Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image haura Insiyah

Mengapa Gen Z Makin Rentan Depresi?

Guru Menulis | 2026-07-05 03:22:40

Oleh: Arienie

Seperti yang dilansir Kompas.id (18 Juni 2026), Indonesia menghadapi ancaman krisis kesehatan mental pada remaja. Hal ini berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 yang mencatat bahwa 34,8 persen atau sekitar 15,5 juta remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dan 5,5 persen di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental.

Hal senada juga disampaikan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, yang mengungkapkan temuan mengkhawatirkan dari hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026. Data terbaru menunjukkan hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia mengalami gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi yang memerlukan perhatian serius. Program CKG tersebut menyasar sekitar 7 juta anak. Hasilnya menunjukkan bahwa 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak mengalami gejala kecemasan (anxiety disorder), sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder) (Tirto.id, Maret 2026).

Faktor pemicunya pun beragam, mulai dari masa pubertas, perubahan emosional, hingga tekanan sosial yang diperburuk oleh media sosial. Media sosial menampilkan kesenjangan antara realitas kehidupan remaja dengan persepsi, bahkan ekspektasi mereka yang tinggi terhadap masa depan. Ditambah lagi dengan lingkungan yang kurang kondusif, seperti pola asuh keluarga, perundungan oleh teman sebaya, kecanduan internet, masalah ekonomi, serta gaya hidup yang semakin memperpanjang daftar faktor penyebab gangguan kesehatan mental.

Fenomena ini terjadi hampir di seluruh dunia. Ketidakpastian karier dan masa depan membuat banyak remaja dari generasi Z bersikap lebih skeptis. Namun, di tengah kondisi tersebut muncul pula gelombang resistensi yang diprediksi dapat menjadi titik balik bagi generasi ini untuk bangkit dan berkembang.

Krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini dipandang sebagai pemicu utama meningkatnya kecemasan pada generasi Z. Ketidakpastian masa depan, tekanan finansial akibat sulitnya memperoleh pekerjaan yang stabil, serta tuntutan ekspektasi sosial di media sosial membuat banyak anak muda merasa cemas bahkan mengalami depresi. Gangguan kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga oleh lingkungan keluarga, pergaulan, serta sistem pendidikan.

Generasi Z lahir dan tumbuh di era digital sehingga terbiasa memanfaatkan teknologi serta relatif cepat beradaptasi dengan perubahan. Namun, potensi tersebut dapat melemah akibat pengaruh peradaban sekuler-kapitalistik yang mendominasi ruang digital tanpa batas. Media sosial memungkinkan siapa pun memproduksi dan menyebarkan berbagai konten negatif yang bersifat distraktif maupun adiktif bagi generasi muda. Akibatnya, generasi yang memiliki potensi besar untuk berkembang justru berisiko kehilangan arah karena pengaruh media sosial. Dalam pandangan penulis, kondisi ini memerlukan peran negara untuk melindungi generasi muda dari konten-konten yang merusak moral, membahayakan, dan melemahkan kualitas mereka. Namun, dalam sistem kapitalisme, berbagai kebijakan dinilai lebih banyak diukur berdasarkan keuntungan materi.

Generasi muda merupakan aset masa depan peradaban. Karena itu, pembinaannya harus dibangun di atas aturan yang sesuai dengan fitrah manusia, yaitu Islam. Islam membangun generasi melalui sinergi keluarga, masyarakat, dan negara. Pembinaan dimulai dari penanaman akidah sejak dini agar terjalin hubungan yang kuat dengan Allah Swt., sehingga terbentuk kepribadian yang kokoh sejak masa remaja. Selanjutnya, generasi dijaga oleh lingkungan masyarakat yang berlandaskan ketakwaan dan didukung oleh peran negara. Dengan demikian, akan lahir generasi yang tidak hanya terbebas dari depresi, tetapi juga mampu meraih berbagai prestasi.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image