Mari Belajar Tasawuf
Agama | 2026-07-09 03:29:47Abdul hadi tamba.
Mari belajar tasawuf.
Dalam pandangan kami serta para ulama tasawuf, menolak atau anti terhadap tasawuf berisiko membuat seseorang kehilangan dimensi spiritual Islam (ihsan).
Tasawuf adalah ilmu untuk menyucikan jiwa, membersihkan hati, dan memperbaiki akhlak.
Menolaknya berarti menghalangi diri dari kedekatan spiritual kepada Allah SWT.
Risiko Menolak Ilmu Tasawuf.
Kehilangan Dimensi Ihsan:
Agama Islam terdiri dari Iman (akidah), Islam (syariah/fikih), dan Ihsan (tasawuf).
Menolak tasawuf berisiko membuat agama seseorang menjadi kering dan mekanis, karena hanya fokus pada aturan hukum tanpa diiringi kebersihan hati.
Hati Menjadi Keras dan Kasar:
Tanpa tasawuf, seseorang rentan kehilangan sifat kasih sayang, tawadhu' (rendah hati), dan keikhlasan.
Hati yang tidak dibersihkan akan mudah dihinggapi penyakit seperti sombong, ria, dan dengki.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis Pendukung.
Dari Al-Qur'an:
Penyucian Jiwa:
Allah SWT berfirman bahwa tujuan utama diutusnya Rasul adalah untuk menyucikan jiwa manusia.
Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah)..."
(QS. Ali 'Imran: 164)
Keselamatan Hati:
Allah SWT menegaskan bahwa hanya orang yang datang dengan hati yang bersih (qalbun salim) yang akan selamat di hari kiamat.
Pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."
(QS. Asy-Syu'ara: 88-89)
Kedekatan dengan Allah:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat..."
(QS. Al-Baqarah: 186)
Dari Hadis:
Hadis Jibril tentang Ihsan:
Ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang Islam, Iman, dan Ihsan.
Nabi menjawab tentang Ihsan:
Ihsan adalah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya.
Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis Pentingnya Hati:
Rasulullah SAW bersabda tentang segumpal daging yang menentukan baik buruknya manusia.
"Ingatlah bahwa di dalam jasad itu terdapat segumpal daging.
Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya.
Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya.
Ketahuilah bahwa ia adalah hati (qalbu)."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pandangan Ulama Muktabar.
Ulama ahli fikih dan tasawuf menegaskan bahwa tasawuf dan syariat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Imam Malik bin Anas (w. 179 H):
Beliau berkata, "Barang siapa yang mempelajari fikih namun tidak mempelajari tasawuf, maka ia akan menjadi fasik (rusak agamanya).
Dan barang siapa yang mempelajari tasawuf namun tidak mempelajari fikih, maka ia akan menjadi zindiq (sesat).
Barang siapa yang menggabungkan keduanya, maka ia akan mencapai kebenaran (hakikat)."
(Dinukil dalam kitab Mirqah al-Mafatih karya Mulla Ali al-Qari).
Imam Al-Ghazali (w. 505 H):
Dalam kitab utamanya Ihya Ulumuddin, beliau menjadikan tasawuf sebagai jalan utama untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran batin dan menjadikannya dekat dengan Allah.
Beliau menganggap penyakit hati (seperti sombong dan dengki) adalah dosa besar yang hanya bisa disembuhkan dengan ilmu tasawuf.
Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi:
Dalam kitab Tanwir al-Qulub, beliau mendefinisikan tasawuf sebagai ilmu yang mengetahui keadaan jiwa (baik dan buruk), cara membersihkannya dari sifat tercela, dan menghiasinya dengan sifat terpuji.
Syaikh Ahmad Ath-Thayyib (Grand Syekh Al-Azhar): Ulama kontemporer menegaskan bahwa tasawuf adalah dimensi spiritual dari ajaran Islam (Ihsan).
Menolak tasawuf secara mutlak berarti menolak sepertiga dari ajaran agama Islam itu sendiri.
Para ulama juga memberikan catatan:
Tasawuf yang benar adalah tasawuf yang selalu berlandaskan pada Al-Qur'an dan Sunnah, serta tidak melanggar syariat atau hukum-hukum fikih.
Tasawuf yang menyimpang atau keluar dari syariat adalah hal yang tertolak.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
