Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ardisty Kamulya

Mengapa Rivalitas Messi vs Ronaldo tak Pernah Usai?

Olahraga | 2026-07-15 16:53:04

Ada satu topik yang mungkin lebih berbahaya daripada membahas politik saat kumpul keluarga: bertanya di media sosial siapa yang layak menyandang gelar Greatest of All Time (GOAT), Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Dalam hitungan menit, kolom komentar bisa berubah menjadi arena perang. Statistik dijadikan amunisi, video kompilasi dipakai sebagai bukti, dan tidak sedikit yang berakhir dengan saling menghina. Orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal rela menghabiskan waktu berjam-jam mempertahankan pilihannya.

Padahal, jika persoalannya semata-mata ditentukan oleh prestasi, perdebatan ini seharusnya mulai menemukan titik akhir. Messi telah melengkapi kariernya dengan trofi Piala Dunia 2022, sementara Ronaldo terus memecahkan berbagai rekor individu. Data mengenai keduanya tersedia di mana-mana dan dapat diakses siapa saja. Namun, semakin lengkap statistik yang tersedia, semakin sengit pula perdebatannya. Artinya, yang dipertahankan bukan lagi sekadar argumen tentang sepak bola, melainkan sebuah rivalitas yang terus hidup melampaui fakta-fakta di lapangan.

Sekilas, fanatisme penggemar tampak menjadi jawaban yang paling masuk akal. Loyalitas terhadap pemain favorit memang membuat banyak orang enggan mengubah pendapatnya. Namun, penjelasan ini belum sepenuhnya memadai. Jika fanatisme merupakan satu-satunya penyebab, intensitas perdebatan seharusnya mulai mereda seiring berakhirnya era El Clásico, bertambahnya usia kedua pemain, atau munculnya generasi pesepak bola baru. Kenyataannya justru sebaliknya. Rivalitas Messi dan Ronaldo tetap hidup, bahkan diwariskan kepada penggemar yang tidak pernah menyaksikan langsung masa keemasan keduanya.

Pertanyaannya kemudian, siapa yang menjaga rivalitas itu tetap hidup? Jawabannya tidak hanya terletak pada para penggemar, tetapi juga pada cara media dan platform digital bekerja.

Dalam kajian komunikasi politik, kondisi ini dapat dipahami melalui Agenda-Setting Theory yang dikembangkan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Teori ini menjelaskan bahwa media tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan masyarakat, tetapi sangat berpengaruh dalam menentukan isu apa yang dianggap penting untuk dipikirkan. Ketika media terus mengangkat pertanyaan "Siapa GOAT?", memuat perbandingan statistik, atau menghidupkan kembali momen-momen ikonik Messi dan Ronaldo, rivalitas tersebut tetap berada dalam agenda publik meskipun konteks yang melahirkannya telah banyak berubah.

Ketika suatu isu berhasil menempati agenda publik, media dan platform digital memiliki insentif untuk terus mereproduksinya. Isu yang telah menarik perhatian publik cenderung dipertahankan karena mampu menghasilkan tingkat keterlibatan (engagement) yang tinggi. Ketika media berhasil mempertahankan rivalitas Messi dan Ronaldo sebagai salah satu isu utama dalam percakapan publik, perhatian masyarakat ikut terkonsentrasi pada isu tersebut. Dalam ekonomi digital, perhatian bukan lagi sekadar respons audiens, melainkan aset yang dapat diubah menjadi keterlibatan, data pengguna, dan pendapatan iklan.

Oleh karena itu, peran media tidak hanya menjadi penyalur informasi, tetapi juga aktor yang berperan dalam membentuk prioritas isu di ruang publik. Penelitian Hayat dkk. (2024) menunjukkan bahwa di media sosial, daya tarik terhadap figur pemain (star attraction) bahkan lebih dominan dibandingkan loyalitas terhadap klub (team identification). Temuan ini memperkuat argumen bahwa media lebih mudah mempertahankan rivalitas Messi dan Ronaldo sebagai agenda publik karena perhatian pengguna lebih banyak tertuju pada figur pemain dibandingkan identitas klubnya. Dengan demikian, rivalitas personal menjadi komoditas yang jauh lebih efektif untuk terus diproduksi dibandingkan sekadar pemberitaan mengenai klub tempat mereka bermain.

Algoritma kemudian memperkuat mekanisme tersebut. Dalam konteks ini, algoritma tidak hanya mengatur distribusi informasi, tetapi juga secara tidak langsung menentukan narasi mana yang memperoleh visibilitas lebih besar di ruang publik. Konten yang memancing emosi—baik kemarahan, kebanggaan, maupun fanatisme—cenderung memperoleh keterlibatan lebih tinggi dibandingkan diskusi yang cepat selesai. Akibatnya, pendukung Messi semakin sering melihat konten yang memuji Messi dan mengkritik Ronaldo. Sebaliknya, pendukung Ronaldo mengalami hal yang sama. Lambat laun, keduanya hidup dalam echo chamber yang membuat keyakinannya terasa semakin benar, sementara pandangan kelompok lain tampak semakin keliru.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa algoritma tidak sekadar mendistribusikan informasi, tetapi juga membentuk cara pengguna memahami realitas. Ketika seseorang terus-menerus menerima konten yang menguatkan pandangannya, keyakinan tersebut semakin sulit dipertanyakan. Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi ruang konfirmasi. Perdebatan tidak lagi bertujuan mencari kesimpulan yang paling tepat, melainkan mempertahankan identitas dan membuktikan bahwa kelompok sendirilah yang paling benar.

Di titik ini, rivalitas Messi dan Ronaldo tidak lagi sekadar dipertahankan oleh fanatisme penggemar. Ia terus direproduksi oleh struktur media dan platform digital yang sama-sama memperoleh manfaat dari tingginya keterlibatan publik. Semakin sengit perdebatan berlangsung, semakin tinggi pula nilai ekonominya. Akibatnya, konflik menjadi lebih menguntungkan daripada konsensus. Konsekuensinya, logika media bergeser dari fungsi informatif menuju fungsi kompetitif. Isu yang menghasilkan keterlibatan tinggi lebih berpeluang dipertahankan dibandingkan isu yang memiliki nilai informasi lebih besar tetapi kurang menarik perhatian publik.

Mungkin suatu hari nanti Lionel Messi benar-benar akan gantung sepatu. Cristiano Ronaldo pun demikian. Banyak yang mengira saat itulah perdebatan tentang siapa yang terbaik sepanjang masa akhirnya akan selesai. Namun, kemungkinan besar yang terjadi justru sebaliknya.

Dunia sepak bola akan segera menemukan rivalitas baru. Lamine Yamal melawan Kylian Mbappé. Jude Bellingham melawan Erling Haaland. Nama-namanya boleh berganti, tetapi pola yang bekerja akan tetap sama. Media akan kembali membingkai pertarungan itu sebagai duel dua kutub. Algoritma akan mendorong konten yang memancing emosi. Penggemar akan kembali memilih kubunya, menyusun statistik, dan mempertahankan idolanya dengan keyakinan yang nyaris tak tergoyahkan.

Selama perhatian publik masih menjadi komoditas yang diperebutkan, pertanyaan "siapa GOAT?" mungkin tidak akan pernah benar-benar menemukan jawaban. Bukan karena jawabannya tidak ada, melainkan karena bagi media dan platform digital, pertanyaan itu jauh lebih bernilai daripada jawabannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image