Mengapa Gontor Menjadikan Setiap Kegiatan sebagai Pendidikan?
Agama | 2026-06-23 16:41:27
“Semua kegiatan di Gontor bertujuan untuk pendidikan. Latihan pidato adalah pendidikan, bernyanyi pun pendidikan. Tidak ada waktu sedetik pun yang terlewat kecuali untuk mendidik.”
Pernyataan KH. Hasan Abdullah Sahal dalam Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor menarik untuk direnungkan. Di tengah pandangan umum yang menganggap pendidikan hanya berlangsung di dalam ruang kelas, Gontor justru memiliki cara pandang yang berbeda.
Bagi Gontor, pendidikan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Pendidikan hadir dalam setiap aktivitas, setiap pertemuan, bahkan dalam setiap momentum yang melibatkan para santri.
Tabligh Akbar yang diselenggarakan dalam rangka Peringatan 100 Tahun Gontor menjadi salah satu contoh nyata dari cara pandang tersebut. Sekilas, acara itu tampak seperti kegiatan seremonial yang menghadirkan para ulama untuk memberikan tausiyah kepada masyarakat. Namun jika ditelaah lebih dalam, kegiatan tersebut sesungguhnya mengandung nilai pendidikan yang sangat kuat.
Kehadiran empat ulama dari berbagai latar belakang memberikan pelajaran bahwa pendidikan tidak hanya diperoleh dari buku dan ruang kelas, tetapi juga dari keteladanan para tokoh.
Para santri belajar mendengarkan nasihat, menghargai perbedaan cara penyampaian dakwah, serta memahami beragam perspektif keislaman yang tetap bermuara pada tujuan yang sama, yaitu memperkuat iman dan akhlak.
Pesan yang disampaikan oleh para penceramah juga menunjukkan bahwa inti pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual.
Ustadz Muhammad Fakhrurozi Anshor menekankan pentingnya keikhlasan dan dzikir sebagai fondasi kehidupan seorang Muslim.
Ustadz Luqmanulhakim mengingatkan bahwa kehidupan pesantren merupakan proses pembentukan karakter, bukan sekadar tempat menuntut ilmu.
Sementara itu, Ustadz Das’ad Latif mengajak jamaah untuk mempersiapkan amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir hingga setelah kehidupan berakhir.
Adapun Ustadz Abdul Somad menegaskan pentingnya pesantren sebagai benteng moral sekaligus perekat umat.
Jika dicermati, seluruh pesan tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu pendidikan manusia secara utuh. Pendidikan tidak berhenti pada kemampuan berpikir, tetapi juga menyentuh aspek spiritual, moral, sosial, dan kepemimpinan. Inilah yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan pesantren, khususnya di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba meningkatkan kualitas fasilitas dan sarana pembelajaran.
Hal tersebut tentu penting. Namun, Tabligh Akbar 100 Tahun Gontor mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitas, melainkan juga oleh kekuatan nilai yang ditanamkan kepada peserta didik.
Barangkali, inilah salah satu alasan mengapa Gontor mampu bertahan hingga satu abad. Kekuatan pondok ini tidak hanya terletak pada bangunan, jumlah santri, ataupun luasnya jaringan alumni yang dimiliki.
Lebih dari itu, Gontor memiliki keyakinan bahwa setiap aktivitas adalah pendidikan, setiap pengalaman adalah pelajaran, dan setiap momen adalah kesempatan untuk membentuk karakter manusia.
Karena itu, Tabligh Akbar Peringatan 100 Tahun Gontor bukan sekadar perayaan usia sebuah lembaga. Ia menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk keikhlasan, memperkuat persaudaraan, menanamkan akhlak, dan menyiapkan generasi yang siap mengabdi kepada umat serta bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
