Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image muhammad arsad

Saring Sebelum Sharing: Menjadi Manusia Bijak di Tengah Badai Informasi

Humaniora | 2026-08-04 10:41:46

Muhammad Arsad

Mahasiswa Universitas Siber Asia

Perkembangan teknologi digital telah menjadikan media sosial bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Hampir seluruh aktivitas harian selalu bersentuhan dengan platform digital. Mulai dari bangun tidur, saat beristirahat, hingga menjelang tidur kembali, masyarakat kerap mengakses media sosial untuk memperbarui informasi. Berbagai peristiwa di seluruh belahan dunia kini dapat diketahui hanya dalam hitungan menit berkat laju penyebaran informasi yang sangat cepat.

Namun, di balik segala kemudahan tersebut, media sosial membawa tantangan yang tidak mudah. Banyak informasi yang beredar tanpa kejelasan sumber maupun akurasi data. Tidak sedikit berita yang dipotong, disebarkan tanpa konteks yang utuh, atau bahkan sengaja dirancang untuk memancing emosi publik. Dalam situasi inilah, kecerdasan emosional (Emotional Intelligence) menjadi fondasi krusial agar masyarakat tidak mudah terombang-ambing oleh arus informasi.

Media Sosial Membentuk Cara Masyarakat Bereaksi

Media sosial memiliki daya tawar yang sangat besar dalam mengarahkan opini publik. Sebuah cuplikan video berdurasi singkat dapat mendadak viral dan memanen ribuan hingga jutaan tanggapan dalam sekejap. Sayangnya, kerap kali para pengguna media sosial terburu-buru memberikan reaksi dan vonis sebelum memahami fakta secara menyeluruh.

Saya menilai bahwa pengaruh media sosial saat ini amat dominan. Akses terhadap berita hangat, hiburan, materi edukasi, hingga isu-isu sosial terasa begitu dekat. Namun, kemudahan ini ibarat pisau bermata dua; kemudahan akses sering kali menumpulkan kewaspadaan, sehingga banyak orang begitu mudah mempercayai klaim yang belum teruji kebenarannya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Masyarakat sangat membutuhkan kecerdasan emosional untuk melatih kendali diri sebelum menuliskan komentar atau menarik sebuah kesimpulan.

Mengapa Emotional Intelligence Sangat Penting?

Daniel Goleman (1995) mendefinisikan Emotional Intelligence sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi tersebut, memahami perasaan orang lain, serta membangun hubungan sosial yang harmonis.

Menurut pandangan saya, kecerdasan emosional menjadi benteng agar kita mampu memilah mana berita yang benar-benar patut menerima simpati, mana yang masih memerlukan verifikasi fakta, serta mana informasi yang sebaiknya tidak langsung dipercayai. Tanpa kemampuan mengelola emosi, seseorang akan sangat rentan terprovokasi oleh judul berita yang sensasional maupun potongan video manipulatif.

Di era digital, jeda untuk berpikir sebelum berkomentar adalah wujud nyata dari kecerdasan emosional. Tidak semua informasi harus direspons, disebarkan, atau dikomentari secara instan. Menahan diri sembari menanti fakta yang lebih utuh sering kali merupakan pilihan yang jauh lebih bijaksana.

Analisis Fenomena Viral di Media Sosial

Salah satu fenomena yang menyita perhatian saya adalah kasus main hakim sendiri terhadap seorang terduga pelaku pencurian ayam berinisial KD di Baturiti, Tabanan, yang berakhir tragis hingga korban meninggal dunia. Pada tahap awal narasi yang beredar di media sosial, simpati publik mengalir deras karena fokus tertuju pada kondisi anak perempuan korban yang kehilangan sosok ayah. Gelombang empati masyarakat bergulir cepat dalam bentuk dukungan moral hingga penggalangan donasi.

Namun, seiring berjalannya waktu, fakta-fakta baru mulai terungkap ke publik. Berdasarkan keterangan resmi dari pihak kepolisian, korban diketahui memiliki rekam jejak sebagai residivis dan terdaftar dalam Target Operasi (TO) kasus pencurian. Kendati demikian, aksi pengeroyokan hingga tewas tetap tidak dapat dibenarkan secara hukum maupun etika, karena setiap warga negara berhak atas proses hukum yang adil (due process of law).

Peristiwa ini menjadi potret nyata bagaimana media sosial dapat membentuk opini publik yang terfragmentasi hanya dari informasi awal yang parsial. Publik seolah terdorong untuk segera mengambil posisi ekstrem: membela sepenuhnya atau menyalahkan sepenuhnya. Padahal, sebelum kebenaran materiil terungkap utuh, ketenangan dalam menyikapi berita sangatlah diperlukan.

Di saat yang berdekatan, muncul pula berita duka lain mengenai Sumarno, seorang petugas keamanan di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, yang tewas ditenggelamkan saat menjalankan tugasnya. Almarhum dikenal sebagai sosok pekerja keras yang penuh dedikasi serta ayah yang selalu memastikan anak-anaknya terlindungi.

Kedua peristiwa di atas pada hakikatnya sama-sama menyisakan duka mendalam bagi seorang anak yang harus kehilangan ayahnya. Namun, respons serta perhatian yang diberikan masyarakat di media sosial menunjukkan kontras yang cukup signifikan. Perbedaan dinamika perhatian ini membuktikan bahwa viralitas sebuah isu sering kali lebih menentukan seberapa besar empati publik yang tercurah, bukan semata-mata diukur dari kadar keprihatinan atas peristiwa itu sendiri.

Hal ini memberikan pelajaran berharga bahwa rasa empati tidak boleh berdiri sendiri; empati harus berjalan beriringan dengan naluri berpikir kritis. Kita dapat menaruh rasa sedih dan keprihatinan atas penderitaan sesama tanpa harus terburu-buru menghakimi atau membenarkan tindakan pihak mana pun sebelum fakta hukum resmi ditegakkan.

Perspektif Estetika Humanisme

Dalam kerangka mata kuliah umum (MKU) Estetika Humanisme, keberadaan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan harus menjadi pusat dari setiap kemajuan teknologi. Media sosial semestinya difungsikan sebagai wadah untuk mempererat tali kemanusiaan, bukan justru memperlebar jurang polarisasi, prasangka, atau kebencian.

Prinsip Human Literacy menekankan pentingnya empati, etika, tanggung jawab moral, serta daya kritis dalam menghadapi gelombang teknologi. Seseorang yang memiliki kesadaran emosional dan etis tidak akan mudah menyebarkan berita yang belum jelas verifikasinya, tidak gampang menghakimi sesama, dan tetap menghormati rambu-rambu hukum yang berlaku.

Menjadi pribadi yang bijak di dunia digital tidak diukur dari seberapa cepat kita memberikan tanggapan di kolom komentar. Sebaliknya, kemampuan untuk mengendalikan diri, melakukan verifikasi terhadap sumber yang kredibel, serta memahami masalah secara komprehensif merupakan cerminan dari kecerdasan emosional yang sejati.

Kesimpulan

Media sosial memberikan kontribusi dan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan masyarakat modern. Kendati demikian, kemudahan dalam bertukar informasi juga membawa risiko tingginya kesalahpahaman, disinformasi, serta pembentukan opini publik yang gegabah.

Berbagai fenomena viral yang terjadi memberikan pelajaran berharga akan pentingnya mengasah kecerdasan emosional. Empati merupakan nilai yang sangat mulia, namun empati yang sehat adalah empati yang dipandu oleh pemikiran kritis dan penghormatan pada fakta. Dengan memadukan kecerdasan emosional dan daya kritis, kita dapat menjadikan media sosial sebagai ruang publik yang sehat, beretika, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana diajarkan dalam MKU Estetika Humanisme.

Daftar Pustaka

Detikbali. (2026, 29 Juli). Rekam Jejak Panjang Terduga Maling Ayam yang Tewas Dikeroyok Massa. Diakses dari https://www.detik.com/bali/

Detiknews. (2026, 28 Juli). Satpam Jatiluhur Tewas Ditenggelamkan, Sosok Ayah Siaga Itu Telah Tiada.

Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-8594911/satpam-jatiluhur-tewas-ditenggelamkan-sosok-ayah-siaga-itu-telah-tiada

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.

Materi MKU Estetika Humanisme Universitas Siber Asia.

· UNESCO. (2021). Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence.

· Video Rujukan MKU Estetika Humanisme. https://www.youtube.com/watch?v=qWBE08TXkKs

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image