Budaya Screenshot di Era Percakapan Digital
Lifestyle | 2026-07-19 21:39:21Oleh: Dr. Wuri Syaputri, M.Pd.
Dosen FIB Universitas Andalas
Ilustrasi dibuat oleh AI
Pernahkah Anda mendengar kalimat seperti, "Coba kirim screenshot-nya," atau "Kalau ada screenshot, baru aku percaya"?
Ungkapan semacam itu semakin sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Di grup keluarga, percakapan kantor, komunitas daring, hingga obrolan antarteman, screenshot telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari komunikasi digital.
Menariknya, screenshot tidak lagi hanya berfungsi sebagai dokumentasi. Ia telah berkembang menjadi alat komunikasi yang memiliki makna sosial.
Seseorang yang mengirim screenshot percakapan WhatsApp, misalnya, sebenarnya tidak hanya menunjukkan isi pesan. Ia sedang membangun kredibilitas, memperkuat argumen, atau bahkan meminta dukungan dari orang lain. Screenshot menjadi bentuk representasi dari sebuah peristiwa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi digital mengalami perubahan yang cukup besar. Jika dahulu orang mengandalkan cerita lisan atau tulisan, kini mereka semakin mengandalkan bukti visual.
Dalam perspektif sosiolinguistik, perubahan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa bahasa tidak lagi hanya hadir dalam bentuk kata-kata. Makna kini dibangun melalui kombinasi teks, gambar, simbol, dan konteks digital.
Gunther Kress (2010) menyebut fenomena ini sebagai komunikasi multimodal. Menurutnya, komunikasi modern tidak hanya mengandalkan bahasa verbal, tetapi juga memanfaatkan unsur visual, tata letak, ikon, warna, hingga gambar untuk membangun makna. Screenshot merupakan salah satu bentuk komunikasi multimodal yang kini sangat lazim digunakan.
Mengapa screenshot begitu dipercaya?
Jawabannya bukan semata karena ia berupa gambar. Screenshot dianggap menghadirkan kesan autentik. Ketika seseorang memperlihatkan tangkapan layar sebuah percakapan, pembaca merasa sedang melihat peristiwa secara langsung, bukan hanya mendengar cerita dari satu pihak.
Padahal, dalam kenyataannya, screenshot tetap merupakan hasil pilihan.
Seseorang dapat memilih bagian percakapan yang ingin ditampilkan, memotong konteks tertentu, atau hanya memperlihatkan potongan yang mendukung sudut pandangnya. Artinya, screenshot bukanlah cerminan utuh dari sebuah peristiwa, melainkan representasi yang telah dipilih.
Di sinilah bahasa dan teknologi saling bertemu.
Dalam analisis wacana, Norman Fairclough (1992) menjelaskan bahwa setiap bentuk komunikasi selalu melibatkan proses pemilihan. Tidak ada pesan yang benar-benar netral. Apa yang ditampilkan sama pentingnya dengan apa yang disembunyikan.
Hal tersebut juga berlaku pada screenshot.
Satu tangkapan layar dapat memperkuat kepercayaan, tetapi juga dapat membentuk opini tertentu. Karena itu, screenshot bukan hanya alat dokumentasi, melainkan bagian dari praktik membangun makna di ruang digital.
Fenomena ini juga mengubah cara masyarakat memandang kebenaran.
Jika dahulu seseorang cukup berkata, "Aku sudah mengirim pesan," kini lawan bicara sering meminta bukti.
"Mana screenshot-nya?"
Permintaan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan kini semakin bergantung pada bukti visual.
Menariknya, screenshot juga mulai menggantikan sebagian fungsi bahasa.
Alih-alih menjelaskan bahwa jadwal rapat berubah, seseorang cukup mengirim screenshot pengumuman.
Alih-alih menceritakan isi percakapan, seseorang memilih mengirim tangkapan layar chat.
Alih-alih menuliskan ulasan panjang tentang sebuah produk, banyak orang cukup membagikan screenshot komentar pelanggan lain.
Dalam situasi seperti ini, screenshot telah menjadi bentuk ujaran.
Ia menyampaikan informasi, membangun makna, sekaligus mengarahkan interpretasi pembacanya.
Dari sudut pandang sosiolinguistik, praktik tersebut menunjukkan bahwa masyarakat terus menyesuaikan cara berbahasa dengan perkembangan teknologi. Bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bergerak mengikuti media yang digunakan manusia.
Kemunculan screenshot sebagai alat komunikasi juga memperlihatkan bahwa masyarakat digital semakin mengutamakan efisiensi. Sebuah gambar dianggap mampu menggantikan penjelasan yang panjang. Dalam hitungan detik, lawan bicara dapat memahami konteks yang mungkin membutuhkan beberapa paragraf jika dijelaskan dengan kata-kata.
Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan.
Semakin mudah sebuah screenshot dibagikan, semakin besar pula tanggung jawab etis dalam menggunakannya. Percakapan pribadi dapat tersebar tanpa izin. Potongan informasi dapat dipahami secara keliru karena kehilangan konteks. Bahkan, screenshot dapat dimanfaatkan untuk membangun narasi yang tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan.
Oleh karena itu, literasi digital tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan menggunakan teknologi. Literasi digital juga mencakup kemampuan membaca konteks, memahami representasi, dan bersikap kritis terhadap bukti visual yang beredar di media sosial.
Pada akhirnya, budaya screenshot menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti perubahan cara manusia berinteraksi.
Hari ini, kita memang masih berbicara dengan kata-kata. Namun, kita juga berbicara melalui tangkapan layar, gambar, emoji, dan berbagai bentuk komunikasi visual lainnya.
Mungkin itulah ciri khas percakapan digital saat ini. Tidak semua pesan ditulis dalam kalimat. Sebagian di antaranya cukup dikirim dalam bentuk screenshot, lalu maknanya disusun bersama oleh mereka yang membacanya.
Daftar Pustaka
Fairclough, N. (1992). Discourse and social change. Polity Press.
Kress, G. (2010). Multimodality: A social semiotic approach to contemporary communication. Routledge.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
