Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Mensyukuri Ujianmu Allah

Agama | 2026-07-12 04:12:49

Abdul hadi tamba.

Mensyukuri ujianmu Allah.

Kami memandang ujian sebagai bentuk kasih sayang Allah.

Ujian adalah sarana untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Mensyukuri ujian adalah tanda ketaatan tertinggi.

Dalil Al-Qur'an.

Surah Ibrahim Ayat 7:

Mensyukuri ujian dan nikmat akan menambah karunia-Nya.

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'

"Surah Al-Baqarah Ayat 155-156:

Ujian adalah kepastian untuk menguji kesabaran dan keimanan."...

Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali).

Hadis Shahih.

Hadis Riwayat Muslim No. 2999:

Orang beriman selalu bersyukur atas nikmat dan bersabar atas musibah.

Keduanya adalah kebaikan murni.

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya.

Hal ini tidak didapatkan kecuali pada seorang mukmin.

Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya.

Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.

(HR. Muslim)

Pandangan Ulama Muktabar (Sufi dan Ahli Sunnah)Imam Al-Ghazali (dalam kitab Ihya' Ulumiddin):

Beliau menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah buah dari ilmu (pengetahuan tentang Allah).

Syukur terbagi menjadi tiga tingkatan:

Pengakuan di dalam hati, pujian melalui lisan, dan ketaatan dalam wujud perbuatan.

Bersyukur atas ujian berarti melihat hikmah di balik musibah tersebut.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (dalam kitab Madarijus Salikin):

Beliau menegaskan bahwa ujian bagi seorang mukmin adalah nikmat yang terselubung.

Cobaan tersebut berfungsi untuk menggugurkan dosa dan menaikkan derajat rohani hamba di sisi Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (dalam Majmu' Fatawa):

Tasawuf yang hakiki adalah pemurnian akhlak (tazkiyatun nufus) sesuai Al-Qur'an dan Sunnah.

Beliau menyatakan bahwa seorang hamba harus rida terhadap ketetapan Allah (qadha) dan selalu memandang ujian sebagai bentuk didikan cinta dari Allah.

Pembahasan tentang tasawuf bersumber penuh dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, terutama terkait nilai spiritual seperti sabar, syukur, zuhud, dan ikhlas.

Tasawuf adalah dimensi spiritual Islam yang menekankan pada pembersihan batin, pengembangan moral, dan kedekatan dengan Allah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image