Bimbingan dan Konseling: Menjadi Garda Terdepan Pembentukan Karakter Peserta Didik
Guru Menulis | 2026-07-19 15:36:36
Bimbingan dan Konseling di Era Media Sosial: Menjadi Garda Terdepan Pembentukan Karakter Peserta Didik
Oleh Valentino
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara anak-anak berinteraksi, belajar, dan memperoleh informasi. Media sosial yang awalnya hanya menjadi sarana hiburan kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan bagi peserta didik sekolah dasar. Di balik berbagai manfaatnya, media sosial juga menghadirkan tantangan besar, seperti perundungan siber (cyberbullying), kecanduan gawai, penyebaran informasi yang tidak benar, hingga menurunnya kemampuan berinteraksi secara langsung. Dalam kondisi tersebut, layanan Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran yang semakin penting sebagai upaya preventif sekaligus pendamping bagi peserta didik agar mampu menggunakan media sosial secara bijak.
Sayangnya, keberadaan guru BK di sekolah dasar masih sangat terbatas. Sebagian besar layanan bimbingan dan konseling masih menjadi tanggung jawab wali kelas yang pada dasarnya telah memiliki beban kerja yang cukup besar. Akibatnya, pendampingan terhadap permasalahan psikologis, sosial, maupun dampak negatif penggunaan media sosial belum dapat dilakukan secara maksimal. Padahal, usia sekolah dasar merupakan masa yang sangat menentukan pembentukan karakter dan kebiasaan peserta didik.
Fenomena penyalahgunaan media sosial di kalangan anaksemakin mudah ditemukan. Banyak peserta didik yangmenghabiskan waktu berjam-jam di depan layar untuk bermaingim, menonton video pendek, atau menggunakan media sosialtanpa pengawasan yang memadai. Tidak sedikit pula yang menjadi korban maupun pelaku perundungan melalui mediadigital. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karaktertidak lagi cukup dilakukan hanya melalui pembelajaran di kelas,tetapi juga memerlukan pendampingan dalam menghadapi kehidupan digital.
Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan DigitalRepublik Indonesia serta berbagai laporan literasi digital,penggunaan internet oleh anak usia sekolah terus mengalamipeningkatan dari tahun ke tahun. Bersamaan dengan itu, kasusperundungan siber, penyalahgunaan media sosial, serta paparan konten yang tidak sesuai usia juga semakin meningkat. Faktatersebut menunjukkan bahwa sekolah perlu memberikanperhatian lebih terhadap kesehatan mental, karakter, dan literasidigital peserta didik.
Dalam situasi seperti ini, guru BK memiliki peran strategis.Tidak hanya membantu peserta didik yang mengalami masalah,tetapi juga memberikan layanan pencegahan melalui edukasimengenai etika bermedia sosial, keamanan digital,pengendalian emosi, kemampuan berkomunikasi, serta pembentukan karakter yang positif. Guru BK juga dapatmenjadi penghubung antara sekolah, orang tua, dan pesertadidik sehingga berbagai permasalahan dapat ditangani secaralebih cepat dan profesional.
Penulis mengamati bahwa masih banyak peserta didik yangbelum memahami batasan dalam menggunakan media sosial.Beberapa di antaranya lebih mudah percaya terhadap informasiyang belum tentu benar, mudah terpengaruh oleh tren negatif, bahkan kesulitan mengendalikan waktu penggunaan gawai.Kondisi tersebut sering kali berdampak pada menurunnyakonsentrasi belajar,
prestasi akademik, hingga hubungan sosial dengan temanmaupun keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa pendampingandari guru BK menjadi kebutuhan yang semakin mendesak di eradigital.
Kehadiran guru BK tentu tidak menggantikan peran wali kelasmaupun orang tua. Sebaliknya, ketiganya perlu membangunkolaborasi yang kuat. Wali kelas dapat mengamatiperkembangan peserta didik di sekolah, orang tua melakukanpendampingan di rumah, sedangkan guru BK memberikan layanan profesional melalui konseling, bimbingan kelompok,maupun program literasi digital yang berkelanjutan. Sinergitersebut akan menciptakan lingkungan belajar yang aman,nyaman, dan mendukung perkembangan peserta didik secara menyeluruh.
Pada akhirnya, tantangan pendidikan di era media sosial bukan hanya mengajarkan peserta didik agar cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk mereka menjadi pribadi yang bijaksana dalam menggunakan teknologi. Oleh karena itu, pemerintah, sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap penguatan layanan Bimbingan dan Konseling, khususnya di sekolah dasar. Dengan layanan BK yang optimal, peserta didik diharapkan mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi diri tanpa kehilangan karakter, etika, serta kesehatan mental sebagai bekal menghadapi masa depan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
