Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Agung Nurwahid

Secangkir Kopi dan Java: Sejarah Nama di Balik Dunia Pemrograman

Teknologi | 2026-07-05 16:53:46

Kalau mendengar kata Java, kebanyakan orang langsung teringat pada bahasa pemrograman. Padahal, jauh sebelum masuk ke dunia teknologi, kata java sudah lebih dulu dikenal sebagai sebutan untuk kopi. Dalam bahasa Inggris, istilah a cup of java berarti secangkir kopi. Dari sinilah muncul kisah menarik tentang bagaimana dunia pemrograman ternyata punya hubungan yang cukup dekat dengan budaya kopi bahkan dengan Pulau Jawa di Indonesia.

Sejarahnya berawal dari perdagangan kopi. Pada masa kolonial, Pulau Jawa dikenal sebagai salah satu penghasil kopi penting di dunia. Kopi dari Jawa diperdagangkan ke berbagai negara, dan lama-kelamaan nama “Java” ikut melekat sebagai sebutan untuk kopi. Karena itu, di budaya populer Barat, kata java tidak hanya dipahami sebagai nama pulau, tetapi juga sebagai sinonim kopi.

Hubungan ini kemudian masuk ke dunia teknologi pada awal 1990-an, ketika Sun Microsystems mengembangkan bahasa pemrograman baru. Proyek itu dipimpin oleh James Gosling. Awalnya, bahasa tersebut bernama Oak, tetapi nama itu tidak bisa dipakai karena sudah digunakan pihak lain. Tim pengembang pun mencari nama baru, dan akhirnya memilih Java.

Mengapa Java? Salah satu alasan yang paling sering dikaitkan adalah budaya minum kopi di kalangan para pengembangnya. Nama “Java” terasa singkat, mudah diingat, dan punya kesan hangat sekaligus modern. Sejak saat itu, citra kopi pun melekat kuat pada Java, bahkan sampai dikenal lewat simbol cangkir kopi panas yang sering diasosiasikan dengannya.

Java resmi diperkenalkan pada tahun 1995 dan cepat populer berkat gagasannya yang terkenal: write once, run anywhere. Artinya, program yang ditulis dengan Java bisa dijalankan di berbagai sistem operasi tanpa banyak perubahan. Pada masanya, ini adalah terobosan besar yang membuat Java cepat dikenal luas.

Lalu, bagaimana dengan JavaScript? Di sinilah banyak orang sering salah paham. Karena sama-sama memakai kata “Java”, JavaScript sering dianggap turunan langsung dari Java. Padahal, keduanya berbeda. JavaScript dikembangkan oleh Brendan Eich di Netscape dan awalnya sempat bernama Mocha, lalu LiveScript, sebelum akhirnya dipasarkan sebagai JavaScript. Nama itu dipilih bukan karena JavaScript dibuat dari Java, tetapi karena saat itu Java sedang sangat populer, sehingga nama “JavaScript” dianggap lebih mudah menarik perhatian publik.

Jadi, hubungan Java dan JavaScript sebenarnya lebih dekat pada nama daripada struktur teknis. Namun, dari sini kita bisa melihat hal yang menarik: dunia teknologi ternyata tidak sepenuhnya lahir dari istilah teknis yang kaku. Ada sejarah budaya, kebiasaan sehari-hari, bahkan secangkir kopi yang ikut memberi warna.

Pada akhirnya, Java bukan hanya nama bahasa pemrograman. Ia juga membawa jejak sejarah kopi Jawa yang pernah mendunia. Dari kebun kopi di Pulau Jawa hingga layar komputer para programmer, kata “Java” menempuh perjalanan yang panjang. Dan dari secangkir kopi itulah, lahir salah satu nama paling terkenal dalam dunia pemrograman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image