Peran Dongeng di Era 5.0
Edukasi | 2026-07-10 12:42:38Di tengah riuhnya era 5.0, dongeng bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan jembatan emas yang menanamkan nilai-nilai luhur ke dalam jiwa anak sejak dini. Dongeng hadir sebagai fase di antara derasnya arus informasi digital, menyuguhkan pesan moral yang melekat dan mudah dicerna, bahkan ketika teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian anak
Di era Society 5.0 yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan digitalisasi yang sangat pesat, pembentukan karakter anak menjadi tantangan sekaligus kebutuhan mendesak. Anak-anak tidak hanya dituntut untuk menguasai teknologi, tetapi juga harus memiliki karakter kuat yang berlandaskan nilai moral dan sosial. Salah satu media efektif yang dapat digunakan untuk membentuk karakter anak adalah dongeng.
Dongeng merupakan cerita yang sarat dengan nilai-nilai moral dan sosial yang dapat membentuk karakter anak secara menyenangkan dan mudah dipahami. Melalui dongeng, anak-anak belajar mengenal berbagai nilai seperti kejujuran, keberanian, tanggung jawab, gotong royong, dan rasa hormat. Selain itu, dongeng juga membantu mengasah imajinasi dan kecerdasan emosional anak, yang sangat penting dalam perkembangan karakter mereka.
Di era digital ini, dongeng tetap relevan karena mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dan pesan moral yang mengakar dalam masyarakat. Misalnya, dongeng tradisional Jawa Timur mengandung banyak pesan moral dan simbol pendidikan karakter yang dapat membentuk generasi Z agar menjadi pribadi yang berkarakter dan berkualitas. Dongeng juga dapat dikemas dalam berbagai format digital, seperti audio dan video, sehingga lebih menarik dan mudah diakses anak-anak yang hidup di era teknologi.
Agar pesan karakter dalam dongeng dapat tersampaikan dengan baik, teknik penyampaian dongeng harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Penggunaan media pendukung seperti boneka, wayang, atau alat peraga visual sangat membantu anak memahami cerita dan karakter tokoh. Intonasi suara, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh juga penting untuk membuat dongeng lebih hidup dan menarik.
Pembentukan karakter anak melalui dongeng sangat relevan dan berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era Society 5.0 yang penuh dengan tantangan teknologi dan perubahan sosial cepat. Berikut beberapa alasan dan contoh relevansinya:
- Dongeng sebagai contoh perilaku yang diingat dan diteladani anak
Adegan dan tokoh dalam dongeng menjadi model perilaku yang mudah diingat anak dan dapat diterapkan dalam interaksi sehari-hari, baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Misalnya, nilai kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab yang diajarkan melalui dongeng dapat membentuk sikap anak dalam kehidupan nyata.
Model Perilaku yang Menginspirasi
Tokoh-tokoh dalam dongeng menjadi panutan konkret bagi anak. Melalui kisah si Kancil yang cerdik atau Bawang Putih yang sabar, anak belajar meniru sikap jujur, kerja sama, dan tanggung jawab, lalu menerapkannya dalam interaksi sehari-hari di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar.
· Nilai Moral yang Membumi dan Kontekstual
Dongeng menyampaikan pesan moral dengan bahasa sederhana dan situasi yang dekat dengan keseharian anak. Nilai seperti disiplin, gotong royong, dan sopan santun tidak hanya menjadi teori, tetapi diinternalisasi dan dipraktikkan dalam kehidupan nyata, membentuk karakter anak yang siap menghadapi tantangan global.
· Pengalaman Belajar yang Menyenangkan dan Berkesan
Dongeng mengubah proses belajar menjadi petualangan imajinatif yang menyenangkan. Anak tidak sekadar mendengar, tetapi juga merasakan dan merefleksikan nilai-nilai karakter, sehingga lebih mudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik saat bermain, belajar, maupun bergaul.
· Penguatan Identitas Budaya dan Nasionalisme
Dongeng lokal sarat dengan kearifan budaya, memperkenalkan anak pada akar tradisi dan identitas bangsa. Dengan demikian, anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bangga dan menghargai warisan budaya di tengah gempuran budaya asing.
· Pembiasaan Positif yang Berkelanjutan
Kebiasaan membaca atau mendengarkan dongeng menanamkan nilai-nilai karakter secara konsisten. Anak terbiasa bersikap disiplin, bertanggung jawab, dan menghormati sesama, sekaligus menumbuhkan minat baca dan memperkaya wawasan emosional serta sosial mereka.
· Pengelolaan Emosi dan Kecerdasan Sosial
Melalui konflik dan penyelesaian dalam dongeng, anak belajar mengenali, memahami, dan mengelola emosi. Mereka juga belajar berempati, bekerja sama, dan berinteraksi positif dengan lingkungan sosialnya
Penanaman karakter melalui dongeng dapat membentuk perilaku positif pada anak seperti rasa ingin tahu, sopan santun, kejujuran, dan rasa tanggung jawab. Anak juga menjadi lebih kreatif dan mampu mengelola emosi dengan baik. Hal ini sangat penting agar anak dapat menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai moral.
Di era Society 5.0, dongeng tetap menjadi media yang efektif dan relevan dalam membentuk karakter anak. Melalui dongeng, anak-anak tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga pendidikan nilai moral yang membentuk kepribadian mereka. Dengan teknik penyampaian yang tepat dan dukungan lingkungan yang kondusif, dongeng dapat menjadi fondasi kuat dalam mencetak generasi masa depan yang berkarakter, kreatif, dan berintegritas.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
