Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Kesabaran dan Keikhlasan

Agama | 2026-07-10 05:37:08

Abdul Hadi Tamba

Kesabaran dan keikhlasan.

Pandangan kami sabar dan ikhlas adalah dua kunci utama untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Keduanya adalah pilar spiritual yang mengubah ketaatan, cobaan, dan ujian hidup menjadi jalan untuk meraih rida serta kedekatan dengan Sang Pencipta.

Dalam pandangan kami, sabar bukan berarti pasrah yang lemah tanpa usaha, melainkan sebuah kekuatan spiritual.

Sabar adalah kemampuan mengendalikan jiwa dan menahannya agar tetap berada di atas tuntunan syariat, baik dalam menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat, maupun saat menghadapi takdir yang pahit.

Ikhlas adalah memurnikan niat semata-mata karena Allah SWT.

Dalam kajian spiritual, ikhlas berarti seorang hamba beramal tanpa peduli pada pujian, celaan, atau imbalan dari manusia.

Ia melupakan bagian dirinya dalam beramal dan hanya memandang rida Allah.

Sumber Dalil Al-Qur'an.

Dalil Sabar:

QS. Al-Baqarah Ayat 153:

Allah SWT menegaskan bahwa kesabaran adalah penolong hamba-Nya dan Dia membersamai orang-orang yang sabar.

Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

QS. Az-Zumar Ayat 10:

Menjelaskan tingginya balasan bagi orang yang bersabar.

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.

Dalil Ikhlas:QS. Al-Bayyinah Ayat 5:

Menunjukkan kewajiban memurnikan ketaatan dalam beragama.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus..."

QS. Al-Kahfi Ayat 110:

Menjadi syarat utama diterimanya suatu amal dan pencegah dari kesyirikan.

Sumber Hadis Shahih Sabar Merupakan Bagian dari Iman:

Rasulullah bersabda, "Kesabaran itu separuh iman.

(HR. At-Tirmidzi).

Kesabaran kedudukannya laksana kepala pada tubuh.

Kekuatan Menahan Diri:

Sabar yang hakiki adalah kemampuan mengontrol emosi di saat marah.

Orang yang kuat itu bukanlah karena pandai main silat, tetapi orang kuat itu ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Amal Bergantung Niat (Ikhlas):

Hadis paling mendasar tentang keikhlasan beramal

Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya.

Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Fatwa dan Pandangan Ulama Muktabar Pandangan Imam Al-Ghazali (Tokoh Hujjatul Islam) Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mendudukkan sabar sebagai separuh iman dan sisanya adalah syukur.

Beliau membagi sabar ke dalam tiga tingkatan dalam tasawuf:

Sabar dalam ketaatan:

Konsisten menjalankan perintah Allah walau terasa berat.

Sabar dari maksiat:

Menahan hawa nafsu dari perbuatan dosa.

Sabar menghadapi musibah:

Menerima ketetapan pahit tanpa keluh kesah.

Dalam hal ikhlas, Al-Ghazali berpandangan bahwa ikhlas adalah membersihkan niat dari segala bentuk Riya' (pamer) atau keinginan untuk mendapat pujian manusia, sehingga yang tersisa hanyalah motif mencari rida Allah SWT.

Pandangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (Syaikhul Masyaikh) Dalam karya agungnya Al-Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haqq, beliau menekankan bahwa sabar adalah maqam (stasiun spiritual) yang wajib dilalui seorang hamba.

Sabar bukan kepasrahan negatif, melainkan kunci untuk meraih kedekatan (qurbah) dengan Allah.

Beliau menyatakan bahwa puncak dari sabar dan ujian kehidupan adalah lahirnya rasa rida dan kedamaian batin.

Pandangan Ibnu Qayyim Al-JauziyyahDi dalam kitab Madarijus Salikin, beliau menjelaskan bahwa ikhlas dan sabar harus berjalan beriringan.

Amal yang tidak didasari keikhlasan akan tertolak, dan perjalanan spiritual tidak akan kokoh tanpa ketabahan (sabar) dalam melangkah menuju Allah.

Sabar dalam ketaatan adalah fondasi untuk bisa istiqomah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image