Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image DIMAS ARISANDI

Digitalisasi ZISWAF: Cara Baru Berbagi di Era Cashless

Ekonomi Syariah | 2026-07-23 11:45:29
Sumber : Chatgbt

DIMAS ARISANDI

MAHASISWA UNIVERSITAS KH. MUKHTAR SYAFAAT BLOKAGUNG BANYUWANGI

Coba deh inget-inget, kapan terakhir kali kamu pegang uang cash buat bayar sesuatu? Beli kopi di kafe? Scan QRIS. Bayar parkir? E wallet. Beli pulsa? Tinggal klik di aplikasi. Nah, kalau segala urusan bayar-membayar aja udah serba digital, kenapa urusan zakat, infaq, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) masih sering dianggap harus "ribet" dan identik sama amplop atau kotak amal di masjid?

Sebagai mahasiswa yang hidupnya nggak lepas dari HP, jujur aku ngerasa digitalisasi ZISWAF ini salah satu inovasi paling relevan buat generasi kita. Kenapa? Karena kita ini generasi yang maunya semua serba cepat, transparan, dan gampang dipantau. Nah, ZISWAF digital punya semua itu.

Dulu, kalau mau sedekah, biasanya kita nunggu ada kotak amal lewat pas Jumatan, atau nunggu ketemu orang yang emang butuh. Sekarang? Buka aplikasi, pilih lembaga zakat terpercaya, transfer, selesai. Nggak sampai semenit. Bahkan banyak platform yang udah terintegrasi sama e-wallet kayak GoPay, OVO, atau DANA, jadi tinggal beberapa kali tap doang.

Ini penting banget buat mahasiswa yang notabene sibuk kuliah, organisasi, part time, sampai sering lupa bawa uang cash. Dengan ZISWAF digital, alasan "nggak sempat" atau "nggak ada uang kecil" itu jadi nggak relevan lagi.

Salah satu keresahan yang sering muncul soal donasi itu "Uangnya beneran sampai ke yang butuh nggak sih?" Nah, ini yang menarik dari ZISWAF digital. Banyak platform sekarang kasih laporan real time, mulai dari siapa penerima manfaatnya, sampai laporan keuangan yang bisa diakses publik. Beberapa bahkan pakai teknologi kayak blockchain biar makin transparan.

Buat generasi yang tumbuh dengan budaya "cek dulu, baru percaya", fitur kayak gini jelas jadi nilai plus. Kita jadi bisa lebih yakin kalau donasi kita bener-bener nyampe dan berdampak, bukan cuma jadi angka di layar HP.

Yang sering disalah pahami, wakaf itu identik sama tanah luas atau bangunan masjid megah yang cuma bisa dilakuin orang berduit. Padahal sekarang ada yang namanya wakaf uang, dan nominalnya bisa mulai dari puluhan ribu rupiah aja. Beberapa platform digital malah bikin skema "wakaf produktif", di mana dana kita dikelola buat usaha atau investasi yang hasilnya dipakai buat kepentingan sosial terus-menerus.

Jadi, mahasiswa yang uang bulanannya pas-pasan pun sebenarnya tetap bisa ikut berwakaf. Nggak perlu nunggu kaya dulu. Tapi ya, digitalisasi ini bukan berarti tanpa masalah. Literasi digital soal ZISWAF masih rendah, banyak yang belum tahu bedanya zakat, infaq, sedekah, dan wakaf itu apa, apalagi cara ngitung zakat yang benar. Belum lagi soal keamanan data dan maraknya penipuan berkedok donasi online yang bikin orang jadi ragu. Di sinilah kampus dan mahasiswa sebenarnya punya peran penting. Kita yang notabene melek teknologi bisa jadi jembatan buat ngedukasi masyarakat, sekaligus ikut mengawal supaya platform-platform ZISWAF digital ini beneran amanah dan kredibel.

Jadi, Gimana? Digitalisasi ZISWAF ini bukan sekadar tren ikut-ikutan zaman cashless, tapi peluang buat bikin filantropi Islam makin inklusif, transparan, dan gampang diakses siapa aja, termasuk mahasiswa kayak kita. Yang dibutuhkan sekarang cuma satu: kemauan buat mulai. Nggak perlu nunggu kaya, nggak perlu nunggu punya waktu luang. Cukup buka HP, pilih platform yang terpercaya, dan mulai berbagi dari sekarang. Karena pada akhirnya, sedekah itu bukan soal seberapa besar nominalnya, tapi seberapa konsisten kita mau berbagi, meski cuma lewat satu kali tap di layar HP.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image