Mahasiswa UAD Belajar AI Bersama Google Student Ambassador
Edukasi | 2026-07-14 10:28:38
Google Student Ambassador (GSA) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dio Lutvi Andre, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi angkatan 2024, menyelenggarakan Sharing Session bertajuk "Prompting & Generate by Gemini dan NotebookLM" pada Jumat, 26 Juni 2026 di Laboratorium Strategi Bisnis Sistem Informasi, Kampus IV UAD. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi kecerdasan buatan di kalangan mahasiswa sekaligus memperkenalkan pemanfaatan teknologi generatif dalam mendukung proses akademik dan persiapan karier.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mempelajari teknik prompt engineering menggunakan Google Gemini serta mengoptimalkan NotebookLM sebagai asisten belajar berbasis AI. Selain sesi praktik, peserta juga diajak mengeksplorasi kreativitas melalui pembuatan musik menggunakan Gemini dengan memanfaatkan kata-kata acak dari peserta. Tak hanya membahas aspek teknis, kegiatan ini juga mengangkat pentingnya etika dalam penggunaan teknologi AI.
Dio Lutvi Andre menjelaskan bahwa sharing session ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya mengenal teknologi AI, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab. "Saya ingin mengenalkan dan melatih teman-teman mahasiswa UAD agar lebih cakap digital, khususnya dalam memanfaatkan Generative AI. Harapan saya, cara pandang terhadap AI bisa bergeser. AI bukan sekadar alat untuk bersenang-senang atau jalan pintas mengerjakan tugas, tetapi dapat menjadi thought partner yang produktif untuk mendukung akademik maupun karier di masa depan," ujarnya.
Menurut Dio, penguasaan teknologi AI menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa di tengah perkembangan dunia digital. Ia menilai pemanfaatan AI mampu mempercepat proses belajar sekaligus meningkatkan kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.
Dalam bidang akademik, AI dapat membantu mahasiswa merangkum literatur, melakukan brainstorming, hingga menyusun struktur karya ilmiah secara lebih efisien. Sementara itu, di dunia profesional, kemampuan memanfaatkan AI dan menyusun prompt yang efektif menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan oleh berbagai industri.
"AI bukan untuk menggantikan proses berpikir, tetapi membantu kita bekerja lebih efektif sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan analisis yang lebih mendalam. Selain itu, kemampuan menggunakan AI juga menjadi nilai tambah ketika memasuki dunia kerja," jelasnya.
Sebagai Google Student Ambassador 2026, Dio mengaku memperoleh banyak pengalaman berharga selama menjalankan perannya sebagai penghubung antara inovasi teknologi Google dengan mahasiswa UAD. Melalui program tersebut, ia mendapatkan akses terhadap berbagai perkembangan teknologi terbaru sekaligus kesempatan untuk membagikan pengetahuan kepada sivitas akademika melalui berbagai kegiatan edukatif.
Selain memperluas wawasan teknologi, peran tersebut juga memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, public speaking, manajemen program, serta membangun jejaring profesional dengan sesama pegiat teknologi dan mentor dari berbagai daerah.
Dio berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan sehingga mampu memperkuat budaya literasi AI di lingkungan Universitas Ahmad Dahlan. Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi segera menerapkan keterampilan yang diperoleh dalam aktivitas perkuliahan, kompetisi, maupun berbagai proyek pengembangan diri.
"Semoga ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan saja. Saya berharap teman-teman dapat langsung mempraktikkan teknik prompting untuk mendukung perkuliahan, kompetisi, maupun proyek pribadi. Selain itu, saya berharap budaya pemanfaatan AI yang bijak, etis, dan inovatif dapat terus berkembang di lingkungan Universitas Ahmad Dahlan," tutupnya. (Mawar)
uad.ac.id
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
