelakunya “orang sendiri”.

Jika semua itu berlangsung berulang-ulang, persoalannya tidak lagi sekadar kesalahan individu.

Ia mulai menjadi persoalan mentalitas dan budaya sosial.

Rayap Psikologis:Ketika Membenarkan kesalahan

Psikolog Albert Bandura menawarkan konsep penting untuk memahami fenomena tersebut: moral disengagement, atau pelepasan kendali moral.

Bandura menjelaskan bahwa manusia dapat melakukan tindakan yang merugikan orang lain tetapi tetap mempertahankan citra dirinya sebagai orang baik. Mekanismenya antara lain melalui pembenaran moral, pengalihan tanggung jawab, mengecilkan dampak perbuatan, atau menyalahkan korban.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Seseorang melakukan korupsi, lalu berkata:"Saya hanya mengikuti sistem."

Seseorang menerima keuntungan karena kedekatan kekuasaan, lalu berkata:

"Ini bukan nepotisme, ini hubungan profesional."

Seseorang melanggar aturan, lalu berkata:"Semua orang juga melakukannya."

Seseorang menggunakan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi, lalu berkata:

"Tidak seberapa dibandingkan yang lain." Kalimat-kalimat tersebut bukan sekadar alasan.

Dalam perspektif Bandura, ia dapat menjadi mekanisme psikologis yang membuat seseorang mampu memisahkan tindakan dari rasa bersalah.

Dengan kata lain, problemnya bukan hanya manusia melakukan kesalahan.

Problem yang lebih serius adalah manusia kehilangan kemampuan untuk merasa bahwa kesalahan itu memang salah.

Inilah “rayap psikologis”. Ia menggerogoti hati nurani sedikit demi sedikit.

Dari Kesalaham Individu Menjadi Kebiasaan Sosial

Persoalan berikutnya adalah: bagaimana kesalahan individu dapat berubah menjadi budaya?

Di sinilah sosiologi menjadi penting. Émile Durkheim mengingatkan bahwa kehidupan sosial membutuhkan norma yang mengikat perilaku individu. Ketika norma kehilangan daya mengikat, masyarakat dapat memasuki kondisi anomie—ketika batas-batas normatif menjadi lemah dan individu kehilangan orientasi moral yang jelas.

Masyarakat akhirnya dapat mengalami situasi paradoks:

Orang tahu sesuatu itu salah, tetapi tidak lagi merasa perlu menghindarinya.

Pada tahap tertentu, orang jujur bahkan dapat dianggap naif.

Orang yang menolak gratifikasi disebut tidak bisa “bergaul”.

Orang yang tidak mau menggunakan koneksi dianggap tidak memahami “realitas”.

Orang yang mempertahankan prinsip disebut tidak fleksibel.

Ketika keadaan seperti itu terjadi, masyarakat sebenarnya sedang mengalami perubahan berbahaya: nilai moral tidak lagi menjadi standar perilaku; lingkungan sosial justru menjadi pembenaran perilaku.

Robert K. Merton dan Budaya Jalan Pintas

Robert K. Merton melalui strain theory membantu menjelaskan persoalan lain: masyarakat dapat memberikan tekanan besar kepada individu untuk mencapai kesuksesan, sementara cara-cara yang sah untuk mencapainya tidak selalu dianggap cukup.

Akibatnya, sebagian orang mencari jalan pintas.

Kekayaan menjadi ukuran keberhasilan. Jabatan menjadi simbol status.

Koneksi menjadi modal. Kekuasaan menjadi alat memperbesar pengaruh.

Ketika tujuan lebih penting daripada cara mencapainya, manusia dapat mulai berpikir:

“Yang penting berhasil.”

Padahal peradaban tidak hanya dibangun oleh hasil, tetapi juga oleh cara manusia mencapai hasil tersebut.

Sebab jika sebuah masyarakat mengajarkan bahwa keberhasilan boleh diperoleh dengan cara apa pun, maka generasi berikutnya akan belajar bahwa integritas adalah kemewahan, bukan kebutuhan.

Bourdieu: Mentalitas yang Diwariskan

Pierre Bourdieu: Mentalitas yang Diwariskan

Pierre Bourdieu menawarkan konsep habitus: pola kecenderungan berpikir, merasa, dan bertindak yang terbentuk melalui pengalaman sosial.

Habitus penting karena menjelaskan bahwa perilaku manusia tidak selalu muncul dari keputusan sadar setiap saat. Lingkungan sosial membentuk apa yang kemudian dianggap “normal”.

Jika seorang anak sejak kecil melihat bahwa orang berkuasa selalu mendapatkan perlakuan khusus, ia dapat belajar bahwa kekuasaan memang identik dengan privilese.

Jika ia melihat bahwa keberhasilan sering diperoleh melalui koneksi, ia dapat belajar bahwa kompetensi bukan satu-satunya jalan.

Jika ia melihat ketidakjujuran selalu mendapatkan toleransi, ia dapat tumbuh dengan kesimpulan bahwa kejujuran hanyalah pilihan.

Dengan demikian, mentalitas tidak lahir dalam ruang kosong.

Mentalitas diproduksi oleh lingkungan sosial.

Karena itu reformasi bangsa tidak cukup hanya mengganti aturan.

Kita juga harus memperbaiki kebiasaan sosial yang membuat aturan mudah dilanggar.

Data memberi Peringatan, Metafora ini bukan sekadar permainan kata.

Transparency International dalam Corruption Perceptions Index 2025 menempatkan Indonesia pada skor 42 dari 100 dan peringkat 109 dari 182 negara. Laporan tersebut juga mencatat penurunan posisi Indonesia dibandingkan tahun sebelumnya.

Data semacam ini tidak boleh dibaca sekadar sebagai angka.

Ia adalah sinyal tentang kualitas tata kelola, integritas institusi, dan kepercayaan terhadap kemampuan negara mengendalikan korupsi.

Karena korupsi bukan hanya persoalan uang negara yang hilang.

Korupsi juga menggerogoti kepercayaan.

Ketika masyarakat melihat aturan dapat dibeli, maka hukum kehilangan wibawa.

Ketika jabatan dapat dipertukarkan dengan kepentingan, meritokrasi kehilangan makna.

Ketika koneksi mengalahkan kompetensi, masyarakat belajar bahwa bekerja keras belum tentu cukup.

Dan ketika semua itu berlangsung lama, yang rusak bukan hanya institusi.

Yang rusak adalah kepercayaan sosial.

Rayap Terbesar Adalah Normalisasi

Barangkali rayap paling berbahaya bukanlah koruptor besar.

Rayap paling berbahaya adalah normalisasi terhadap kesalahan.

Sebab korupsi besar biasanya terlihat.

Tetapi pembenaran kecil sering tidak terlihat.

“Cuma sedikit.”, “Cuma sekali.”, “Tidak ada yang dirugikan.”

“Ini bagian dari budaya.”

“Kalau tidak begini, kita tidak bisa bekerja.”

Kalimat-kalimat tersebut adalah lubang-lubang kecil.

Satu lubang mungkin tidak membahayakan rumah.

Tetapi ribuan lubang yang dibiarkan selama bertahun-tahun dapat membuat bangunan kehilangan kekuatan.

Demikian pula sebuah bangsa. Ia tidak selalu runtuh karena satu kejahatan besar.

Ia bisa melemah karena jutaan kompromi kecil terhadap kejujuran.

Erich Fromm dan Manusia yang Kehilangan Diri

Psikolog sosial dan filsuf humanis Erich Fromm mengingatkan tentang persoalan manusia modern yang dapat kehilangan kemampuan berpikir dan memilih secara otentik karena mengikuti tekanan sosial.

Di sinilah pertanyaan penting muncul:

Apakah kita melakukan sesuatu karena benar, atau karena semua orang melakukannya?

Manusia yang bebas bukan manusia yang bebas melakukan apa saja.

Manusia yang bebas adalah manusia yang mampu mengatakan “tidak” ketika lingkungan mengatakan “iya” terhadap sesuatu yang salah.

Maka keberanian moral sesungguhnya bukan hanya keberanian melawan musuh dari luar.

Kadang-kadang keberanian terbesar adalah melawan kebiasaan buruk yang sudah dianggap normal oleh lingkungan sendiri.

Franz Magnis-Suseno: Kekuasaan Harus Berakar pada Etika

Dalam konteks Indonesia, pemikiran etika politik Franz Magnis-Suseno juga relevan. Politik tidak dapat dilepaskan dari pertanggungjawaban moral karena kekuasaan menyangkut kehidupan manusia dan kepentingan bersama.

Maka jabatan publik semestinya tidak dipandang sebagai kesempatan memperbesar privilese pribadi, melainkan sebagai amanah untuk menghadirkan keadilan.

Ketika etika dilepaskan dari kekuasaan, politik mudah berubah menjadi sekadar perebutan sumber daya.

Sebaliknya, ketika etika menjadi fondasi kekuasaan, jabatan memperoleh makna sebagai pelayanan kepada masyarakat.

Dengan demikian, persoalan Indonesia bukan sekadar bagaimana memilih pemimpin.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menciptakan sistem yang membuat pemimpin sulit menyalahgunakan kekuasaan dan mudah dimintai pertanggungjawaban.

Indonesia Emas Tidak Boleh Menjadi Indonesia yang Rapuh

Indonesia sedang menuju 2045.

Kita berbicara tentang bonus demografi, ekonomi besar, transformasi digital, hilirisasi, teknologi, industri, dan daya saing global.

Semua itu penting. Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih mendasar:

Apa yang terjadi apabila bangunan material Indonesia semakin kuat sementara fondasi moralnya semakin rapuh?

Kita dapat memiliki jalan tol yang panjang tetapi kehilangan kepercayaan.

Kita dapat memiliki teknologi kecerdasan buatan tetapi tidak memiliki kecerdasan moral.

Kita dapat memiliki gedung pencakar langit tetapi masyarakatnya semakin individualistis.

Kita dapat memiliki ekonomi besar tetapi ketimpangan dan ketidakadilan semakin melebar.

Karena itu Indonesia Emas harus dipahami bukan hanya sebagai proyek pembangunan ekonomi.

Ia harus menjadi proyek pembangunan manusia.

Belajar dari Rayap – Tetapi Jangan Menjadi Rayap

Ada ironi menarik: Rayap mengajarkan bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan dampak luar biasa.

Maka manusia dapat menggunakan prinsip yang sama untuk kebaikan.

Kejujuran kecil yang dilakukan setiap hari membangun integritas.

Disiplin kecil membangun budaya kerja.Menolak suap kecil memperkuat sistem.

Menghormati antrean membangun budaya tertib.

Tidak menyebarkan fitnah menjaga kesehatan ruang publik.

Menggunakan jabatan untuk melayani memperkuat kepercayaan.

Menegakkan aturan secara konsisten membangun budaya hukum.

Artinya, jika kerusakan kecil dapat terakumulasi menjadi kehancuran, kebaikan kecil juga dapat terakumulasi menjadi peradaban.

Inilah antitesis dari mentalitas rayap.

Bukan sekadar menghentikan orang yang menggerogoti bangsa, tetapi menciptakan manusia yang setiap hari memilih untuk memperkuat fondasi bangsa.

Jangan Sampai Kita Menjadi Rayap bagi Rumah Bernama Indonesia

Dengan demikian menurut hemat Penulis, pertanyaan ini bukan hanya ditujukan kepada pejabat.

Bukan hanya kepada politisi.;Bukan hanya kepada birokrat.

Bukan hanya kepada pengusaha.

Pertanyaan ini juga kepada diri kita sendiri:

Apakah perilaku kita sedang memperkuat Indonesia atau diam-diam menggerogotinya?

Apakah kita mengajarkan kejujuran kepada anak, tetapi memberikan contoh sebaliknya?

Apakah kita mengkritik korupsi besar, tetapi membenarkan “uang terima kasih” dalam kehidupan sehari-hari?

Apakah kita menuntut keadilan, tetapi hanya ketika diri kita menjadi korban?

Apakah kita menginginkan negara yang bersih, tetapi masih mencari jalan untuk mengakali aturan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak nyaman.

Tetapi perubahan bangsa memang selalu dimulai dari pertanyaan yang tidak nyaman.

Indonesia tidak membutuhkan manusia-manusia yang hanya pandai mengkritik rayap. Indonesia membutuhkan manusia yang menolak menjadi rayap.

Sebab rumah bernama Indonesia terlalu berharga untuk digerogoti dari dalam.

Dan barangkali inilah pelajaran terbesar dari rayap:

Keruntuhan besar dimulai dari kerusakan kecil yang dibiarkan. Sebaliknya, kebangkitan besar juga dapat dimulai dari kebaikan kecil yang dilakukan tanpa henti.

Indonesia Emas 2045 akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang seberapa besar negara ini tumbuh, tetapi juga:

seberapa kuat karakter manusia yang menopangnya.

Selamat Merayakan Indonesia Ke 81 !

Tonny Rivani, adalah jurnalis, penulis dan pemerhati Sosial Politik. Karyanya dimuat di berbagai plaform media nasional.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image