Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ddzikrahasanah

Krisis Minat Baca di Indonesia: Ketika Buku Menjadi Barang Mewah

Info Terkini | 2026-07-08 21:04:02

Isu rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sering dikaitkan dengan kemalasan atau minimnya budaya literasi, padahal ada faktor lain yang jarang disorot, yaitu harga buku yang tergolong mahal bagi banyak kalangan. Buku, terutama terbitan baru dari penerbit besar atau buku terjemahan, kerap dibanderol dengan harga yang tidak sebanding dengan daya beli masyarakat menengah ke bawah, sehingga akses terhadap bacaan berkualitas menjadi terbatas.

Ketimbang dianggap sekadar soal kebiasaan, krisis literasi ini sebenarnya berkaitan erat dengan struktur ekonomi penerbitan di Indonesia, mulai dari biaya produksi, distribusi ke wilayah yang tersebar luas, hingga rantai penjualan yang melibatkan banyak pihak sebelum buku sampai ke tangan pembaca. Akibatnya, harga buku menjadi kurang terjangkau, terutama bagi pelajar atau masyarakat di daerah dengan akses ekonomi terbatas.

Sumber: unggahan video di media sosial oleh akun Raine | Bookworm, diakses pada Juni 2026.

Fenomena ini juga sempat ramai dibicarakan warganet di media sosial, seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang ikut mendorong naiknya harga buku menjelang akhir tahun 2026. Sejumlah pengguna membagikan tangkapan layar harga buku yang melonjak drastis, bahkan ada yang menyentuh angka jutaan rupiah untuk satu judul. Meski bersifat anekdotal dan belum tentu mencerminkan kondisi pasar buku secara keseluruhan, unggahan semacam ini menggambarkan keresahan nyata masyarakat terhadap harga buku yang dirasa semakin tidak terjangkau.

Kondisi ini menimbulkan ironi tersendiri, sebab minat baca yang rendah bukan semata soal kemauan, melainkan juga soal kemampuan untuk mengakses bacaan itu sendiri. Ketika harga buku sulit dijangkau, perpustakaan yang minim, dan alternatif bacaan digital pun tidak selalu merata aksesnya, maka wajar jika budaya membaca sulit berkembang secara luas.

Pada akhirnya, mendorong minat baca masyarakat tidak cukup hanya dengan kampanye atau ajakan moral untuk lebih rajin membaca. Perlu ada perhatian juga terhadap aspek keterjangkauan buku, baik melalui subsidi, perluasan perpustakaan, maupun dukungan terhadap penerbit lokal agar bacaan berkualitas bisa lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image