Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rizki Wahyu Pratama

Lorong Waktu di Gerbang Sekolah: Melihat Bayangan Sendiri pada Langkah Kecilnya

Parenting | 2026-07-14 06:58:36

Berdiri di pelataran Taman Kanak-Kanak di tengah dinginnya udara pagi Bukittinggi, pemandangan yang tersaji di depan mata selalu seragam dari tahun ke tahun: keriuhan, warna-warni tas punggung, dan anak-anak berseragam rapi yang masih beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, bagi seorang ayah yang mengantar anaknya untuk pertama kali, pemandangan itu memicu sesuatu yang jauh lebih dalam. Ini bukan hanya tentang rutinitas pagi, melainkan sebuah perjalanan melintasi lorong waktu.

Saat pandangan saya tertuju pada langkah ragu namun berani dari sang anak yang perlahan memasuki halaman sekolah, waktu seolah berputar mundur. Tiba-tiba, siluet punggung kecil itu bukanlah dirinya, melainkan bayangan diri saya sendiri di masa lalu.

Teringat kembali hari pertama sekolah saya puluhan tahun silam. Zamannya tentu berbeda. Bentuk tas, model sepatu, hingga permainan di halaman sekolah mungkin telah banyak berubah seiring bergantinya generasi. Namun, lanskap emosional seorang anak yang berhadapan dengan hari pertama sekolah ternyata abadi dan tak lekang oleh waktu.

Saya ingat betul rasa dingin di ujung jari, genggaman tangan yang tak ingin lepas dari celana orang tua, dan mata yang menatap nanar ke arah kerumunan anak-anak lain yang sama asingnya. Ada rasa gentar yang menyergap, sekaligus percikan rasa penasaran yang meletup-letup. Perasaan itulah yang kini persis terpancar dari mata anak saya.

Bagi kita orang dewasa, Taman Kanak-Kanak hanyalah sebuah bangunan dengan fasilitas bermain dan ruang belajar. Tapi bagi seorang anak berusia empat atau lima tahun, gerbang itu adalah portal menuju semesta yang benar-benar baru.

Di sinilah untuk pertama kalinya mereka keluar dari "ekosistem mikro" bernama rumah, tempat di mana mereka selalu menjadi pusat tata surya. Memasuki sekolah berarti memasuki "ekosistem makro" atau miniatur masyarakat. Di dunia baru ini, aturan mainnya berbeda. Mereka harus belajar mengantre, berbagi mainan, menyelesaikan konflik kecil dengan teman sebaya, dan yang paling menantang: mempercayai figur otoritas baru yang dipanggil "Guru", bukan ayah atau ibunya.

Langkah pertama melewati gerbang sekolah adalah proklamasi kemandirian pertama seorang manusia. Ini adalah momen transisi psikologis yang luar biasa besar. Mereka melangkah membawa bekal rasa aman yang telah kita tanamkan di rumah, mencoba memvalidasinya di dunia luar.

Melihat ia perlahan berbaur dengan teman-teman barunya, saya tersadar betapa siklus kehidupan berputar dengan sangat presisi. Puluhan tahun lalu, almarhum ayah atau ibu saya mungkin berdiri di titik yang sama, menatap saya dengan dada yang berdesir, merasakan campuran antara kebanggaan dan keengganan untuk melepaskan. Kini, giliran saya yang mengambil peran itu. Berdiri di luar pagar, menahan insting protektif, dan membiarkannya menemukan jalannya sendiri.

Bayangan masa lalu itu perlahan memudar, tergantikan oleh realitas ceria saat ia melambaikan tangan ke arah saya dari kejauhan. Sebuah senyum mengembang di wajahnya, menandakan bahwa ia siap menaklukkan dunia barunya.

Dalam hati, saya merapal sebuah doa sederhana yang mungkin diucapkan oleh semua orang tua dari masa ke masa: Tumbuhlah dengan berani, Nak. Dunia baru ini mungkin besar dan asing, tapi pijakanmu sudah cukup kuat untuk menjelajahinya.

Oleh: Rizki Wahyu Pratama

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image