Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Marta

Pentingnya Interaksi Orangtua dalam Pemerolehan Bahasa Anak di Era Digitalisasi

Sastra | 2026-07-06 13:47:32

Bahasa pertama anak diperoleh dalam lingkungan keluarga atau biasa disebut dengan bahasa ibu. Pada usia dini pemerolehan bahasa anak menjadi sebuah kajian penting, kerna bahasa tidak hanya sekedar alat komunikasi namun juga sebagai dasar perkembangan sosial, emosional, akademik, dll. Perkembangan bahasa anak dapat dicirikan sebagai sesuatu yang berkesinambungan, berkembang melalui serangkaian dari ucapan satu kata dasar hingga kombinasi kata yang semakin kompleks, menurut Tarigan (2021:4) dalam AP Ramona (2025). Pemerolehan bahasa anak tidak terjadi secara otomatis, namun dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya seperti lingkungan keluarga, pola asuh orang tua, interaksi soial, serta perkembangan teknologi digital.

Pola asuh orang tua sangat penting dalam perkembangan pemerolehan bahasa anak. Interaksi orang tua dan anak membantu stimulus anak dalam memepelajari bahasa. Cara pengasuhan orang tua mempengaruhi terciptanya lingkungan yang kondusif dalam pemerolehan bahasa, pola asuh demokratis, juga memberikan ruang dan waktu kepada anak untuk berekspresi, lebih efektif dalam mendorong perkembangan bahasa dibandingkan pola asuh otoriter yang biasanya membatasi komunikasi dapat mengambat perkembangan bahasa (Yasmin, 2023). Saat orang tua memberikan kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pendapatnya, bercerita atau bertanya hal ini dapat mengasah kemapuan berpikir dan perkembangan bahasanya secara bersamaan.

Anak sangat aktif dalam menyerap apa yang diucapkan orang di sekitarnya, sehingga anak memiliki sebuah pemahaman makna dari kosakata yang dengar dan dipahami, pemerolehan bahasa pertama merupakan suatu proses dimana anak dapat memperoleh kemampuan bahasa ibunya secara alami, penggunaan bahasa saat komunikasi bersama dengan anak yang menjadikan anak tersebut memperoleh kosakata yang baru dan dapat dipahami maknanya. Proses pemerolehan bahasa anak berlangsung tiga tahapan, yakni: (1) tahap peniruan, (2) tahap memahami makna, dan (3) tahap menggunakan kata dalam komunikasi (Sri Hastuti, 1996) dalam SW putri (2020)

Anak memiliki daya ingat yang cukup kuat tentang sesuatu hal yang dialaminya, anak akan meniru perlakuan orang tuanya, oleh karena itu bahasa pertama yang diperoleh anak adalah bahasa ibunya, anak akan memperoleh bahasa lain atau disebut bahasa kedua dari pihak lain selain orang tua, biasanya dari lingkungan sekitar ataupun pendidikan formal dan non-formal (Panjaitan dkk., 2023) seiring perkembangan digital, penggunaan sosial media sepeti Youtube sudah menjadi hal yang lumrah dikalangan masyarakat dewasa hingga anak-anak. Banyak orang tua memiliki prespektif bahwa penggunaan sosial media menjadi alat yang membantu efektivitas percepatan belajar anak dalam memperoleh bahasa dan berbicara. Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun dibutuhkan pendampingan tetap dari orang tua untuk membatasi dan menghindari kecanduan berlebihan yang dapat meyebabkan kemapuan berbicaranya terhambat. Tontonan dari media sosial bersifat satu arah saja (monolog) yang

dimana saat anak mendengar kata dari layar tersebut, mereka hanya menerima stimulus auditorinya saja dan visual tanpa dituntut untuk memberikan respon balik atau pergantian giliran berbicara dalam melakukan komunikasi. Hal ini juga dapat menjadi lebih parah jika orang tua dan anak sama-sama teralihkan oleh layar digital, ini menyebabkan bahasa tidak bisa diperoleh secara baik dan optimal jika anak pada posisipenonton pasif. tanpa komunikasi dua arah dalam lingkungan keluarga, anak bisa kehilangan stimulus kursial yang meyebab kan rentan mengalami keterlambatan bicara atau speech deley (T Aurelia dkk,. 2022)

Teknologi memiliki peran ganda, di satu sisi teknologi dapat meningkatkan proses belajar dengan memungkinkan anak bisa mengakses beragam informasi yang edukatif dan materi pendidikan secara mudah. Berbagai sarana pembelajaran juga dapat membantu mereka mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Namun, tanpa pengawasan dan bimbingan orang tua saat menggunakan teknologi, risiko tertentu dapat muncul. Sebagai contoh, anak mungkin terpapar konten yang tidak pantas. Mereka juga bisa menjadi kecanduan perangkat dan kurang berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, penggunaan teknologi yang tidak tepat dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik, mental, dan emosional anak. juga bisa menjadi risiko fatal apabila penggunaan teknologi tanpa pengawasan orang tua, (Sigalingging dkk., 2025)

Hal ini menunjukan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan fungsi interaksi manusia, meskipun alam media digital memberikan pembelajaran edukatif membantu dalam memperkenalkan kosakata baru akan tetapi daam pemerolehan bahasa membutuhkan adanya respon balik, intonasi, ekspresi mimik wajah dan emosional yang dirasakan yang tidak dapat sepenuhnya bisa di pelajari dalam media digital. Anak bukan hanya belajar soal kosa kata namun juga bagaimana memahami konteks melalu interaksi. Untuk itu penggunaan teknologi menjadi pelengkap dan media pendukung dalam proses pemerolehan bahasa anak, bukan sebagai media utama yang menggantikan peran manusia.

Atensi bersama antara interaksi manusia adalah ketika orang tua dan anak memfokuskan perhatian pada suatu objek pada kejadian yang sama, didorong oleh isyarat sosial seperti gerakan mata atau gerakan menunjukan (KDP Candra dkk, 2023) misalnya dalam suatu kejadian orang tua dan anak meliahat suatu objek dan orang tua bisa menjelaskan atau menarasikan dengan Intonasi khas, disitulah terjadi sebuah proses pemetaan atau penggambaran tangkap terhadap objek tersebut di dalam otak anak. Keterlibatan orang tua dalam percakapan sehari-hari sangat memengaruhi perkembangan kosakata anak.

Ketika orang tua sering berbicara dengan anak-anak mereka, anak-anak tersebut mengembangkan kemampuan untuk memahami dan menggunakan beragam kosakata yang lebih luas. Hal ini menyoroti peran krusial orang tua dalam membantu anak mengembangkan keterampilan berbahasa. Dengan demikian, orang tua dapat membantu memperluas kosakata anak melalui interaksi verbal yang sering dan berkualitas tinggi. Sesungguhnya, keterlibatan orang tua dalam percakapan sehari-hari dengan anak-anak mereka merupakan hal yang sangat penting.

Pemerolehan bahasa pada anak sangatlah penting bagi perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka kedepannya. Dalam psikolinguistik, anak-anak mengembangkan kemampuan berbahasa yang kuat dengan memanfaatkan potensi bawaan mereka serta berinteraksi dengan orang lain terutama melalui percakapan intensif dan ikatan emosional dengan orang tua. Oleh karena itu, orang tua memegang peranan krusial dalam memfasilitasi

pembelajaran bahasa anak. Mereka dapat melakukannya dengan memberikan contoh penggunaan bahasa yang baik, menciptakan lingkungan yang kaya akan komunikasi, dan secara konsisten berinteraksi dengan anak. Meskipun media digital seperti video edukasi dapat membantu proses belajar, perlu diingat bahwa interaksi langsung tidak dapat digantikan oleh pengasuh elektronik. Penggunaan teknologi harus seimbang dan diawasi untuk memastikan anak tetap terlibat dalam interaksi di dunia nyata. Dengan demikian, perhatian, waktu, dan komunikasi dari orang tua sangatlah penting untuk mendukung pemerolehan bahasa yang optimal. Kolaborasi antara keluarga, pendidik, dan masyarakat, yang dipadukan dengan penggunaan teknologi secara bijak, merupakan kunci keberhasilan perkembangan bahasa pada masa kanak-kanak awal.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image