Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jamilah Kurniati

Krisis SD Negeri, Ini Alasan Ortu Berbondong-bondong ke SD Swasta

Agama | 2026-07-26 22:52:04

Wah, awal tahun ajaran 2026/2027 bikin kita geleng-geleng kepala nih! Kabarnya, banyak banget SD Negeri yang kekurangan murid baru, bahkan ada yang sampai nggak dapat murid sama sekali. Miris ya? Menurut laporan CNN Indonesia tanggal 15 Juli 2026, fenomena ini ternyata ada beberapa alasannya, lho. Pertama, jumlah anak usia sekolah di sekitar SD Negeri itu sendiri memang sudah sedikit. Jadi, ya wajar kalau muridnya juga minim. Kedua, ini yang menarik, banyak orang tua sekarang ini lebih memilih sekolah yang menonjolkan pendidikan agama. Alasannya, mereka khawatir dengan kerusakan dan kenakalan remaja yang makin marak. Jadi, mereka berharap sekolah agama bisa jadi benteng buat anak-anaknya.

Melihat kondisi ini, pemerintah pun nggak tinggal diam. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah melakukan regrouping alias menggabungkan beberapa SD Negeri menjadi satu. Tujuannya sih biar lebih efisien. Namun begitu, konsekuensinya, jarak tempuh ke sekolah jadi makin jauh. Ini juga jadi PR baru buat orang tua dan anak-anak.

Sebenarnya nih ya, perubahan struktur demografi (penduduk menua) terjadi bukan tanpa sebab. Pertama, program pemerintah tentang KB, menjadikan jumlah kelahiran menurun. Kedua, gagalnya kebijakan ekonomi sehingga membuat biaya hidup semakin tinggi dan sulitnya meraih kesejahteraan hidup yang membuat pasangan muda nggak mau punya anak. Ketiga, adanya kesenjangan pendapatan di desa dan kota yang terlampau jauh sehingga urbanisasi tak dapat terhindarkan.

Selain itu, kenapa belakangan ini makin banyak orang tua yang condong menyekolahkan anaknya di sekolah swasta, bukan tanpa alasan ternyata. Jauh di lubuk hati para orang tua, ada kekhawatiran yang besar. Mereka melihat pergaulan zaman sekarang itu makin bebas, nilai-nilai moral kayaknya makin luntur. Istilahnya, gara-gara sistem sekuler liberal yang menganut sistem kebebasan tanpa batas dan tidak mengedepankan nilai agama, jadinya banyak kasus kenakalan remaja, anak-anak sekolah yang terlibat hal-hal negatif, sampai tindak kriminalitas. Hal itu membuat orang tua memilih sekolah swasta karena tidak mau anaknya jadi korban atau bahkan pelaku dari kerusakan moral itu sendiri.

Jadi, pilihan ke sekolah swasta berbasis agama itu bukan cuma soal pengajaran biasa, tapi lebih kayak upaya penyelamatan generasi dari apa yang mereka anggap sebagai "badai moral" di era sekarang. Mereka berharap, pendidikan agama bisa jadi oase supaya anak-anaknya tetap punya pegangan kuat di tengah arus zaman yang makin kencang ini.

Bahkan, walaupun kurikulum sekolah sudah berkali-kali diubah dan diperbarui, ternyata belum ampuh buat menahan dampak buruk dari arus kebebasan yang jauh dari nilai-nilai agama. Ibarat tameng yang terus diganti, tapi belum pas dengan apa yang dibutuhkan, jadi masih saja ada celah yang bikin nilai-nilai luhur perlahan terkikis. Makanya, banyak yang merasa sekadar ubah pelajaran di kelas belum cukup buat melindungi anak-anak dari pengaruh zaman sekarang.

Lalu bagaimana pandangan Islam tentang hal ini?

Pertama, dalam Islam pendidikan itu adalah kebutuhan pokok dan jadi fondasi utama bangsa yang maju. Jadi sudah tugas negara buat menjamin semua rakyat bisa sekolah yang bagus, merata, dan gratis tanpa ada yang terhalang biaya.

Kedua, kalau di sistem pendidikan Islam dalam naungan institusi Islam, acuan utamanya itu akidah Islam. Jadi nggak cuma pintar ilmu pengetahuan dan teknologi aja, tapi anak-anak juga tumbuh dengan shakshiyah islamiyah yaitu anak-anak yang berkepribadian Islam. Dengan tujuan itu, Negara juga yang akan menyiapkan guru yang mumpuni, gedung sekolah, sampai semua fasilitasnya biar kualitas pendidikannya benar-benar maksimal. Sehingga dalam Islam tidak ada pemisahan istilah sekolah negeri atau swasta.

Jadi sebenarnya, harus kita sadari bahwa fenomena ini bukan terjadi begitu saja. Permasalahan ini adalah permasalahan sistemik yang berakar dari dianutnya sistem sekuler liberal sehingga dibutuhkan kesadaran politik. Tidak cukup jika hanya ingin menyelamatkan anak sendiri dari bahaya kerusakan. Nah, maka dari itu pemahaman ini perlu disebarkan ke banyak orang. Agar semua makin sadar, dan akhirnya bisa bareng-bareng bergerak buat perubahan yang lebih baik nanti!

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image