Dua Hewan, Satu Hati: Mengapa Perlakuan Kita Berbeda?
Kisah | 2026-06-30 23:34:31Seekor kucing liar berjalan mendekati manusia dengan santai. Ia mengeong pelan, menggesekkan tubuhnya ke kaki orang yang bahkan belum pernah ditemuinya. Tak lama kemudian, ada tangan yang mengelus kepalanya atau seseorang yang menyodorkan makanan. Di sudut jalan yang sama, seekor anjing melihat manusia dari kejauhan. Bukannya mendekat, ia justru memilih mundur, menundukkan kepala, bahkan berlari menjauh.
Pemandangan seperti ini bukan hal yang asing di Indonesia. Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa respons mereka bisa begitu berbeda? Apakah memang sifat alaminya, atau justru cerminan dari cara manusia memperlakukan mereka selama ini?
Di banyak daerah di Indonesia, kucing memang lebih mudah diterima oleh masyarakat. Tidak sedikit orang dengan sukarela memberi makan kucing jalanan, menyediakan tempat berteduh, hingga menganggap mereka sebagai bagian dari lingkungan sekitar. Kehadiran kucing sering kali disambut dengan senyum karena dianggap lucu, menggemaskan, dan tidak membahayakan.
Sementara itu, anjing sering menghadapi kenyataan yang berbeda. Kehadirannya tidak jarang dipandang dengan rasa takut, dicurigai, atau bahkan diusir. Banyak anjing jalanan yang tampak lebih waspada ketika manusia mendekat. Tentu kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa semua anjing pernah mengalami kekerasan. Namun, perilaku takut yang ditunjukkan sebagian anjing bisa menjadi tanda bahwa mereka pernah menerima perlakuan buruk atau terbiasa hidup di lingkungan yang tidak ramah terhadap mereka.
Padahal, baik anjing maupun kucing memiliki kemampuan yang sama untuk merasakan lapar, sakit, takut, dan kasih sayang. Mereka sama-sama bisa membangun ikatan dengan manusia ketika diperlakukan dengan baik. Perbedaannya sering kali bukan terletak pada hewannya, melainkan pada pengalaman yang mereka alami sejak awal.
Budaya, lingkungan, dan kebiasaan masyarakat memang memengaruhi cara kita memandang hewan tertentu. Ada yang tumbuh dengan kucing sebagai teman bermain, sementara ada pula yang diajarkan untuk menjauhi anjing. Perbedaan pandangan itu adalah kenyataan yang ada di masyarakat. Namun, perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi pembenaran untuk memperlakukan satu hewan dengan penuh kasih, sementara yang lain dipenuhi penolakan atau bahkan kekerasan.
Menjadi penyayang hewan bukan berarti harus memelihara semua jenis hewan. Tidak semua orang nyaman dengan anjing, dan tidak semua orang menyukai kucing. Itu adalah pilihan. Namun, rasa tidak suka tidak seharusnya berubah menjadi tindakan yang menyakiti. Menghormati kehidupan makhluk lain adalah bentuk empati paling sederhana yang bisa kita tunjukkan.
Pada akhirnya, baik anjing maupun kucing tidak pernah memilih dilahirkan sebagai dirinya. Mereka hanya ingin hidup, mencari makan, dan merasa aman. Mereka sama-sama makhluk hidup, sama-sama ciptaan Tuhan, dan sama-sama layak mendapatkan perlakuan yang penuh kasih.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengukur nilai seekor hewan berdasarkan spesiesnya. Karena ketika kasih sayang hanya diberikan kepada hewan yang kita sukai, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hati mereka, melainkan hati kita sendiri.
Dua hewan, satu hati. Lalu, mengapa perlakuan kita masih berbeda?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
