Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Baik Budi

Rumah Aman Bencana Bukan Kemewahan, Melainkan Hak Warga

Teknologi | 2026-07-27 23:46:08

Indonesia tidak pernah kekurangan pelajaran tentang pentingnya membangun rumah yang aman. Gempa bumi di Sumatera, tsunami di Aceh, erupsi gunung api di Jawa, banjir di Kalimantan, hingga tanah longsor di berbagai daerah menjadi pengingat bahwa negeri ini berdiri di atas kawasan dengan tingkat risiko bencana yang tinggi. Namun, ironisnya, setiap kali bencana datang, penyebab utama banyaknya korban sering kali bukan semata kekuatan alam, melainkan kualitas hunian yang tidak mampu melindungi penghuninya.

ilustrasi

Di tengah kebutuhan akan jutaan rumah baru setiap tahun, pembangunan hunian sederhana kerap dipahami sebatas bagaimana menyediakan tempat tinggal dengan biaya serendah mungkin. Akibatnya, aspek kesehatan, keselamatan, dan ketahanan terhadap bencana sering ditempatkan sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama. Padahal, rumah yang sederhana tidak harus identik dengan rumah yang rapuh.

Sebagai akademisi di bidang teknik elektro yang banyak bersinggungan dengan teknologi bangunan dan sistem kelistrikan, saya memandang bahwa konsep Hunian Sederhana Sehat dan Aman Bencana harus menjadi paradigma baru dalam pembangunan perumahan di Indonesia. Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi benteng pertama yang melindungi keluarga ketika bencana terjadi.

Kesalahan yang masih sering dijumpai adalah anggapan bahwa rumah tahan bencana identik dengan biaya pembangunan yang sangat mahal. Faktanya, banyak prinsip dasar konstruksi yang dapat diterapkan tanpa meningkatkan biaya secara signifikan. Pemilihan fondasi yang sesuai kondisi tanah, penggunaan struktur pengikat yang baik, kualitas sambungan antar elemen bangunan, hingga penataan beban atap merupakan faktor-faktor yang jauh lebih menentukan dibanding sekadar memperbesar ukuran bangunan.

Di sisi lain, aspek kesehatan juga tidak boleh diabaikan. Rumah yang minim ventilasi, kurang pencahayaan alami, memiliki sanitasi buruk, dan sistem drainase yang tidak memadai akan memunculkan persoalan baru berupa penyakit, kelembapan tinggi, hingga kualitas hidup yang rendah. Rumah yang sehat sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang bagi produktivitas keluarga.

Peran teknik elektro dalam mewujudkan hunian yang aman juga semakin penting. Instalasi listrik yang tidak memenuhi standar masih menjadi salah satu penyebab utama kebakaran rumah di Indonesia. Kabel yang dipasang sembarangan, sambungan tanpa pelindung, penggunaan stop kontak berlebihan, serta pengaman listrik yang tidak sesuai kapasitas menjadi ancaman yang sering dianggap sepele.

Padahal, perkembangan teknologi telah menghadirkan berbagai solusi yang relatif terjangkau. Sistem proteksi listrik modern, detektor asap, sensor kebocoran gas, pemutus arus otomatis, hingga perangkat pemantau konsumsi energi kini semakin mudah diakses masyarakat. Bahkan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) memungkinkan penghuni memantau kondisi rumah secara real time melalui telepon pintar.

Namun teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat apabila tidak diiringi budaya keselamatan. Banyak kebakaran rumah justru berawal dari kebiasaan sederhana seperti menggunakan kabel ekstensi secara berlebihan, meninggalkan peralatan listrik tetap menyala, atau melakukan instalasi tanpa tenaga yang kompeten.

Lebih jauh lagi, pembangunan hunian masa depan harus mengintegrasikan prinsip keberlanjutan. Rumah sederhana tidak hanya harus aman terhadap bencana, tetapi juga hemat energi dan ramah lingkungan. Pemanfaatan pencahayaan alami, ventilasi silang, material lokal berkualitas, sistem penampungan air hujan, hingga penggunaan panel surya skala rumah tangga merupakan langkah nyata menuju permukiman yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.

Pemerintah memang telah memiliki berbagai regulasi mengenai standar bangunan dan keselamatan konstruksi. Namun implementasinya masih menghadapi tantangan, terutama pada pembangunan rumah swadaya yang jumlahnya sangat besar. Di sinilah perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui pengabdian kepada masyarakat, edukasi teknis, pendampingan desain rumah sederhana, hingga pelatihan instalasi listrik yang aman.

Membangun rumah sejatinya bukan hanya pekerjaan tukang atau pengembang. Ia adalah investasi sosial yang menentukan kualitas hidup sebuah keluarga selama puluhan tahun. Rumah yang dirancang dengan memperhatikan aspek keselamatan akan mengurangi risiko korban saat bencana. Rumah yang sehat akan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Rumah yang hemat energi akan membantu mengurangi beban ekonomi keluarga sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap hunian sederhana. Kesederhanaan bukan berarti mengorbankan keselamatan. Keterbatasan anggaran bukan alasan untuk mengabaikan standar keamanan. Sebaliknya, melalui perencanaan yang tepat, pemanfaatan teknologi, dan kepatuhan terhadap standar teknik, rumah sederhana dapat menjadi tempat tinggal yang sehat, nyaman, hemat energi, dan tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari banyaknya rumah yang berhasil didirikan, tetapi juga dari seberapa banyak keluarga yang merasa aman tinggal di dalamnya. Sebab rumah yang sesungguhnya bukan sekadar bangunan berdinding dan beratap, melainkan ruang yang memberikan rasa aman, melindungi kehidupan, dan menjadi fondasi masa depan bangsa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image