AI Menjadi Teman Curhat: Apa yang Terjadi dengan Cara Kita Berkomunikasi?
Teknologi | 2026-06-30 11:52:43
Belakangan ini ada kebiasaan baru yang mulai terlihat di tengah masyarakat. Ketika menghadapi masalah, banyak orang lebih memilih membuka aplikasi ChatGPT daripada menghubungi teman, pasangan, atau anggota keluarganya. Mereka meminta saran, bercerita tentang pekerjaan, mengeluhkan hubungan, bahkan mencari dukungan emosional kepada chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI).
Fenomena tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, jika dicermati lebih jauh, yang berubah bukan hanya teknologi, melainkan juga cara manusia membangun komunikasi.
Internet dahulu membantu manusia menemukan informasi. Kini, AI generatif seperti ChatGPT, mulai mengambil peran yang lebih luas. AI tidak lagi sekadar menjawab pertanyaan, namun mampu merespons dengan bahasa yang terasa personal, mengikuti alur percakapan, bahkan memberikan kesan seolah-olah sedang mendengarkan lawan bicaranya.
Perubahan inilah yang membuat AI tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat pencari informasi, namun mulai menjadi teman berdiskusi bagi sebagian orang.
Data menunjukkan bahwa perubahan tersebut benar-benar terjadi. Survei Sentio University (2025) menemukan hampir sebagian pengguna AI yang memiliki gangguan kesehatan mental memanfaatkan chatbot sebagai tempat mencari dukungan emosional. Kondisi yang paling banyak dilaporkan adalah kecemasan, depresi, dan stres. Sementara itu, Bipartisan Policy Center mencatat pertumbuhan aplikasi AI pendamping mencapai sekitar 700 persen sejak tahun 2022 hingga pertengahan tahun 2025. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk kebutuhan emosional bukan lagi fenomena kecil, melainkan bagian dari perubahan budaya komunikasi.
Sebagai mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, saya melihat fenomena ini menarik karena AI tidak hanya menghadirkan teknologi baru, tetapi juga mengubah pola interaksi manusia. Dalam kajian komunikasi, perubahan media hampir selalu diikuti perubahan perilaku komunikasi. Oleh karena itu, peningkatan penggunaan AI sebagai teman berdiskusi bukan sekadar tren digital, melainkan bagian dari transformasi cara membangun hubungan.
Di satu sisi, AI menawarkan berbagai kemudahan. Chatbot tersedia selama 24 jam, tidak menghakimi, tidak menunjukkan ekspresi negatif, serta mampu memberikan respon dengan cepat. Bagi sebagian orang yang sedang mengalami tekanan emosional atau kesulitan mencari teman bicara, kondisi tersebut terasa sangat membantu.
Namun, di sisi lain, kenyamanan tersebut juga membawa konsekuensi.
Komunikasi antarmanusia pada dasarnya tidak selalu berjalan mulus. Ada perbedaan pendapat, salah paham, jeda dalam percakapan, hingga emosi yang tidak selalu mudah dipahami. Justru melalui proses empati, kedewasaan, dan kemampuan memahami orang lain berkembang.
Ketika seseorang semakin terbiasa berbicara dengan AI yang selalu responsif dan mudah menyesuaikan diri, kemampuan menghadapi dinamika komunikasi nyata dapat menurun. Interaksi dengan manusia memerlukan kesabaran, kompromi, dan kemampuan membaca emosi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh algoritma.
Fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan struktur sosial. Dahulu, seseorang yang membutuhkan nasihat biasanya akan berbicara kepada orang tua, sahabat, guru, atau tokoh yang dipercaya. Percakapan tersebut tidak hanya menghasilkan solusi, tetapi juga memperkuat hubungan sosial.
Kini, sebagian proses tersebut mulai dialihkan ke AI.
Brookings Institution melaporkan bahwa jumlah orang dewasa di Amerika Serikat yang memiliki sepuluh teman dekat atau lebih terus menurun dibandingkan beberapa dekade lalu. Pada saat yang sama, pengguna Character.ai rata-rata menghabiskan lebih dari satu setengah jam setiap hari untuk berbincang dengan chatbot. Dua fakta tersebut memang tidak dapat langsung disimpulkan sebagai hubungan sebab akibat, tetapi keduanya menunjukkan kecenderungan yang patut diperhatikan: ketika interaksi dengan manusia berkurang, interaksi dengan mesin justru meningkat.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology (2025) Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendamping AI memang dapat membantu mengurangi kecemasan sosial dalam interaksi virtual. Akan tetapi, ketergantungan yang berlebihan juga berpotensi membuat seseorang semakin canggung ketika harus berinteraksi secara langsung dengan orang lain karena kesempatan melatih keterampilan sosial menjadi semakin sedikit.
Selain mengubah pola komunikasi, AI juga mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.
Jika mesin pencari seperti Google menyajikan berbagai sumber yang dapat dibandingkan, AI biasanya langsung memberikan satu jawaban yang terlihat lengkap dan meyakinkan. Kemudahan tersebut memang membuat proses pencarian informasi menjadi lebih praktis. Namun, pada saat yang sama, pengguna juga berisiko menerima informasi yang kurang tepat jika tidak melakukan verifikasi.
Fenomena halusinasi AI, yaitu ketika AI menghasilkan informasi yang keliru tetapi disampaikan dengan sangat meyakinkan, menjadi tantangan baru dalam era literasi digital. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis tetap diperlukan meskipun jawaban terdengar logis dan tersusun dengan baik.
Pada akhirnya, AI bukanlah musuh komunikasi manusia. Teknologi ini telah membantu banyak orang belajar, bekerja, mencari ide, bahkan memperoleh dukungan awal ketika menghadapi persoalan tertentu. Kehadiran AI justru dapat menjadi pelengkap yang bermanfaat bila digunakan secara proporsional.
Namun, ada satu hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi, yaitu hubungan antarmanusia. Tidak ada algoritma yang benar-benar mampu menghadirkan kehangatan dilingkupnya, dipenuhi penuh empati, atau perasaan dipahami oleh seseorang yang benar-benar peduli.
Oleh karena itu, tantangan terbesar di era AI bukanlah bagaimana manusia hidup berdampingan dengan teknologi. Tantangan yang sebenarnya adalah memastikan bahwa kemudahan berbicara dengan mesin tidak membuat kita kehilangan kebiasaan berbicara dengan sesama manusia.
AI dapat menjadi tempat bertanya, tetapi hubungan antarmanusia tetap harus menjadi tempat kita pulang.
Artikel ini ditulis oleh Adisya Nurlailia Armansyah, mahasiswa S2 Magister Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
