Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image divv

Data Melimpah, Nalar Menghilang

Eduaksi | 2026-07-03 14:02:11

Saat ini, kita hidup di tengah banjir data. Setiap hari kita disuguhi oleh grafik, persentase, hasil survei, hingga klaim “berdasarkan data” di sosial media. Ironisnya, semakin sedikit orang yang benar-benar memahami cara membacanya. Data diposisikan sebagai “kebenaran mutlak” tanpa mempertimbangkan bahwa di balik setiap angka selalu ada proses, asumsi, dan keputusan manusia yang membentuknya.

Gambar Oleh Tung Nguyen dari Pixabay

Fenomena ini juga mulai terlihat di lingkungan kampus. Mahasiswa sering menggunakan data sebagai pelengkap tugas atau penelitian, tetapi belum tentu memahami kualitas data tersebut. Tidak sedikit dari mereka hanya mencari angka yang mendukung argumen mereka, sementara data yang bertentangan diabaikan. Hasil survei dapat terlihat meyakinkan, padahal respondennya tidak mewakili populasi yang sebenarnya. Ungkapan “Data Doesn’t Lie” selalu menjadi tameng untuk memperkuat argumen. Namun harus kita ketahui juga benar bahwa data memang tidak berbohong, tetapi cara manusia memilih, mengolah, dan menyajikannya dapat menghasilkan narasi yang bertentangan dengan kebenaran.

Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh perkembangan AI (Artificial Intelligence). Berbagai aplikasi kini mampu menghasilkan grafik, analisis, bahkan interpretasi statistik hanya dalam hitungan detik. Kemudahan ini pastinya memiliki manfaat, namun juga menyimpan risiko. Ketika mahasiswa terlalu bergantung pada AI tanpa memahami proses analisisnya, mereka perlahan kehilangan kemampuan berpikir kritis. Padahal esensi statistika bukan terletak pada kemampuan menghasilkan angka, melainkan pada kemampuan mempertanyakan apakah angka tersebut layak dipercaya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar di era big data bukanlah kekurangan informasi, melainkan kekurangan nalar untuk memahaminya. Kampus seharusnya memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang mampu mengolah data, tetapi juga mampu mempertanyakan, menafsirkan, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Sebab, data yang melimpah tidak akan berguna jika kita kehilangan nalar kritis terhadapnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image